“Kenapa, Pak?” tanya Hisa dengan heran. Bingung melihat bapak-bapak yang tidak dikenal nya datang malam-malam dengan wajah berkeringat. Tidak hanya wajah. Disertai punggung sampai ujung kaki. –Sepertinya begitu.
“Anu, De, bapak kamu sudah pulang?” tanya bapak-bapak tersebut.
“Belum, memang kenapa?” Hisa tanya balik.
“Bapak kamu tadi pergi, mukanya suram. Saya kira mau beli minum atau beli rokok sebentar. Kayaknya sedang stress. Tapi sampai jam segini nggak balik-balik juga, De. Padahal kita lagi butuh bantuan banget.” lanjut bapak tersebut.
“Emang ayah saya pergi dari jam berapa?” Hisa mengira kalau-kalau bapak ini mengarang cerita. Tapi terlalu bagus untuk dikarang kalau cerita yang ia buat seperti kisah nyata.
“Sekitar jam setengah dua, De. Kira-kira kamu tau nggak bapak kamu kemana?”
“Saya nggak tau. Tapi kita cari aja, yuk, Pak!” Hisa merasa agak takut kalau dia akan diculik. Tapi ia tidak yakin akan fikirannya yang itu.
Bapak tersebut berserta Hisa mulai meninggalkan rumah. Hisa meninggalkan kunci dibawah karpet. Mereka mulai berjalan kearah warung-warung dekat rumah dan warung dekat tempat kerja. Tidak ada satupun yang melihat ayah Hisa dari tadi siang. Hisa dan bapak tersebut mulai kebingungan. Sekarang sudah larut malam dan susah untuk berfikir karena badan butuh istirahat. Berfikir keras. Kemana? Dan kenapa?
Mengambil inisiatif untuk pergi ke gereja dekat tempat kerja bapak tersebut, tempat kerja ayahnya juga. Sekarang sudah larut malam dan Hisa sudah jauh dari rumah. –Terdapat dua gereja ditempat itu. Satu gereja mewah yang biasanya hanya didatangi oleh orang-orang kaya, dan satu lagi adalah gereja umum. Gereja umum ini adalah gereja kecil yang dibangun oleh nenek Marie dan kakek Vincent. Biasanya gereja tersebut sering diramaikan oleh anak-anak kampong saat hari raya natal. Biasanya Hisa lebih memilih untuk pergi ke gereja umum yang mulai kumuh itu. Tapi kaki Hisa bergerak kearah gereja mewah yang sama sekali belum pernah ia lihat isinya. Agak ragu untuk masuk. Tapi kakinya seakan memaksa.
Pintu gereja yang besar dan berkilau itu dibuka perlahan, berat. Hisa takut diusir karena pakaian nya yang lusuh tidak sesuai dengan tempat yang ia kunjungi. Tapi apa salahnya? Anggaplah Hisa sebagai tamu special karena ia beda sendiri dari yang lain. –Gereja itu dibangun dua tingkat. Bersih, berkilauan, terang, kosong. Ya, kosong. Seharusnya ada suster atau pastur yang menjaga gereja itu. Tapi Hisa masuk dalam keadaan kosong. Hisa duduk dibagian kursi paling belakang. Menggenggamkan kedua tangan nya, berdoa. Berharap ia akan bertemu ayahnya secepat ia bisa. Dalam keadaan baik-baik saja.
Terlihat satu orang duduk dikursi paling depan. Dilihat dari belakang orang itu sangat mirip dengan ayahnya. Hisa takut untuk mendekati orang itu. Ia berlari keluar untuk memanggil bapak-bapak yang tadi. Menceritakan siapa yang ia lihat didalam gereja. –Rekan kerja ayah Hisa bersama teman-temannya memasuki gereja dan menghampiri orang tersebut. Tidak lain beliau adalah ayah Hisa. Yang sedang duduk tegap tanpa menundukan kepala dengan posisi seorang hamba Tuhan yang setia yang sedang berdoa. Mukanya pucat. Matanya tertutup. Tampak kelelahan.
Semua rekan kerjanya tidak bisa berkutik. Hisa hanya bisa berlutut didepan ayahnya dan membacakan do’a, lalu ia berdiri ke meja pastur. Melihat jadwal piket. Kebetulan hari ini memang gereja sengaja dikosongkan. Apa ayahnya sengaja? Tidak ada yang tahu. Ayahnya sudah pergi dan Hisa harus merelakan nya. –Rekan kerja almarhum ayah Hisa mengangkat jasad nya keluar gereja. Hisa mengikuti dari belakang. Beberapa airmata jatuh dan mengalir dipipinya.
--------------------------------------
Jam 4.13 pagi, lokasi : rumah Hisa.
Rumahnya penuh dengan banyak orang. Rekan kerja, keluarga, beberapa tetangga, dan Michelle serta bodyguardnya. Semua mengitari jasad almarhum ayah Hisa, menangis, berdoa.
“Sa, yang sabar, ya!” kata Michelle serentak mengelus bahu Hisa.
“Nggak apa-apa kok, Chelle. Aku malah seneng beliau meninggal waktu digereja. Bukan waktu lagi sakit atau pas lagi kerja.” Jawab Hisa.
“Itu kaca mata baru? Cieee!” Michelle mencoba membuat hati Hisa kembali riang. Setidaknya tidak semurung sekarang.
“Dari ibu, Chelle.” Hisa menjawab singkat, lalu mengalihkan pandangan mata kearah almarhum ayahnya. “Nanti siapa yang biayain tagihan-tagihan rumah, ya?”
“Tenang aja, Sa. Aku bisa bantu kok dikit-dikit.” Michelle menenangkan Hisa sedikit demi sedikit.
Sekarang jasad almarhum sang ayah siap dibawa untuk dikubur. Tangisan ibu, adik, serta rekan-rekan kerja menyertainya. Membuat Hisa terbawa suasana. Hisa ikut menangis. Michelle mengelus pundak Hisa. Mereka pergi kearah sekolah, meminta ijin untuk tidak masuk selama 3 hari untuk acara pemakaman dan acara keluarga.
“Aku beruntung masih punya Michelle.” pikir Hisa dalam hati. “Tapi siapa yang menemani ibu dan adik nantinya?” mata Hisa berkaca-kaca, bahkan keluar air mata. “Dan siapa yang bisa membiayai tagihan rumah? Hasil kerja Syma sama ibu belum tentu sebesar ayah.” Hisa menangis kencang, menggenggam erat tangan Michelle, mukanya merah, kacamatanya berembun, rambutnya berantakan. Michelle hanya bisa menyuruhnya sabar selama perjalanan kesekolah.
BERSAMBUNG



bagus lho chan :) terus nulis yaaa, hehe
ReplyDeleteyeeeeey thanks a lot ya ka akira :3
ReplyDelete