Hisa terdiam sejenak. Ia ingin mengeluarkan jawaban yang tepat pada Michelle. Tapi sejujurnya, Hisa juga tidak tahu mengapa ia melakukan hal aneh tersebut. Untuk apa ia menyembunyikan buku favorit nya didalam buku pelajaran lain? Takut. Itu dia jawabannya.
Hisa teringat akan kehidupannya saat masih duduk dikelas 3 SD. Terbayang ada seorang perempuan kecil yang berpegangan tangan dengan ibunya yang sedang berjalan-jalan ditoko buku, pinggir jalan. Ibunya berjalan kearah buku-buku resep, mengambil 1 buku, melepas tangan Hisa. Perempuan kecil itu berlari ke arah buku-buku lainnya. Pertama ia melihat buku matematika. Perempuan itu membukanya, ingin muntah. Apa itu kuadrat? Apa itu pangkat? Apa yang dimaksudkan dengan 1 kali 1 sama dengan 1. Bagi perempuan itu, melihat angka-angka yang diotak-atik sangatlah tidak penting. ---Perempuan itu melihat kebuku lainnya. Banyak sekali anak-anak kecil yang berkumpul ditempat itu. Buku biologi, bercerita tentang kehidupan manusia, bercerita tentang alam sekitar yang udah dimengerti. Perempuan itu tidak tertarik. Lalu ia beralih ke rak buku sebelahnya, buku seni budaya untuk anak kelas 2 SD. Terpaku disitu, mengambil bukunya, membuka lembar perlembar, menghayati, terkagum-kagum.
“Hebat, ya! Ternyata hijau itu asalnya dari kuning dicampur biru, keren!” kata anak kecil tersebut, mengalihkan pandangan orang-orang pada dirinya.
Ditertawakan.
Anak perempuan tersebut dianggap aneh, freak, dan autis. Beda dari yang lain. Dibilanng ‘norak’ karena baru tahu akan materi dasar seperti itu. Tidak ada yang tahu bahwa perempuan itu adalah perempuan yang sangat tidak mampu. Seandainya mereka tahu, mereka tidak akan mentertawakan dan akan memaklumi.
Perempuan itu menangis, berlari kearah ibunya. Itulah Hisa saat kecil. Hal itulah yang membuat Hisa sembunyi-sembunyi.
“Sa?” Michelle mengagetkan Hisa untuk kedua kalinya.
“Nggak apa-apa kok, Chelle. Udah kebiasaan. Soalnya kan buku seni kayak begini kan tipis, nah aku nggak kebiasa megang buku tipis, makanya aku dobel. Biar tebel.” jawab Hisa.
“Ooh, kirain kenapa, haha. Kamu mau beli apa, Sa? Aku bayarin. Aku mau beliin ini nih buat kamu, buat gambar-gambar. Jangan mikirin Kella lagi, bikin aja gambar yang lain.” kata Michelle.
Hisa tersenyum kecil, tidak membeli apa-apa, dan langsung pergi ke kasir. Naik kemobil dan pergi kerumah Michelle dan mulai membuat kliping baru. Hisa membuka laptop Michelle dan mulai membuat kliping baru. Michelle pergi kedapur untuk membuatkan Hisa minum. Sangat lama. Jarak dari kamar Michelle dan dapur sagat jauh. Beginilah rumah Michelle. Besar, luas, membuat Hisa bingung mencari pintu keluar, terlebih lagi ia sekarang sedang tidak memakai kacamata. Hisa bertujuan akan melanjutkan klipingnya. Tangan nya keringat dingin. Gemetar. Takut-takut isi kliping yang baru mirip atau sama persis seperti milik Kella. Tidak harus mirip dengan Kella. Siapapun orangnya, ia takut.
“Sa, minum dulu. Eh kok nggak mulai ngetik?” Michelle datang sambil membawa 2 gelas orange juice diatas nampan dengan gelas yang super cantik dan antik. Membuat Hisa teringat dengan rumahnya yang beda jauh dengan rumah Michelle.
“Chelle.” Hisa bingung bagaimana cara membatalkan acara pembuatan kliping yang baru. “Kayaknya aku nggak akan jadi bikin klipingnya, deh.” jantung Hisa berdebar-debar. Biasanya Michelle bisa marah jika Hisa meng-cancel obsesinya seperti dulu. Dulu Hisa pernah bertujuan mengikuti lomba puisi, tapi tidak jadi karena Hisa takut kalah, dan Michelle marah karena itu. Dan sekarang, jika ia batalkan membuat kliping ini dengan alasan “takut”, Hisa takut Michelle marah lagi.
“Sumpah, Sa, yang bener aja! Gue udah semangat-semangat nih pengen ngeliat kliping baru lo kan pasti keren banget!” kata Michelle dengan semangat. Bahasanya mulai kasar bagi Hisa, pertanda Michelle kecewa.
“Ng...Nggak usah deh, Chelle. Aku agak nggak enak badan. Aku pulang aja ya, Chelle.” Hisa meneguk orange juicenya dan beranjak dari tempat duduk. Mengambil tas dan kantong pelastik berisi peralatan gambar yang baru saja Michelle beli untuknya.
Michelle tampak sangat kecewa. Tapi ia tertawa kecil.
“Chelle, pintu keluarnya yang mana?” Hisa kembali ke kamar Michelle dengan muka merah. Michelle tertawa terbahak-bahak.
“Makanya nggak usah sok-sok kabur dari kliping deh, Sa. Bingung kan kamu gimana cara keluarnya?” Michelle melanjutkan tertawanya. Hisa merasa terjebak dilabirin. Mereka berdua sama-sama tertawa.
Tidak ada pilihan lain. Hisa harus melanjutkan pekerjaannya. Michelle melihat Hisa yang sedang mengetik dengan serius. Michelle pergi kekamar mandi untuk ganti baju. Beberapa saat kemudian terdengar Hisa berteriak.
“YAH! MICHELLE! KOK KOMPUTER LIPET NYA MOGOK?!”
BERSAMBUNG KE PART 4



No comments:
Post a Comment