sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Wednesday, September 9, 2009

part 4 (1.2)

Michelle jalan terloncat-loncat dari arah kamar mandi menuju kearah kamar. Takut-takut yang Hisa maksud dengan “komputer lipet” adalah laptopnya patah lalu “mogok” nya adalah, laptopnya rusak.


“Kenapa sih, Sa?” tanya Michelle lari-lari licin kearah Hisa, kakinya masih basah akibat baru saja selesai cuci kaki dari kamar mandi. “Apa nya yang kelipet? Apa nya yang mogok? Laptopku rusak, Sa? Ah demi apa lo bisa rusak?” Michelle menarik laptopnya.


“Nggak ada yang kelipet kok, Chelle. Ini namanya komputer lipet kan? Nah ini nih yang mogok, masa tanda panahnya nggak bisa digerakin?” kata Hisa dengan polos.


“Ya Allah, Sa. Ini namanya tuh laptop. Terus ini bukan mogok namanya tapi error. Not-res-pon-ding. Kalau yang kayak begini didiemin sebentar juga nanti udah bisa dipake lagi kok.” Michelle mulai tenang.


“Haha, oke deh, Chelle. Terus kamu kenapa make baju terbalik?” Hisa tertawa kecil melihat Michelle yang menggunakan baju terbalik.


Wajah Michelle berubah merah. Sekarang Hiisa tertawa terbahak-bahak dan melanjutkan klipingnya sementara Michelle memperbaiki posisi bajunya. –Michelle kembali dari kamar mandi membawa dua buah burger dan coca-cola.


Hisa terliihat serius mengerjakan kliping barunya. Terlihat sangat hati-hati saat mengetik, dan terlihat sangat lama. Sangat lama. Seakan-akan disetiap huruf terdapat bakteri yang membuat Hisa takut untuk menyetuhnya. Michelle baru menyadari sesuatu.


“Sa, emang kamu bisa ngetik nggak pake kacamata?” tanya Michelle.


“Makanya nih, Chelle. Susah banget! Makanya dari tadi aku pelan-pelan banget, soalnya takut ada yang salah ketik.” jawab Hisa malu-malu.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bekerja sama. Sambil Hisa makan sambil men-dikte-kan kepada Michelle apa yang harus ia tulis. Mengetik bergantian, tetapi lebih banyak Michelle yang mengerjakan. Ini adalah salah satu guna seorang teman. Membantu satu sama lain. Bukan mentertawakan temannya yang sedang kesusahan.


Kliping yang baru selesai dengan jumlah 13 halaman. 13, angka yang paling Hisa benci. Hari ulangtahunnya, hari dimana ia difitnah Kella dan kena bentak guru seni rupa. Hisa ingin menambahkan halaman ke-14 dengan gambar-gambar, tapi ia takut akan dikritik. Selesai mengerjakan kliping, Hisa pamit dari rumah Michelle, pulang diantar mobil alpardh yang besar dan luas. Sejujurnya Hisa merasa tidak enak, tapi karena Michelle memaksa, Hisa harus melakukannya.


Hisa diturunkan di depan gang rumah. Mobil alpardh yang besar itu tidak muat unntuk memasuki gang rumah Hisa yang sangat kecil. Ia berjalan kaki sampai kerumah. Hisa membuka pintu rumahnya. Ia masuk dan mencari adik serta ibunya tercinta. Rumah itu kosong. Seakan tidak pernah dihuni sebelumnya. Lampu kamar mandi mati, tidak mungkin ada yang berani masuk kamar mandi sore-sore tanpa lampu yang dinyalakan. Semua lampu mati, tidak ada tanda-tanda kehidupan didalam rumah itu. Angklung bertebaran dilantai yang sempit. Perasaan Hisa tidak enak. Ia takut terjadi sesuatu pada ibunya.


Telfon.” bisik Hisa pada dirinya sendiri.


Sekarang Hisa mulai keringat dingin. Jantungnya berdebar-debar. Sebelumnya Hisa tidak pernah merasakan hal yang seperti ini. Andaikan ia masih memiliki kacamatanya, ia bisa pergi keluar rumah sesuka hati, kemanapun ia mau, mencari kedua orang penting tersebut.


Hisa ingin mencari pertolongan dari Michelle. Terlalu jauh. Tidak punya alat komunikasi, tidak punya uang koin untuk pergi ke tempat penelfonan umum. Dan tidak punya kacamata agar bisa berjalan dengan elas disore hari yang gelap. –Hisa kembali melihat kearah kamar mandi, benar-benar tidak ada orang. Sekarang Hisa sangat ketakutan. Kakinya lemas dan ia tidak tahu harus berbuat apa. --Seakan-akan Hisa kesurupan atas ketakutanyna sendiri, tangannya bergerak sendiri. Mengambil kertas gambar yang baru saja diberikan Michelle. Mulai menggambar, serentak dengan pintu rumah yang terbuka dengan sendirinya. Membangunkan Hisa dari kesurupannya.



BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment