Perjalanan lumayan lama. Michelle sempat tertidur dimobil walaupun cuma sebentar. Tebangun lagi karena polisi tidur tinggi ditengah jalan. Sepanjang jalan Hisa dan Michelle tidak bicara. Semuanya kelelahan.
Mereka berdua sampai dirumah. Turun dengan mata 5 watt dengan membawa banyak belanjaan. Michelle menuntun Hisa untuk jalan kekamarnya. Rumah Michelle mengingatkan Hisa pada ayahnya, bangunan ini mirip dengan gereja tempat kematian ayahnya. Bangunan yang sepi, bersih, berkilauan, kosong, terang. Hisa berusaha melupakan ayahnya. Berusaha fokus dengan apa yang akan ia lakukan bersama Michelle. Misi ini harus terjalankan. Hisa harus membantu keluarganya mencari uang agar tetap hidup. Tidak mati kelaparan, tidak mati terbengkalai.
Sesampai dikamar Michelle segera kekamar mandi untuk ganti baju sementara Hisa menyiapkan alat-alat lukis. Mereka akan mulai membuat lukisan canvas terlebih dahulu. Semua alat lengkap diatas lantai. Cat acrylic, cat minyak, minyak, kuas, palet, semua tersusun rapih, legkap satu beda 2 pasang, satu untuk Hisa, satu untuk Michelle.
“Aku beruntung punya teman yang baik seperti Michelle.” batin Hisa. “Baik, cantik, tidak sombong, rela membantu temannya yang sedang kesusahan.” Hisa masih melanjutkan menata alat-alat lukisnya diatas lantai.
Michelle datang dengan baju daster tangan panjang dan selutut dengan rambutnya yang dikuncir poni. Sangat cantik. Hisa melihat kearah kaca besar berukuran setengah tembok di dinding kamar Michelle. Seperti tuan putri dan pembantunya. Tuan putri berhati ibu peri dan pembantu yang sangat persis dengan itik buruk rupa. Hisa iri.
“Tapi jujur aku iri dengan apa yang Michelle punya.” kata Hisa dalam hati. “Sekalipun aku bisa berkumpul dengan mama, Syma, atau ayah kapanpun aku mau, aku tetap miskin dan selalu dipojokan.” sekarang Hisa mulai memaki. “Kata Michelle aku cantik, Michelle lebih catik kok. Kalau aku cantik kenapa aku tidak bisa punya banyak teman seperti Michelle?” Hisa iri. “Enak banget Michelle bisa jadi orang kaya berkat ayahnya. Walau tidak bisa bertemu setiap hari.” Hisa mengambil pensil lalu mulai menggambar sketsa di atas canvas.
“Sa, air buat nyuci kuas nya udah kamu ambil belum?” tanya Michelle mengagetkan lamunan Hisa.
“Eh, belum, Chelle.” Hisa kaget setengah malu. Apa yang sudah ia pikir tadi? Iri? Yang benar saja. Untuk apa iri pada teman sendiri?
Apa ini yang namanya melengkapi? Mungkin iya. Seseorang yang kaya membantu seseorang yang miskin. Itu yang namanya melengkapi. Hisa teringat dengan dirinya ketika berumur 7 tahun. Banyak sekali kenangan yang teringat hari ini. Hisa tersenyum kecil, menghapus sketsanya dan membuat yang baru.
“Sa, kamu bikin gambar apa?” tanya Michelle yang sedang asik menggambar di atas canvas. Terlihat seperti anak TK yang sedang bergembira karena waktu mencorat-coret telah tiba.
“Gambar kucing, Chelle. Hehe. Kamu?” Hisa balik bertanya.
Kucing, bukan sekedar kucing dengan bulu yang banyak sedang berdiri lalu diberi warna latar belakang. Melainkan dua kucing berbeda dengan jenis yang berbeda. Kucing kampung dan kucing anggora yang sedang diajak jalan-jalan bersama majikannya. Kucing kampung itu terluka dan kucing anggora berusaha mendekatinya, sayang... kucing anggora itu ditarik lagi oleh sang majikan.
“Beruang, Sa. Hehe, gambarku jelek banget tau nggak? Huu.” Michelle berkata dengan polos.
Terlihat dua beruang yang sedang berpegangan tangan diatas rumput. Mencerminkan tentang persahabatan. “Seharusnya Michelle membuat beruang yang satunya seperti beruang yang baru dilindas truk.” pikir Hisa. “Biar persis.” lalu Hisa tertawa kecil. Mentertawakan dirinya sendiri.
“Kenapa, Sa? Sakit?” Michelle bertanya heran.
“Nggak lah, Chelle. Aku cuma mikir hal aneh doang. Eh emangnya mama kamu nggak marah kalau kamu temenan sama orang kayak aku? Aku kan dekil.” entah kenapa kalimat terakhir yang Hisa ucapkan bisa keluar dari mulut begitu saja.
“Nggak, aku kan sering cerita tentang kamu, mama malah suka orang kaya kamu dari pada... hem... siapa ya? Dari pada orang kaya Kella. Terlalu sok-sok gimanaaaaa gitu kesannya.” jawaban Michelle melegakan hati Hisa. Memang selama Hisa main kerumah Michelle ibunya selalu tidak ada ditempat. Tapi sekarang Hisa akan menginap dan ia takut diusir.
Dua jam berlalu tanpa ada diskusi. Mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing. Yang terdengar hanya bunyi kuas yang jatuh dan gesekan antara kuas dengan canvas. Dan dalam dua jam itu pekerjaan mereka selesai.
“Chelle, gambarku udah jadi!” Hisa tersenyum senang karena hasil lukisan canvas nya memuaskan, walau tidak terlihat seperti lukisan pelukis profesional.
“Ih bagus tau, Sa. Jual aja! Kalau punyaku kayak gini.” Michelle menunjukan hasil gambar nya yang membuat Hisa sesak nafas.
“Curang.”
BERSAMBUNG KE PART 7



No comments:
Post a Comment