“Sa, tolong ya kamu ambilin es batu, kain, sama tisu dimanapun kamu dapet pokoknya tolong cariin ya, Sa. Cepetan, ya!” ibunya datang dengan nafas yang tidak teratur.
Hisa terbelalak melihat ibunya. Matanya membesar melihat darah yang mengucur dari kaki adiknya, adiknya yang sedang digendong ibunya. Cepat-cepat Hisa meninggalkan lukisannya dan pergi keluar rumah. Meninggalkan lukisannya yang berupa gambar neraca patah dah keluar darah dari neraca tersebut. Seakan-akan lukisan itu bercerita tentang adanya ketidak adilan yang menimbulkan air mata darah. Atau darah dari kaki adiknya yang sedang mengucur saat ini.
Hisa kembali dengan satu balok es besar dengan kain hitam yang entah dari mana asalnya, dan tidak ada tisu. –Ibunya segera mengikatkan balok es situ ke kaki Syma yang sedang berdarah. Syma merintih kesakitan. Darahnya tidak bisa membeku, tidak bisa secepat yang diinginkan. Hisa melihat kearah ibunya, dibagian pelipis ibunya terdapat goresan merah. Seperti dicambuk.
“Bu, emangnya pada abis dari mana sih? Kok bisa jadi begini?” Hisa agak ragu untuk menanyakan hal ini. Tapi ia ingin tahu.
“Kita lagi coba cari duit. Terus ya….begitulah.” ibunya menjawab dengan bibir pucat.
“Cari duit buat apaan, Bu?
“Bukan buat makan, Ka.” Syma menjawab. “Tapi buat kacamata kakak yang baru.” Syma kembali merintih kesakitan. “Harapan ibu, kakak bisa tetep belajar terus bisa cari duit buat nanti-nanti kalau ibu sama ayah udah nggak ada.”
“Hus! Jujur banget sih kamu!” kata ibunya yang masih terus menggenggam es balok sambil mengelus kaki Syma.
Hisa merasa sangat bersalah. Anak sial. Menyusahkan. Seandainya waktu itu kacamata Hisa tidak akan pecah, Hisa tidak perlu merepotkan banyak orang seperti ini. Lagi pula masih ada Michelle yang bisa membantu Hisa, walaupun tidak setiap saat.
“Yah…maafin Hisa, ya? Sebenernya kalau nggak ada kacamata, Michelle masih bisa bantuin Hisa.” Hisa tergagap-gagap, bingung harus bicara apa agar bisa dimaafkan.
Suasana menjadi sunyi.
“Udahlah nggak apa-apa. Lagian kita juga nggak mau terlalu ngebebanin ayah, Sa. Kita udah dapet nih kacamatanya, sama persis kayak punya kamu yang dulu.” sang ibu memecahkan kesunyian.
Hisa tersenyum, dan masih merasa bersalah. Menerima kacamata baru yang diberikan ibunya, lalu melihat kearah adiknya. Adiknya tertidur dikursi, kelelahan. Ibunya menguap, ikut tertidur sambil memegang kaki Syma. Es balok yang besar itu mencair. Warnanya berubah merah bening karena darah yang ikut mengalir bersama aliran es yang mencair.
Melihat keluar jendela. langit sudah berubah menjadi warna hitam kebiru-biruan. Teringat akan masa kecilnya yang masih berjaya. Semua serba ada, semua serba enak. Disaat ayahnya masih menjadi seorang pejabat. Disaat ia belum tahu apa arti dari kerja keras. Sampai akhirnya kejayaan itu runtuh. Tanggal 4,
Teringat akan Michelle. Kejadiannya hamper sama persis seperti ayahnya. Ayah Hisa dan temannya mulai berteman dekat sejak kelas satu SMA. Selalu bersama, saling membantu. Tapi saat teman sang ayah iri akan kemampuan sang ayah, teman itu bisa berkhianat. Apa Michelle akan melakukan hal yang sama?
Sekejap Hisa terdidur, ketakutannya terbawa mimpi. Pada saat yang sama ia kira ia bermimpi ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Hisa tebangun. Ternyata yang mengetuk pintu rumahnya bukan didalam mimpi.
“Siapa diluar?” Hisa teriak dari dalam rumah. Bayangan orang diluar bukanlah bayangan ayahnya yang bau pulang kerja
BERSAMBUNG KE PART 5



No comments:
Post a Comment