sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Saturday, September 5, 2009

part 2 (2.2)

“ANASTASYA!” terdengar suara mengerikan dari depan pintu kelas. Hisa berhenti berjalan dan kini ia tidak merasa ingin pergi kekamar mandi. Dia merasa ingin terjun dari lantai 3. Hisa memutar balikan badan nya dan berjalan kearah kelas. Semua orang memandang kearahnya. Kakinya gemetar, punggungnya keringat dingin, matanya berair, mulutnya kering dan tertutup rapat, seakan-akan Hisa sedang memainkan film horror dikehidupannya.


“Apa maksud kamu dengan membuat gambar ini?” tanya guru seni rupa tersebut. Hisa terdiam, ia berharap bisa memutar balikan waktu dan menyimpan kertas gambarnya baik-baik.


“Latihan, Pak. Eh, iseng.” Jawab Hisa gemetar, ingin melawan, tetapi ketakutan.



“Lalu apa maksud tulisan dibawah ini?” tanya beliau. Muka guru tersebut ditekuk berbanyak-banyak bagian. Menyeramkan.



“Harapan?” jawab Hisa singkat, membuat guru tersebut tidak bias membalas perkataan tersebut.



Guru itu bertanya-tanya. Selama ia mengajar tidak pernah ada murid yang terus-terusan berharap agar nilainya bias diberi nilai plus darinya. Kecuali manusia satu ini. Sang guru ingin melanjutkan pertanyaan serta bentakan. Tapi ia terdiam. Semua murid melihat mereka berdua. Tiyo dan Teyo baru pertama kali melihat guru tersebut terdiam karena omongan seseorang. Mulut guru tersebut terbuka kecil. “Harapan.” Sebelumnya tidak pernah ada murid di SMA tersebut yang berharap mendapatkan penambahan nilai lagi setelah dibentak. Beliau bahkan sudah membentak Hisa lebih dari 3 kali. Apa yang bisa membuat membuat perempuan ini tidak berhenti berharap? Apa melukis salah satu hobi nya? Maka karena itu ia ingin mendapat nilai bagus? Tidak, tidak ada yang tahu apa hobi Hisa sebenarnya. Yang orang-orang tahu, Hisa adalah perempuan gila yang kutu buku.


“Harapan macam apa ini?” guru tersebut melempar kertas gambar Hisa kembali ke meja. “Tidak ada satupun siswi ataupun siswa yang masih bias berharap setelah saya bentak lebih dari 3 kali agar mendapat nilai bagus.” guru tersebut berharap Hisa menjawab agar beliau punya alasan untuk marah. “Lebih baik murid macam kamu berhenti berharap karena saya tidak akan tergugah atas hasil kliping kamu yang akan kamu buat nanti.” beliau terdiam sebentar. Berharap Hisa akan menjawab sesuatu, tetapi Hisa diam, menunduk, tidak berkaca-kaca. “Ingat kata-kata saya, kamu tidak akan mendapatkan nilai tambahan, sebagus apapun klipingmu.” guru tersebut pergi.



Teyo dan Tiyo berdiri dari tempat duduk. Mengambil kertas gambar Hisa bersamaan. Terkagum-kagum,


“Bego sih lo pake nulis kayak begini segala!” bentak Tiyo



“Keren juga sih bias bikin si killer pelit gagap-gagap.” kata Teyo.


Hisa tersenyum. Ia sekarang tahu bahwa nilai C- bukan salahnya. Ini semua hanya kesalahan guru aneh dan pelit yang tidak mau member nilai bagus pada muridnya. Sekarang Hisa tahu rahasia guru tersebut. Hisa akan membuat guru tersebut luluh.


Michelle menghampiri Hisa. Michelle menduga-duga Hisa akan menangis, Michelle salah, Hisa tersenyum lebar.


“Kamu? Nggak apa-apa, Sa?” tanya Michelle.


“Nggak apa-apa. Justru aku seneng banget.” jawab Hisa dengan muka bersinar. “Nanti aku kerumah kamu lagi ya? Aku mau bikin kliping yang baru, hehe.” lanjut Hisa.


Michelle ikut senang. Ia melirik kea rah kertas gambar yang masih ada di genggaman Tiyo dan Teyo. Michelle mengerti apa yang terjadi.


“Nanti temenin aku ke geramedia dulu ya, aku mau beliin kamu sesuatu.” Michelle kembali duduk dikursi. Hisa kembali berjalan ke kamar-mandi.


Dihari itu juga pertengkaran Hisa dan guru seni rupa killer menjadi HOT NEWS disekolahnya. Anak mading dari kelas IPA-3 berulah. Hisa tidak murung seperti biasanya. Karena ada Michelle dihari itu. Dan sepertinya Michelle akan membelikan Hisa sesuatu yang akan membuat Hisa melayang.


Pulang sekolah, seorang anak perempuan cantik dengan rambut shagy panjang diblow kedalam menghampiri Hisa dan Michelle. Salah satu teman Michelle, tidak terlalu dekat. Cantik, putih, gaul, memakai softlens warna hijau, rambut hitam pekat berkilauan. Mengira Michelle akan ditarik perempuan tersebut dan meninggalkan Hisa sendirian. Tapi tidak seperti yang dikira. Perempuan cantik itu dating menghampiri Hisa, seakan tidak ada Michelle disebelahnya.


“Kella!” sapa Michelle, tidak seperti biasanya Kella memasang wajah dingin seperti itu.


“ Hai, nyonya Anastasya.” Kata Kella dingin. Matanya seperti orang yang siap melakukan criminal pembunuhan. “Berhenti mengcopy pekerjaanku.


Hisa dan Michelle kebingungan. Kella, anak IPA-2 berkata bahwa Hisa meniru pekerjaan Kella yang sama sekali tidak Hisa kenal.

BERSAMBUNG KE PART 3

No comments:

Post a Comment