sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Thursday, September 17, 2009

part 6 (1.2)

Harinya untuk pulang. Hisa dan Michelle pulang dengan mobil Michelle, sedangkan ibu Hisa dan Syma naik bus kota. Bukan berarti karena tidak ada ayah Hisa jadi tidak ingin bersama ibunya lagi. Tapi ia punya misi. Bersama Michelle. Mereka akan jalan menuju daerah yang jauh dari rumah Hisa untuk membeli peralatan lukis yang baru, dan banyak. Tentu saja dimodali oleh Michelle yang baik hati. Mereka akan pergi menuju sebuah pertokoan yang menjual alat-alat seni dengan harga murah dan sangat terjangkau.

“Mau bikin apa aja nanti, Sa?” tanya Michelle mengagetkan Hisa yang sedang menaik-turunkan kacamata yang membuat matanya semakin pusing. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu tapi Michelle tidak tahu apa.


“Guci, lukisan canvas, lukisan kain, batik… mungkin, telur, apa lagi? Punya ide? Tolong.” jawab Hisa, sepertinya ia gugup akan misinya.


“Nggak, otakku mentok. Yakin kamu bisa bikin semuanya? Kamu kan belum pernah nyoba bikin, Sa.” Michelle takut perkataan nya membuat Hisa down. Tapi ia juga perlu menyadarkan Hisa kalau sampai-sampai semua alat yang sudah dibeli hasilnya sia-sia.


“NAH ITU DIA!” Hisa terloncat dari duduknya yang menghadap lurus kedepan menjadi menghadap kesamping, kearah Michelle. “Aku juga bingung, Chelle. Tapi masalahnya aku juga harus dapet uang secepet mungkin. Nah terus masalah bagus atau nggak nya ya….. Aku pede aja deh, Chelle.” Hisa mulai putus asa, tapi berusaha bangkit. Bibirnya pucat karena gugup.


“Jangan lupa berdo’a aja ya, Sa.” Michelle menenangkan Hisa. Masih ada harapan kalau kita berdoa. Banyak harapan.


Mobil Michelle belok ketempat yang penuh dengan orang-orang sibuk disekitarnya. Sibuk membuat guci, sibuk membatik, membuat lukisan, melukis dikaca, dan aktifitas kerajinan tangan lainnya. Sepiiiii sekali. Tidak ada suara musik kecuali suara radio didalam mobil Michelle. Bahkan Michelle berfikiran suara radionya bisa terdengar sampai keluar mobil. Yang benar saja, tidak mungkin kan se-sepi itu? Tapi yang terdengar jika suara radio dimatikan memang hanya suara ketukan paku-palu, suara berputarnya meja guci, suara air yang menggelembung karena sedang dipanaskan untuk wanteks, dan suara nafas berat orang-orang yang sedang bekerja.


Dari mana Hisa tau tempat ini? Setau Michelle Hisa tidak pernah keluar rumah sejauh ini. Karena lokasi ini sangat jauh dari rumah Hisa. Dan Michelle yang sering keliling-keliling daerah juga tidak pernah kedaerah ini. Setau Michelle beberapa tahun yang lalu daerah ini ditutup. Tapi sebelumnya pun Michelle tidak tahu tempat apa ini. Kenapa Hisa bisa tahu tempat ini sudah dibuka lagi?

Mereka sampai pada tujuannya. Ditempat itu dijual banyak sekali pealatan seni yang sangat murah. Michelle tidak pernah melihat canvas dengan kualitas bagus semurah itu. sepuluh ribu rupiah untuk canvas bagus berukuran 50x60 cm? Kalau Michelle bisa melukis, Michelle akan selalu belanja disini, bahkan ia berfikiran untuk menginap.


“Kamu mau beli yang mana, Sa?” tanya Michelle dengan muka cerah. Sekalian rasanya ia ingin belanja kain-kain batik yang dijual disini untuk ia design menjadi bajunya sendiri. Time for shopping.


“Aku bingung, Chelle. Semuanya bagus buat dijadiin objek.” kata Hisa diluar mulut. Batin Hisa, ia sangat ingin membeli semuanya, tapi ia takut menyusahkan Michelle. Semua bagus, semua murah. Sekaya-kaya Michelle. Itu uangnya dan sebagi teman Hisa tidak boleh memanfaatkannya.


“BORONG SEMUAAAA!” Michelle teriak seperti orang gila ditengah-tengah kesepian, mengalihkan pandangan orang-orang sekitar kearahnya lalu semua oang tertawa. Termasuk Hisa.


Michelle mengambil canvas dengan kualitas yang paling bagus, berukuran ia ambil satu. Cat acrylic, cat minyak, minyak, kuas, guci, kain, peralatan untuk membuat batik, semuanya ia beli dengan harga murah. Hisa terbelalak. Michelle tidak pernah menyukai yang namanya seni lukis tapi ia mau membelikan Hisa semua ini tanpa Hisa minta. Inilah rejeki dari seorang teman, Hisa sangat beruntung mempunyai Michelle.


“Biasanya kalau udah murah-murah kayak begini mamaku bisa beli banyak banget, Sa. Sayangnya ama nggak suka yang kaya beginian. Nah mumpung ada kamu kan aku udah gatel pengen ngambil, jadi aku beli aja semuanya, HAHAHA.” Michelle menyerocos seperti cacing kepanasan. “Nanti ajarin aku ngelukis ya, Sa.” lanjutnya, berusaha menenangkan diri sendiri.


“Yah aku nggak tau cara ngajarin nya. Nanti kita belajar bareng-bareng aja ya, hehe.” jawab Hisa, tampak bahagia.

Michelle teringat pertanyaannya yang tadi. Darimana Hisa tau akan tempat ini.


“Sa, kamu kan jarang keluar rumah, kok kamu bisa tau tempat kayak begini?” tanya Michelle penasaran. Tidak dengan nada merendahkan. Tentunya.


“Ooh, hahaha. Dulu aku sama ayah sering kedaerah sini. Ini kan tadinya gedung-gedung tinggi, tapi ada kerusuhan jadi semuanya ditutup. Ayah juga taunya dari koran, udah lama banget kita nggak ketempat ini. Eh tau-tau dari koran gedung-gedung yang dulu udah diratain. Terus beberapa bulan abis itu dikoran dikasih tau jadi tempat kayak begini. Makanya aku tahu.” jawab Hisa, lengkap, tidak membuat Michelle puas.


“Emang dulu kamu ngapain aja disini?” tanya Michelle.


“Dulu sih makan-makan. Hahaha. Masa lalu sih indah, sekarang aja ayah udah nggak ada lagi. Padahal dulu aku kesini bareng ayah.” Hisa ingin menangis tapi ia tahan. Tersenyum.


“Yah… maaf ya, Sa. Tapi jangan inget yang sedih-sedih nya, inget nya yang seneng-seneng nya aja, hehe. Yaudah ah ngapain kita disini ayo kita pulang.” Michelle berjalan mendahului Hisa. Baru sadar kalau mereka jalan ditengah-tengah membawa tentengan berat. Mereka jalan menuju kearah mobil.


“Aduh!” Michelle menabrak seoranng laki-laki tinggi, seperti tourist.



BERSAMBUNG


No comments:

Post a Comment