sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Thursday, September 17, 2009

part 5 (2.2)

Tiga hari berturut-turut selama Hisa dan Michelle tidak masuk sekolah, terjadi kegemparan dikelas IPA-3. Mulai dari Kepala Sekolah yang memaksa anak-anak murid untuk memberi uang sumbanga, wali kelas yang tidak ikut berpasitipasi atas kematian ayah Hisa, murid-murid yang menolak untuk memberikan uang sumbangan, serta kekacauan lainya. Teyo, Tiyo, dan salah satu temanya yang biasa dipanggil Deska hanya ingin membantu Hisa demi mencari perhatian ke Michelle. Terjadi percakapan panjang selagi Hisa dan Michelle tidak memasuki sekolah.

“Saya tidak suka ada kalau diantara kalian ada yang membedakan ras manusia dari miskin atau kaya nya! Lagi pula Anastasya itu lebih pintar dari pada kalian jadi kalian seharusnya patut memberi penghargaan, bukan malah mengucilkan! Kalian semua ini kan orang kaya, kenapa tidak ada yang mau membantu keuangan teman sekelas kalian yang sedang kesusahan?” bentak Kepala Sekolah didalam kelas IPA-3. Mukanya ditekuk delapan bagian dan mukanya seperti orang yang sudah siap melahap anak kambing utuh-utuh.


“Nggak cuma diantara, Pak!” teriak Desta dari belakang. “Semuanya nggak ada yang mau bantuin si GASET aneh itu! Saya sih nggak mau sia-sia ngeluarin duit buat orang yang nggak saya kenal, Pak!” Desta melawan.


“Kalau gitu keluarin lah uang kamu biar kalian saling kenal! Apa salah nya sih?” Kepala Sekolah sedang berusaha untuk sabar menghadapi anak-anak kelas IPA-3.


“Lagian buat apa juga sih, Pak? Beasiswa dia nggak dicabut ini, kan?” Reina menyahut dari belakang.


“Kalian kira bapak minta bantuan cuma untuk biaya sekolah? Gimana sama tagihan rumah dia? Terus buat makan? Minum? Air mandi?” lalu Kepala Sekolah itu melihat kearah wali kelas yang sedang duduk dimeja guru sambil bermain laptop.


Ada yang perlu dibantu, Pak?” tanya wali kelas tersebut. Membuat sang Kepala kesal.


“Mohon keluar dari ruangan. Muka anda seperti sampah disini.” Kepala Sekolah bicara dengan nada dingin disertain dengan muka licik. Tanpa basa-basi wali kelas tersebut langsung meninggalkan ruangan.


Sekarang tidak ada yang bicara. Semua anak murid kelas IPA-3 terdiam dimeja dan kursi masing-masing memajang muka malas. Kepala Sekolah berdiri didepan-tengah kelas. melihat kearah murid-murid yang terlihat sedang berfikir keras –sebetulnya mereka berfikir bagaimana caranya mengusir Kepala Sekolah dari kelas mereka.


Ada yang mengambil keputusan?” Kepala Sekolah memulai pembicaraan kembali.


Semua anak terdiam. Persky, ketua kelas, jalan menuju papan tulis dan menuliskan sesuatu. Semua anak setuju akan hal yang Persky tulis, termasuk Kepala Sekolah. Beliau sangat berterima kasih atas kebijakan Persky sebagai ketua kelas. Rencana yang Persky tulis akan dilaksanakan ketika Hisa dan Michelle kembali asuk sekolah. –Teyo dan Tiyo bertugas untuk memberitahu Michelle tentang rencana ini.


Kepala Sekolah meninggalkan ruangan. Semua orang mulai berdiskusi bersama geng-nya masing-masing. Membicarakan Hisa Anastasya.


“Oh, tidak, tidak mungkin ayahnya mati bohongan hanya untung mengambil uang dari kita.”


atau


“Yang bener aja. Masa kita udah ngasih uang sumbangan paling sedikit 10.000 terus masih harus ngasih makanan sama baju-baju bekas? Mending gue jual”


beda lagi


“Gue bunuh juga tuh satu keluarga biar nggak usah narik biaya.”


Tidak ada yang tahu apa penyebab murid-murid sekelas membenc Hisa. Bahkan Michelle sekalipun. Michelle hanya tahu Hisa dijauhi karena gayanya yang freak, dan Hisa orang miskin. Tapi untuk yang separah itu, tidak ada yang tahu kenapa.



Hisa dan Michelle sedang duduk dikursi rumah nenek Hisa. Hisa sedang memegang erat-erat kitab injil yang sudah kusam milik ayahnya. Michelle melihat kearah mata Hisa. Tidak ada tanda-tanda akan menangis. Tapi ia tahu Hisa sangat shock atas kematian ayahya. Terlebih lagi Hisa adalah orang pertama yang menemukan jasad ayahnya. Trauma, mungkin. Sekarang wajah Hisa terlihat pucat. Mata Hisa terlihat suram dibalik kacamatanya. Bibirnya kering, ia belum minum seharian. –Michelle menyenderkan punggungnya


“Chelle, kamu mau bantuin aku. kan?” Hisa mengagetkan Michelle yang setengah tertidur saking sunyinya suasana dirumah nenek Hisa.


“Bantuin apa?” tanya Michelle ngantuk-ngantuk.


“Buat cari duit bantuin ibu sama Syma.” Hisa berhenti sebentar. “Aku butuh modal.”


BERSAMBUNG KE PART 6


No comments:

Post a Comment