Michelle melihat kearah mata Kella. Kella adalah seorang bintang film disekolah. Apa Kella sedang akting? Sepertinya tidak. Tidak bisa mengalihkan pemandangan, sejauh ini, yang Michelle tau, Kella bukanlah orang yang hobi marah tanpa alasan. Dan bagi Michelle, seharusnya Hisa hanya sampah bagi Kella, orang yang tidak berarti. Dan setau Michelle, Hisa tidak pernah meniru hasil kerja Kella, apapun bentuknya. Hisa melakukan hal yang sama. Memandang dalam-dalam kemata Kella. Semuanya seperti sinetron, terlalu drama-queen bagi Hisa.
“Lo nggak usah sok-sok gambar gitu deh. Gue tau semuanya! Gue tau lo ngeliat file dilaptop gue terus lo ikutan bikin gambar yang sama persis kayak gue gitu kan?! Sok iye lo! Jangan suka maling ide orang deh!” Kella memulai pembicaraan dengan ketus.
Sekarang Hisa benar-benar bingung. Membuka file di laptop? Gambar sama persis? Hisa tidak pernah bias memakai laptop seseorang sebelum diajari dan setau Hisa, menggambar bukanlah hobi Kella.
“Kel, kesurupan? Dapet gossip?” Tanya Michlle lembut, khawatir kalau-kalau ternyata Kella sedang mabuk atau kesurupan. Dan takut Kella diberi gossip kalau Hisa membuka-buka laptopnya. Bukan gossip, tepatnya fitnah.
Kella menatap Michelle dengan tajam, mukanya memerah, lalu kembali menatap Hisa. “Gue paling nggak suka kalau ada orang yang maling ide orang, terus orang yang maling itu lebih terpandang daripada orang yang puny aide lebih awal dari pada si maling! NGERTI?” Kella menghilang dari pandangan. Teman-teman Michelle mengejarnya. Michelle menatap kearah Hisa yang bibirnya berubah pucat.
“Pergi aja yuk, Sa. Mending kita langsung ke geramedia aja deh yuk! Aku bawa baju ganti dimobil, kamu boleh pinjem.” kata Michelle sambil menarik tangan Hisa. Hisa terdiam, terseret tarikan Michelle, dan masuk kedalam mobil.
Tidak ada percakapan dimobil. Hisa memandang gambar yang ia buat, seakan-akan matanya tidak berkedip sedetikpun. Michelle memandang Hisa, berusaha memulai percakapan tetapi takut air mata Hisa keluar. Begitulah Hisa. Jika menahan tangis, mukanya akan memerah, rambut yang dikuncir akan mencuat-cuat, dan… matanya terlihat jelas merah karena sekarang Hisa tidak memakai kacamata. Dan air mata yang Hisa tahan itu bisa keluar jika Hisa dipaksa bicara. Dalam kondisi seperti itu, Hisa hanya bias diajak bicara dengan kertas dan pensil. Sayang, Michelle tidak berpikiran untuk mengambil kertas dan pensilnya, terlalu focus pada Hisa, terlalu focus memikirkan Kella. Sejak kapan Kella suka menggambar? Sejak kapan Hisa membuka file dilaptop Kella, dan sejak kapan gossip itu menyebar?
“Sa..” Michelle bicara pelan. “Mungkin iya gambar kamu sama kayak gambar Kella. Tapi semua itu pasti Cuma kebetulan. Yang sabar ya, Sa.” Michelle mencoba menghangatkan suasana.
Hisa mengambil ketas dan pensil. Dia mulai menulis, dan air matanya mulai keluar.
“Masalah kebetulan ideku sama ide Kella sih nggak masalah, Chelle. Cuma, tega bener sih ada yang bilang aku buka-buka laptop orang. Kamu kan tahu aku paling gaptek masalah yang begituan.” Dan air mata Hisapun terjatuh. Lendir dari hidungnya ikut keluar, dan bibirnya menebal. Hisa menangis terdiam.
Michelle terdiam, ia merobek kertas itu dan mengembalikan pensilnya kepada Hisa. Michelle memberikan tisu dan Hisa menghapus air matanya. Mereka sudah sampai ditempat tujuan. Michelle turun lebih dahulu, disusul Hisa, dan mereka jalan berdua memasuki ke toko buku tersebut. HIsa terus-terusan menundukan kepala. Takut-takut kalau ada Kella berdiri tiba-tiba didepannya.
Michelle dan Hisa berpisah didalam dan berjanji akan bertemu dikasir beberapa menit kemudian. Hisa pergi kearah barang electronic, melihat hand-phone berderet didalam lemari kaca. Berharap ia memiliki salah satunya. Untuk menelfon ayahnya saat ayahnya pulang telat, ataupun menghubungi Michelle disaat ia butuh teman curhat. Sayang, ia tidak punya uang.
Lalu Hisa memutar balikan badan. Terlihat banyak buku-buku pelajaran. IPA, IPS, Bahasa Inggris, dan buku pelajaran lainnya. Hisa tidak tertarik. Hisa melihat kedalam rak sebelah kanan. Itu dia yang ia cari-cari, disitu dunianya. Dunia kerajinan tangan. Hisa mengambil salah satu buku yang sangat tipis dan covernya tidak terlalu bagus. “Jangan hanya melihat buku dari sampulnya.” Bagi Hisa, kalimat itu adalah kalimat terindah yang pernah diucapkan alharhum paman dari ayah yang baru saja meninggal 2 tahun lalu.
Hisa membaca buku tipis tersebut didalam buku biologi. Michelle dating membawa buku gambar tebal serta berbagai macam pensil, penghapus, dan penggaris. Michelle melirik kearah buku yang Hisa pegang. Sebelumnya, Michelle tidak pernah tahu kalau buku yang Hisa abaca selama ini adalah buku seni rupa yang didobel dengan buku lain.
“Kenapa kamu harus sembunyi-sembunyi Cuma buat baca buku seni rupa, Sa?” tanya Michelle mengagetkan Hisa.
BERSAMBUNG



No comments:
Post a Comment