“Can I have this thing?” kata seorang bule disebelah Hisa saat Hisa sedang berada di toko buku.
“Sure, here you are.” Hisa menjawab dan meberikan buku yang sedang ia pegang. Buku seinrupa tentunya.
“Thaks a lot, kid! God bless you.” lalu bule itu pergi.
Hisa baru menyadari buku itu adalah buku terakhir yang ada ditoko tersebut. Ia melihat kebelakang, wanita cantik berkulit putih pucat dengan rambut kuning muda itu sudah menghilang dari pandangan.
Ayah Hisa datang dengan baru rapih. Beliau sudah membawa banyak tetengan buku. Lalu melihat Hisa yang tidak sedang memegang apa-apa lalu bertanya.
“Kamu jadinya beli apa?” tanya sang ayah yang terburu-buru.
“Aku mau beli yang itu, tapi diambil.” kata Hisa dengan polos, sambil menahan tangis. Mukanya berubah merah. “Itu yang terakhir, Yah. Padahal isinya bagus, ada gambar singa nya.” mata Hisa berkaca-kaca.
“Udah, udah. Cari yang lain aja, yuk! Masih ada yang lebih bagus. Abis ini kita makan dulu, ya!” kata sang ayah menenangkan dan membantu Hisa mencari buku yang baru.
Hisa mengikuti kemana ayahnya pergi. Menemukan buku baru, sedikit sesak didadanya karena bukan buku itulah yang ingin ia beli. Tapi ia menghargai ayahnya, ia membeli buku itu, yang ayahnya bilang bagus. Berat hati. Terisak-isak kecewa. Ayahnya tidak melihat kearahnya. Mereka segera pergi ke tempat makan di gedung mewah itu.
“Hey, Anastasya!” seorang perempuan cantik perambut panjang dan bermata biru menghampirinya direstoran itu. Teman satu kelas.
“Hey…” Hisa lupa siapa namanya.
“Besok jangan lupa robotnya, ya! Udah kamu warnain
“Udah, hehe.” jawab Hisa singkat. Perempuan itu tersenyum lalu meninggalkannya.
Bersekolah di sekolah yang super elit. Ruangan full-AC juga pelajaran-pelajaran menarik. Kelasnya berisi alat-alat elektronik serta mesin-mesin aneh. Semuanya warna-warni. Tembok, meja, kursi, penuh warna. Dikelas itu murid-murid selalu mempelajari tentang robot dan mesin serta cara membuatnya. Ruangan nyaman membuat semua murid belajar dengan nyaman, termasuk Hisa.
Nilai Hisa pada tahun itu memang tidak pernah bagus. Tidak untuk soal pewarnaan. Setiap kelompok Hisa membuat penemuan yang berhubungan dengan pewarnaan, kelompoknya selalu mendapatkan nilai paling tinggi. Tetapi Hisa dibebani. Dalam proyek tersebut hanya Hsia yang banyan bekerja, dan dibantu oleh satu temannya yang ahli akan mesin. 2 dari 5. Hsia hanya dekat dengan orang yang membantunya,
karena itulah Hsia tidak kenal dengan orang yang menyapanya tadi.
Makanan yang dipesan sudah sampai. Lihat apa yang Hsia pesan direstoran mewah tersebut. Dua porsi es krim vanilla dengan permen warna-warni. –Lewatlah teman nya yang tadi, ingin bertanya tentang proyek yang tadi. Tapi ketika melihat makanan yang Hsia pesan orang itu tertawa dan lupa apa yang seharusnya ia tanyakan.
“Hahahahaha! Kalau es seperti ini dirumahku juga ada!” lalu perempuan itu melihat kearah Hsia yang bengong. Mengangkat dagu dan pergi bersama ayahnya.
“Kamu mau ayah beliin steak? Dari pada malu diketawain kayak gitu? Lagian ngapain sih beli kayak gitu? Dirumah juga ada, tau!” kata sang ayah.
“Dirumah
Ayahnya memanggil pelayan dan sibuk ngobrol sementara Hsia bengong sambil menyuap es krim ke dalam mulutnya. Menoleh kearah kanan dan kiri, lalu melihat bule yang mengambil buku ya tadi derdiri didepan kasir dan beranjak pergi.
Hsia mengejar bule itu sampai keluar pintu restoran. Berteriak seperti anak hilang yang sedang mencari rute perjalanan pulang.
“Hey, Miss! Miss! Wait! Stop!” teriak Hsia dengan nafas ngosngosan.
“What’s wrong little girl?” tanya bule tersebut.
“Can I have my book again? I need it.” kata Hsia dengan takut-takut.
“Kak, minjem buku yang tadi dong!” seorang laki-laki seumur dengan Hsia datang menghampiri bule tersebut. “Hey, kamu ngapain?” laki-laki itu bertanya pada Hsia yang tampak ketakutan.
“Itu.” Hsia menunjuk kearah buku senirupa yang tadi.
“Oh, ini punya kakak-ku. Mau pinjem?” laki-laki itu mengambil bukunya lalu menyerahkan kepada Hisa.
“Nggak jadi.” kata Hisa, ia merasa bersalah.
“Yaudah kalau gitu nanti aku baca duluan, terus kalau udah selesai aku kirim kesekolah kamu. Sekolah kamu dimana?” tanya laki-laki itu.
“St. James Maria.”
Laki-laki berambut merah itu pergi. Hisa hendak berlali kearah ayahnya.
“Eh!” sirambut merah teriak kearah Hisa. “Kalau kamu suka seni rupa, kapan-kapan kita bikin sesuatu bareng, yuk! Kalau nggak lukisan di kanvas, lukisan ya di guci, ya?”
Hisa menganggukan kepala. Laki-laki itu pergi ditarik kakaknya. Hisa kembali kepada ayahnya yang berdiri dikasir mencari-cari dimana Hisa berada. Mereka kembali duduk dan melanjutkan makan.
“Yah, masa tadi aku ketemu anak cowok yang sama-sama suka senirupa.” kata Hisa memulai percakapan. “Terus kata dia nanti diajakin bikin karya bareng-bareng.”
“Waaaah ada anak kelas dua SD lagi jatuh cinta, ya?” goda ayahnya sambil terus mengunyah.
“Ih nggak, tahu! Aku cuma mikir, gimana caranya bikin karya bareng ya? Eh tapi aku jadi kepikiran, Yah. Kapan bisa ketemu lagi ya? Eh, Yah, tapi aku malu kalau lagi bikin karya bareng-bareng aku nya nggak bisa gambar, aku kan cuma bisa ngewarnain. Eh aku jadi bingung.” tanya Hisa seperti cacing kepanasan.
“Gini aja, Sya. Kamu nggak bisa gambar juga nggak apa-apa. Siapa tahu dia bisa gambar? Kan bisa saling melengkapi.” jawab ayahnya.
“Melengkapi?”
-end



No comments:
Post a Comment