“Saya tidur bukan berarti kalian semua bisa berisik! MENGERTI KALIAN?!” bentak guru fisika yang tadi baru masuk. “Hey kamu!” menunjuk kearah Hisa. “Kamu kira kalau saya tidur kamu juga bisa tidur?” sekarang guru tersebut membantik meja Michelle, tepat disebelah meja Hisa, dan membuat kuping Kiri Hisa setangh tuli. “Saya ingatkan kepada kalian, jangan pernah melecehkan guru yang sedang tidur!” protes guru fisika tersebut.
Keadaan kelas sekarang sangat sepi dan sunyi, hanya ada bunyi batuk sekali yang keluar dari mulut Frensy. Dan terdiam kembali. Sekarang tidak ada yang bicara, semua merasa bersalah. Sepertinya “lawakan” Devi tentang Bu Yella terdengar ke telinganya? Siapa Bu Yella? Bu Yella adalah guru yang sedang tidur tadi.
“Devi Anna Savitri.” Bu Yella memulai percakapan kembali. “Apa maksud perkataan kamu tadi?” Tanya Bu Yella dengan tegas.
“Yang, yang mana, Bu?” tanya Devi gemetar.
“Kamu salah satu anak yang masuk 3 besar
“Sebentar, Bu. Devi cuma bergurau, lebih baik dimaafkan saja, mungkin Devi sedang butuh hiburan, makanya dia bikin lawakan.” selak Hisa ditengah kesunyian, yang memperburuk suasana.
“Ah, Anastasya, jadi maksud kamu saya adalah objek terbaik untuk dibuat sebagai lelucon?” pandangan Bu Yella menjadi tajam. Penggaris besi didepan mata.
“Bodoh…” bisik Teyo yang duduk dibelakang Hisa.
“Banget!” bisik Tiyo yang duduk disebelah Teyo.
“Saya tidak bermaksud mebela Devi, Bu, tapi….”
-- tok, tok-- “Permisi, Bu, maaf saya telat. Saya baru selesai dipanggil buat nyambut tamu soalnya, hehe” tiba-tiba Michelle masuk dan menghangatkan suasana.
“Oooh, Michelle, putri dan maskot IPA-3 serta sekolah, silahkan duduk, Nak. Kita baru saja akan memulai pelajaran.” sambut Bu Yella. Murid-murid yang lain tersenyum lega akan kedatangan Michelle.
Pelajaran dimulai seperti biasa lagi. Teyo dan Tiyo memberi ucapan terima kasih kepada Michelle.
“Great job, Chelle! Untung lo dateng! Kalau nggak kelas IPA-3 bisa ancu gara-gara si GASET” Michelle tertawa kecil. Hisa mendengarnya, dan melanjutkan menulis catatan.
Sekarang mereka semua harus mengerjakan soal latihan diskusi hingga ganti jam pelajaran. Hisa ingin segera memutar balikan kepalannya dan memulai pelajaran baru. Karena selama berdiskusi dengan Teyo, Tiyo, dan Michelle, saran dan pendapatnya tidak pernah didengarkan sampai Michelle yang menyampaikannya. Hisa merasa bersyukur memiliki teman cantik dan baik seperti Michelle, karena setidaknya tidak semua orang mengabaikan pendapatnya. Disisi lain kalau Michelle tidak ada juga menjadi hal menyenangkan untuk Hisa. Jika Michelle tidak ada Teyo dan Tiyo tidak akan mau bekerja sama dengan Hisa, dan akan membuat nilai mereka berdua tidak akan lebih dari angka 6. Hisa mengangkat kepala dari arah buku, melihat kesampingnya, Michelle.
"Chelle, nanti aku minjem buku paket fisikanya ya, catatannya tadi belum lengkap." Hisa membuat Teyo dan Tiyo melirik kearah nya. Mereka berdua seakan berkata "Jangan pernah ajak bicara tuan putri kami."
"Oh, ini ambil aja, Sa. Aku nggak lagi butuh kok, ulangan masih lama ini, hehe." kata Michelle sambil mendorong buku paket fisikanya secara halus.
"Ya ampun, Chelle, lo baik banget ya... Orang dekil kayak dia aja mau lo pinjemin buku. Kalau gue sih takut buku gue pulang-pulang udah bau comberan" Teyo melawak membuat Tiyo tertawa terbahak-bahak.
Pembicaraan terhenti oleh buyni bel pergantian jam pelajaran. Michelle mengelus pundak Hisa, menyuruhnya untuk sabar.
"Beginilah Michelle." pikir Hisa. "Selalu membuat emosiku naik turun." lalu Hisa menganggukan kepala, dan mengambil buku biologi dari dalam tas nya.
Pelajaran biologi berlalu dengan lancar, sekarang waktunya istirahat. Hisa biasanya pergi ke kantin bersama Michelle, dan ditinggal dikatin oleh Michelle, biasanya Michelle diajak duduk bersama teman-temannya yang gaul dan ia tidak bisa menolak. Tapi sekarang Hisa tidak pergi ke kantin. Ia sudah berjanji untuk menyimpan uang yang diberikan ayahnya untuk membeli kacamata yang baru. Sekarang ia sendiri di kelas, tidak ada kerjaan. Ia mengambil 1 lembar kertas HVS yang lecek dari tasnya. Berusaha menggambar 2 perempuan cantik yang di ibaratkan adalah Michelle dan Hisa yang sedang duduk berdua. Hisa mengambil pensil 2B nya yang tumpul dan mulai menggambar. "Selama ini aku mempelajari materinya..." pikirnya sambil terus mmenggambar "kenapa aku jarang sekali mempraktekan nya?..." lalu ia menambahkan efek-efek cahaya pada gambarnya. "Ini sangat mudah dan menyenangkan..." kemudian ia menebalkan gambar yang ia buat dengan sepidol. "Menyenangkan dan, aku rasa meggambar bisa melepaskan semua emosi dikepalaku. Kenapa tidak pernah ada praktek menggambar ya?" pikirnya lagi. "Seharusnya ada praktek nya..." sekarang ia mengambil pensil warna dari tas Michelle, pikiran nya tak terkendali. "Mungkin ini alasan aku mendapatkan nilai C-, aku mengerti materi, tetapi tidak pernah tau cara mempraktekan nya. Mudah, menyenangkan, melepas emosi, tapi pergoresan ku buat tanpa emosi." sekarang Hisa benar-benar gila. "AKU HARUS MEMBUAT KLIPING YANG BARU!" Ia berteriak sambil menggenggam kertas yang baru saja ia coret dengan beberapa garis dan goresan, membuat 5 orang yang duduk dikelas melirik kearahnya, berpendapat Hisa memiliki dunia sendiri. Sekarang Hisa senyum-senyum, sendiri, membayangkan kemenangann nilai A++ ada didepan matanya setelah ia membuat kliping yang baru.
Bel masuk berbunyi, kelas mulai penuh, tapi tulang hidung Michelle belum terlihat. Hisa ingin segera minta maaf karena meminjam pensil warna nya tanpa ijin. Hisa mencantumkan beberapa kalimat di gambarnya, "Semoga persahabatan kami tidak pecah hanya karena manusia busuk." dan "Semoga gambar ini bisa menjadi berkah tuhan agar nilai seni rupaku menjadi bagus." setelah ia menulis, dia meninggalkan kertasnya dan pergi ke kamar mandi.
Beberapa langkah kaki ia meninggalkan kelas, terdengar suara guru seni rupa yang berteriak...
BERSAMBUNG



No comments:
Post a Comment