sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Friday, September 18, 2009

part 6 (2.2)

Michelle melihat kearah laki-laki tersebut. Seperti seorang bule tua yang sedang jalan-jalan ke negeri lain. Michelle tertawa kecil, berjalan bersama Hisa menuju kearah mobil. Pulang kerumah, rumah Michelle.

Perjalanan lumayan lama. Michelle sempat tertidur dimobil walaupun cuma sebentar. Tebangun lagi karena polisi tidur tinggi ditengah jalan. Sepanjang jalan Hisa dan Michelle tidak bicara. Semuanya kelelahan.

Mereka berdua sampai dirumah. Turun dengan mata 5 watt dengan membawa banyak belanjaan. Michelle menuntun Hisa untuk jalan kekamarnya. Rumah Michelle mengingatkan Hisa pada ayahnya, bangunan ini mirip dengan gereja tempat kematian ayahnya. Bangunan yang sepi, bersih, berkilauan, kosong, terang. Hisa berusaha melupakan ayahnya. Berusaha fokus dengan apa yang akan ia lakukan bersama Michelle. Misi ini harus terjalankan. Hisa harus membantu keluarganya mencari uang agar tetap hidup. Tidak mati kelaparan, tidak mati terbengkalai.


Sesampai dikamar Michelle segera kekamar mandi untuk ganti baju sementara Hisa menyiapkan alat-alat lukis. Mereka akan mulai membuat lukisan canvas terlebih dahulu. Semua alat lengkap diatas lantai. Cat acrylic, cat minyak, minyak, kuas, palet, semua tersusun rapih, legkap satu beda 2 pasang, satu untuk Hisa, satu untuk Michelle.


Aku beruntung punya teman yang baik seperti Michelle.” batin Hisa. “Baik, cantik, tidak sombong, rela membantu temannya yang sedang kesusahan.” Hisa masih melanjutkan menata alat-alat lukisnya diatas lantai.


Michelle datang dengan baju daster tangan panjang dan selutut dengan rambutnya yang dikuncir poni. Sangat cantik. Hisa melihat kearah kaca besar berukuran setengah tembok di dinding kamar Michelle. Seperti tuan putri dan pembantunya. Tuan putri berhati ibu peri dan pembantu yang sangat persis dengan itik buruk rupa. Hisa iri.


Tapi jujur aku iri dengan apa yang Michelle punya.” kata Hisa dalam hati. “Sekalipun aku bisa berkumpul dengan mama, Syma, atau ayah kapanpun aku mau, aku tetap miskin dan selalu dipojokan.” sekarang Hisa mulai memaki. “Kata Michelle aku cantik, Michelle lebih catik kok. Kalau aku cantik kenapa aku tidak bisa punya banyak teman seperti Michelle?” Hisa iri. “Enak banget Michelle bisa jadi orang kaya berkat ayahnya. Walau tidak bisa bertemu setiap hari.” Hisa mengambil pensil lalu mulai menggambar sketsa di atas canvas.

“Sa, air buat nyuci kuas nya udah kamu ambil belum?” tanya Michelle mengagetkan lamunan Hisa.



“Eh, belum, Chelle.” Hisa kaget setengah malu. Apa yang sudah ia pikir tadi? Iri? Yang benar saja. Untuk apa iri pada teman sendiri?



Apa ini yang namanya melengkapi? Mungkin iya. Seseorang yang kaya membantu seseorang yang miskin. Itu yang namanya melengkapi. Hisa teringat dengan dirinya ketika berumur 7 tahun. Banyak sekali kenangan yang teringat hari ini. Hisa tersenyum kecil, menghapus sketsanya dan membuat yang baru.


“Sa, kamu bikin gambar apa?” tanya Michelle yang sedang asik menggambar di atas canvas. Terlihat seperti anak TK yang sedang bergembira karena waktu mencorat-coret telah tiba.


“Gambar kucing, Chelle. Hehe. Kamu?” Hisa balik bertanya.



Kucing, bukan sekedar kucing dengan bulu yang banyak sedang berdiri lalu diberi warna latar belakang. Melainkan dua kucing berbeda dengan jenis yang berbeda. Kucing kampung dan kucing anggora yang sedang diajak jalan-jalan bersama majikannya. Kucing kampung itu terluka dan kucing anggora berusaha mendekatinya, sayang... kucing anggora itu ditarik lagi oleh sang majikan.


“Beruang, Sa. Hehe, gambarku jelek banget tau nggak? Huu.” Michelle berkata dengan polos.



Terlihat dua beruang yang sedang berpegangan tangan diatas rumput. Mencerminkan tentang persahabatan. “Seharusnya Michelle membuat beruang yang satunya seperti beruang yang baru dilindas truk.” pikir Hisa. “Biar persis.” lalu Hisa tertawa kecil. Mentertawakan dirinya sendiri.



“Kenapa, Sa? Sakit?” Michelle bertanya heran.



“Nggak lah, Chelle. Aku cuma mikir hal aneh doang. Eh emangnya mama kamu nggak marah kalau kamu temenan sama orang kayak aku? Aku kan dekil.” entah kenapa kalimat terakhir yang Hisa ucapkan bisa keluar dari mulut begitu saja.


“Nggak, aku kan sering cerita tentang kamu, mama malah suka orang kaya kamu dari pada... hem... siapa ya? Dari pada orang kaya Kella. Terlalu sok-sok gimanaaaaa gitu kesannya.” jawaban Michelle melegakan hati Hisa. Memang selama Hisa main kerumah Michelle ibunya selalu tidak ada ditempat. Tapi sekarang Hisa akan menginap dan ia takut diusir.


Dua jam berlalu tanpa ada diskusi. Mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing. Yang terdengar hanya bunyi kuas yang jatuh dan gesekan antara kuas dengan canvas. Dan dalam dua jam itu pekerjaan mereka selesai.


“Chelle, gambarku udah jadi!” Hisa tersenyum senang karena hasil lukisan canvas nya memuaskan, walau tidak terlihat seperti lukisan pelukis profesional.


“Ih bagus tau, Sa. Jual aja! Kalau punyaku kayak gini.” Michelle menunjukan hasil gambar nya yang membuat Hisa sesak nafas.



“Curang.”



BERSAMBUNG KE PART 7




Thursday, September 17, 2009

part 6 (1.2)

Harinya untuk pulang. Hisa dan Michelle pulang dengan mobil Michelle, sedangkan ibu Hisa dan Syma naik bus kota. Bukan berarti karena tidak ada ayah Hisa jadi tidak ingin bersama ibunya lagi. Tapi ia punya misi. Bersama Michelle. Mereka akan jalan menuju daerah yang jauh dari rumah Hisa untuk membeli peralatan lukis yang baru, dan banyak. Tentu saja dimodali oleh Michelle yang baik hati. Mereka akan pergi menuju sebuah pertokoan yang menjual alat-alat seni dengan harga murah dan sangat terjangkau.

“Mau bikin apa aja nanti, Sa?” tanya Michelle mengagetkan Hisa yang sedang menaik-turunkan kacamata yang membuat matanya semakin pusing. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu tapi Michelle tidak tahu apa.


“Guci, lukisan canvas, lukisan kain, batik… mungkin, telur, apa lagi? Punya ide? Tolong.” jawab Hisa, sepertinya ia gugup akan misinya.


“Nggak, otakku mentok. Yakin kamu bisa bikin semuanya? Kamu kan belum pernah nyoba bikin, Sa.” Michelle takut perkataan nya membuat Hisa down. Tapi ia juga perlu menyadarkan Hisa kalau sampai-sampai semua alat yang sudah dibeli hasilnya sia-sia.


“NAH ITU DIA!” Hisa terloncat dari duduknya yang menghadap lurus kedepan menjadi menghadap kesamping, kearah Michelle. “Aku juga bingung, Chelle. Tapi masalahnya aku juga harus dapet uang secepet mungkin. Nah terus masalah bagus atau nggak nya ya….. Aku pede aja deh, Chelle.” Hisa mulai putus asa, tapi berusaha bangkit. Bibirnya pucat karena gugup.


“Jangan lupa berdo’a aja ya, Sa.” Michelle menenangkan Hisa. Masih ada harapan kalau kita berdoa. Banyak harapan.


Mobil Michelle belok ketempat yang penuh dengan orang-orang sibuk disekitarnya. Sibuk membuat guci, sibuk membatik, membuat lukisan, melukis dikaca, dan aktifitas kerajinan tangan lainnya. Sepiiiii sekali. Tidak ada suara musik kecuali suara radio didalam mobil Michelle. Bahkan Michelle berfikiran suara radionya bisa terdengar sampai keluar mobil. Yang benar saja, tidak mungkin kan se-sepi itu? Tapi yang terdengar jika suara radio dimatikan memang hanya suara ketukan paku-palu, suara berputarnya meja guci, suara air yang menggelembung karena sedang dipanaskan untuk wanteks, dan suara nafas berat orang-orang yang sedang bekerja.


Dari mana Hisa tau tempat ini? Setau Michelle Hisa tidak pernah keluar rumah sejauh ini. Karena lokasi ini sangat jauh dari rumah Hisa. Dan Michelle yang sering keliling-keliling daerah juga tidak pernah kedaerah ini. Setau Michelle beberapa tahun yang lalu daerah ini ditutup. Tapi sebelumnya pun Michelle tidak tahu tempat apa ini. Kenapa Hisa bisa tahu tempat ini sudah dibuka lagi?

Mereka sampai pada tujuannya. Ditempat itu dijual banyak sekali pealatan seni yang sangat murah. Michelle tidak pernah melihat canvas dengan kualitas bagus semurah itu. sepuluh ribu rupiah untuk canvas bagus berukuran 50x60 cm? Kalau Michelle bisa melukis, Michelle akan selalu belanja disini, bahkan ia berfikiran untuk menginap.


“Kamu mau beli yang mana, Sa?” tanya Michelle dengan muka cerah. Sekalian rasanya ia ingin belanja kain-kain batik yang dijual disini untuk ia design menjadi bajunya sendiri. Time for shopping.


“Aku bingung, Chelle. Semuanya bagus buat dijadiin objek.” kata Hisa diluar mulut. Batin Hisa, ia sangat ingin membeli semuanya, tapi ia takut menyusahkan Michelle. Semua bagus, semua murah. Sekaya-kaya Michelle. Itu uangnya dan sebagi teman Hisa tidak boleh memanfaatkannya.


“BORONG SEMUAAAA!” Michelle teriak seperti orang gila ditengah-tengah kesepian, mengalihkan pandangan orang-orang sekitar kearahnya lalu semua oang tertawa. Termasuk Hisa.


Michelle mengambil canvas dengan kualitas yang paling bagus, berukuran ia ambil satu. Cat acrylic, cat minyak, minyak, kuas, guci, kain, peralatan untuk membuat batik, semuanya ia beli dengan harga murah. Hisa terbelalak. Michelle tidak pernah menyukai yang namanya seni lukis tapi ia mau membelikan Hisa semua ini tanpa Hisa minta. Inilah rejeki dari seorang teman, Hisa sangat beruntung mempunyai Michelle.


“Biasanya kalau udah murah-murah kayak begini mamaku bisa beli banyak banget, Sa. Sayangnya ama nggak suka yang kaya beginian. Nah mumpung ada kamu kan aku udah gatel pengen ngambil, jadi aku beli aja semuanya, HAHAHA.” Michelle menyerocos seperti cacing kepanasan. “Nanti ajarin aku ngelukis ya, Sa.” lanjutnya, berusaha menenangkan diri sendiri.


“Yah aku nggak tau cara ngajarin nya. Nanti kita belajar bareng-bareng aja ya, hehe.” jawab Hisa, tampak bahagia.

Michelle teringat pertanyaannya yang tadi. Darimana Hisa tau akan tempat ini.


“Sa, kamu kan jarang keluar rumah, kok kamu bisa tau tempat kayak begini?” tanya Michelle penasaran. Tidak dengan nada merendahkan. Tentunya.


“Ooh, hahaha. Dulu aku sama ayah sering kedaerah sini. Ini kan tadinya gedung-gedung tinggi, tapi ada kerusuhan jadi semuanya ditutup. Ayah juga taunya dari koran, udah lama banget kita nggak ketempat ini. Eh tau-tau dari koran gedung-gedung yang dulu udah diratain. Terus beberapa bulan abis itu dikoran dikasih tau jadi tempat kayak begini. Makanya aku tahu.” jawab Hisa, lengkap, tidak membuat Michelle puas.


“Emang dulu kamu ngapain aja disini?” tanya Michelle.


“Dulu sih makan-makan. Hahaha. Masa lalu sih indah, sekarang aja ayah udah nggak ada lagi. Padahal dulu aku kesini bareng ayah.” Hisa ingin menangis tapi ia tahan. Tersenyum.


“Yah… maaf ya, Sa. Tapi jangan inget yang sedih-sedih nya, inget nya yang seneng-seneng nya aja, hehe. Yaudah ah ngapain kita disini ayo kita pulang.” Michelle berjalan mendahului Hisa. Baru sadar kalau mereka jalan ditengah-tengah membawa tentengan berat. Mereka jalan menuju kearah mobil.


“Aduh!” Michelle menabrak seoranng laki-laki tinggi, seperti tourist.



BERSAMBUNG


part 5 (2.2)

Tiga hari berturut-turut selama Hisa dan Michelle tidak masuk sekolah, terjadi kegemparan dikelas IPA-3. Mulai dari Kepala Sekolah yang memaksa anak-anak murid untuk memberi uang sumbanga, wali kelas yang tidak ikut berpasitipasi atas kematian ayah Hisa, murid-murid yang menolak untuk memberikan uang sumbangan, serta kekacauan lainya. Teyo, Tiyo, dan salah satu temanya yang biasa dipanggil Deska hanya ingin membantu Hisa demi mencari perhatian ke Michelle. Terjadi percakapan panjang selagi Hisa dan Michelle tidak memasuki sekolah.

“Saya tidak suka ada kalau diantara kalian ada yang membedakan ras manusia dari miskin atau kaya nya! Lagi pula Anastasya itu lebih pintar dari pada kalian jadi kalian seharusnya patut memberi penghargaan, bukan malah mengucilkan! Kalian semua ini kan orang kaya, kenapa tidak ada yang mau membantu keuangan teman sekelas kalian yang sedang kesusahan?” bentak Kepala Sekolah didalam kelas IPA-3. Mukanya ditekuk delapan bagian dan mukanya seperti orang yang sudah siap melahap anak kambing utuh-utuh.


“Nggak cuma diantara, Pak!” teriak Desta dari belakang. “Semuanya nggak ada yang mau bantuin si GASET aneh itu! Saya sih nggak mau sia-sia ngeluarin duit buat orang yang nggak saya kenal, Pak!” Desta melawan.


“Kalau gitu keluarin lah uang kamu biar kalian saling kenal! Apa salah nya sih?” Kepala Sekolah sedang berusaha untuk sabar menghadapi anak-anak kelas IPA-3.


“Lagian buat apa juga sih, Pak? Beasiswa dia nggak dicabut ini, kan?” Reina menyahut dari belakang.


“Kalian kira bapak minta bantuan cuma untuk biaya sekolah? Gimana sama tagihan rumah dia? Terus buat makan? Minum? Air mandi?” lalu Kepala Sekolah itu melihat kearah wali kelas yang sedang duduk dimeja guru sambil bermain laptop.


Ada yang perlu dibantu, Pak?” tanya wali kelas tersebut. Membuat sang Kepala kesal.


“Mohon keluar dari ruangan. Muka anda seperti sampah disini.” Kepala Sekolah bicara dengan nada dingin disertain dengan muka licik. Tanpa basa-basi wali kelas tersebut langsung meninggalkan ruangan.


Sekarang tidak ada yang bicara. Semua anak murid kelas IPA-3 terdiam dimeja dan kursi masing-masing memajang muka malas. Kepala Sekolah berdiri didepan-tengah kelas. melihat kearah murid-murid yang terlihat sedang berfikir keras –sebetulnya mereka berfikir bagaimana caranya mengusir Kepala Sekolah dari kelas mereka.


Ada yang mengambil keputusan?” Kepala Sekolah memulai pembicaraan kembali.


Semua anak terdiam. Persky, ketua kelas, jalan menuju papan tulis dan menuliskan sesuatu. Semua anak setuju akan hal yang Persky tulis, termasuk Kepala Sekolah. Beliau sangat berterima kasih atas kebijakan Persky sebagai ketua kelas. Rencana yang Persky tulis akan dilaksanakan ketika Hisa dan Michelle kembali asuk sekolah. –Teyo dan Tiyo bertugas untuk memberitahu Michelle tentang rencana ini.


Kepala Sekolah meninggalkan ruangan. Semua orang mulai berdiskusi bersama geng-nya masing-masing. Membicarakan Hisa Anastasya.


“Oh, tidak, tidak mungkin ayahnya mati bohongan hanya untung mengambil uang dari kita.”


atau


“Yang bener aja. Masa kita udah ngasih uang sumbangan paling sedikit 10.000 terus masih harus ngasih makanan sama baju-baju bekas? Mending gue jual”


beda lagi


“Gue bunuh juga tuh satu keluarga biar nggak usah narik biaya.”


Tidak ada yang tahu apa penyebab murid-murid sekelas membenc Hisa. Bahkan Michelle sekalipun. Michelle hanya tahu Hisa dijauhi karena gayanya yang freak, dan Hisa orang miskin. Tapi untuk yang separah itu, tidak ada yang tahu kenapa.



Hisa dan Michelle sedang duduk dikursi rumah nenek Hisa. Hisa sedang memegang erat-erat kitab injil yang sudah kusam milik ayahnya. Michelle melihat kearah mata Hisa. Tidak ada tanda-tanda akan menangis. Tapi ia tahu Hisa sangat shock atas kematian ayahya. Terlebih lagi Hisa adalah orang pertama yang menemukan jasad ayahnya. Trauma, mungkin. Sekarang wajah Hisa terlihat pucat. Mata Hisa terlihat suram dibalik kacamatanya. Bibirnya kering, ia belum minum seharian. –Michelle menyenderkan punggungnya


“Chelle, kamu mau bantuin aku. kan?” Hisa mengagetkan Michelle yang setengah tertidur saking sunyinya suasana dirumah nenek Hisa.


“Bantuin apa?” tanya Michelle ngantuk-ngantuk.


“Buat cari duit bantuin ibu sama Syma.” Hisa berhenti sebentar. “Aku butuh modal.”


BERSAMBUNG KE PART 6


Wednesday, September 16, 2009

part 5 (1.2)

Hisa mengintip keluar jendela. Ia melihat rekan kerja ayah nya berdiri diluar sambil mengetuk-ngetuk pintu. Hisa mengira-ngira apa yang orang itu lakukan ditengah malam begini. Saat ayahnya belum pulang. Hisa membuka pintu dan sadar rekan kerja ayahnya itu berlumur keringat.

“Kenapa, Pak?” tanya Hisa dengan heran. Bingung melihat bapak-bapak yang tidak dikenal nya datang malam-malam dengan wajah berkeringat. Tidak hanya wajah. Disertai punggung sampai ujung kaki. –Sepertinya begitu.


“Anu, De, bapak kamu sudah pulang?” tanya bapak-bapak tersebut.


“Belum, memang kenapa?” Hisa tanya balik.


“Bapak kamu tadi pergi, mukanya suram. Saya kira mau beli minum atau beli rokok sebentar. Kayaknya sedang stress. Tapi sampai jam segini nggak balik-balik juga, De. Padahal kita lagi butuh bantuan banget.” lanjut bapak tersebut.


“Emang ayah saya pergi dari jam berapa?” Hisa mengira kalau-kalau bapak ini mengarang cerita. Tapi terlalu bagus untuk dikarang kalau cerita yang ia buat seperti kisah nyata.


“Sekitar jam setengah dua, De. Kira-kira kamu tau nggak bapak kamu kemana?”


“Saya nggak tau. Tapi kita cari aja, yuk, Pak!” Hisa merasa agak takut kalau dia akan diculik. Tapi ia tidak yakin akan fikirannya yang itu.


Bapak tersebut berserta Hisa mulai meninggalkan rumah. Hisa meninggalkan kunci dibawah karpet. Mereka mulai berjalan kearah warung-warung dekat rumah dan warung dekat tempat kerja. Tidak ada satupun yang melihat ayah Hisa dari tadi siang. Hisa dan bapak tersebut mulai kebingungan. Sekarang sudah larut malam dan susah untuk berfikir karena badan butuh istirahat. Berfikir keras. Kemana? Dan kenapa?


Mengambil inisiatif untuk pergi ke gereja dekat tempat kerja bapak tersebut, tempat kerja ayahnya juga. Sekarang sudah larut malam dan Hisa sudah jauh dari rumah. –Terdapat dua gereja ditempat itu. Satu gereja mewah yang biasanya hanya didatangi oleh orang-orang kaya, dan satu lagi adalah gereja umum. Gereja umum ini adalah gereja kecil yang dibangun oleh nenek Marie dan kakek Vincent. Biasanya gereja tersebut sering diramaikan oleh anak-anak kampong saat hari raya natal. Biasanya Hisa lebih memilih untuk pergi ke gereja umum yang mulai kumuh itu. Tapi kaki Hisa bergerak kearah gereja mewah yang sama sekali belum pernah ia lihat isinya. Agak ragu untuk masuk. Tapi kakinya seakan memaksa.


Pintu gereja yang besar dan berkilau itu dibuka perlahan, berat. Hisa takut diusir karena pakaian nya yang lusuh tidak sesuai dengan tempat yang ia kunjungi. Tapi apa salahnya? Anggaplah Hisa sebagai tamu special karena ia beda sendiri dari yang lain. –Gereja itu dibangun dua tingkat. Bersih, berkilauan, terang, kosong. Ya, kosong. Seharusnya ada suster atau pastur yang menjaga gereja itu. Tapi Hisa masuk dalam keadaan kosong. Hisa duduk dibagian kursi paling belakang. Menggenggamkan kedua tangan nya, berdoa. Berharap ia akan bertemu ayahnya secepat ia bisa. Dalam keadaan baik-baik saja.


Terlihat satu orang duduk dikursi paling depan. Dilihat dari belakang orang itu sangat mirip dengan ayahnya. Hisa takut untuk mendekati orang itu. Ia berlari keluar untuk memanggil bapak-bapak yang tadi. Menceritakan siapa yang ia lihat didalam gereja. –Rekan kerja ayah Hisa bersama teman-temannya memasuki gereja dan menghampiri orang tersebut. Tidak lain beliau adalah ayah Hisa. Yang sedang duduk tegap tanpa menundukan kepala dengan posisi seorang hamba Tuhan yang setia yang sedang berdoa. Mukanya pucat. Matanya tertutup. Tampak kelelahan.


Semua rekan kerjanya tidak bisa berkutik. Hisa hanya bisa berlutut didepan ayahnya dan membacakan do’a, lalu ia berdiri ke meja pastur. Melihat jadwal piket. Kebetulan hari ini memang gereja sengaja dikosongkan. Apa ayahnya sengaja? Tidak ada yang tahu. Ayahnya sudah pergi dan Hisa harus merelakan nya. –Rekan kerja almarhum ayah Hisa mengangkat jasad nya keluar gereja. Hisa mengikuti dari belakang. Beberapa airmata jatuh dan mengalir dipipinya.

--------------------------------------

Jam 4.13 pagi, lokasi : rumah Hisa.

Rumahnya penuh dengan banyak orang. Rekan kerja, keluarga, beberapa tetangga, dan Michelle serta bodyguardnya. Semua mengitari jasad almarhum ayah Hisa, menangis, berdoa.


“Sa, yang sabar, ya!” kata Michelle serentak mengelus bahu Hisa.


“Nggak apa-apa kok, Chelle. Aku malah seneng beliau meninggal waktu digereja. Bukan waktu lagi sakit atau pas lagi kerja.” Jawab Hisa.


“Itu kaca mata baru? Cieee!” Michelle mencoba membuat hati Hisa kembali riang. Setidaknya tidak semurung sekarang.


“Dari ibu, Chelle.” Hisa menjawab singkat, lalu mengalihkan pandangan mata kearah almarhum ayahnya. “Nanti siapa yang biayain tagihan-tagihan rumah, ya?”


“Tenang aja, Sa. Aku bisa bantu kok dikit-dikit.” Michelle menenangkan Hisa sedikit demi sedikit.


Sekarang jasad almarhum sang ayah siap dibawa untuk dikubur. Tangisan ibu, adik, serta rekan-rekan kerja menyertainya. Membuat Hisa terbawa suasana. Hisa ikut menangis. Michelle mengelus pundak Hisa. Mereka pergi kearah sekolah, meminta ijin untuk tidak masuk selama 3 hari untuk acara pemakaman dan acara keluarga.


Aku beruntung masih punya Michelle.” pikir Hisa dalam hati. “Tapi siapa yang menemani ibu dan adik nantinya?” mata Hisa berkaca-kaca, bahkan keluar air mata. “Dan siapa yang bisa membiayai tagihan rumah? Hasil kerja Syma sama ibu belum tentu sebesar ayah.” Hisa menangis kencang, menggenggam erat tangan Michelle, mukanya merah, kacamatanya berembun, rambutnya berantakan. Michelle hanya bisa menyuruhnya sabar selama perjalanan kesekolah.

BERSAMBUNG


Tuesday, September 15, 2009

when hisa was seven years old

mencoba mengerti apa itu "melengkapi"... apakah itu sebuah warna?

“Can I have this thing?” kata seorang bule disebelah Hisa saat Hisa sedang berada di toko buku.


“Sure, here you are.” Hisa menjawab dan meberikan buku yang sedang ia pegang. Buku seinrupa tentunya.


“Thaks a lot, kid! God bless you.” lalu bule itu pergi.


Hisa baru menyadari buku itu adalah buku terakhir yang ada ditoko tersebut. Ia melihat kebelakang, wanita cantik berkulit putih pucat dengan rambut kuning muda itu sudah menghilang dari pandangan.


Ayah Hisa datang dengan baru rapih. Beliau sudah membawa banyak tetengan buku. Lalu melihat Hisa yang tidak sedang memegang apa-apa lalu bertanya.


“Kamu jadinya beli apa?” tanya sang ayah yang terburu-buru.


“Aku mau beli yang itu, tapi diambil.” kata Hisa dengan polos, sambil menahan tangis. Mukanya berubah merah. “Itu yang terakhir, Yah. Padahal isinya bagus, ada gambar singa nya.” mata Hisa berkaca-kaca.


“Udah, udah. Cari yang lain aja, yuk! Masih ada yang lebih bagus. Abis ini kita makan dulu, ya!” kata sang ayah menenangkan dan membantu Hisa mencari buku yang baru.


Hisa mengikuti kemana ayahnya pergi. Menemukan buku baru, sedikit sesak didadanya karena bukan buku itulah yang ingin ia beli. Tapi ia menghargai ayahnya, ia membeli buku itu, yang ayahnya bilang bagus. Berat hati. Terisak-isak kecewa. Ayahnya tidak melihat kearahnya. Mereka segera pergi ke tempat makan di gedung mewah itu.


“Hey, Anastasya!” seorang perempuan cantik perambut panjang dan bermata biru menghampirinya direstoran itu. Teman satu kelas.


“Hey…” Hisa lupa siapa namanya.


“Besok jangan lupa robotnya, ya! Udah kamu warnain kan?” tanya perempuan cantik itu.


“Udah, hehe.” jawab Hisa singkat. Perempuan itu tersenyum lalu meninggalkannya.


Bersekolah di sekolah yang super elit. Ruangan full-AC juga pelajaran-pelajaran menarik. Kelasnya berisi alat-alat elektronik serta mesin-mesin aneh. Semuanya warna-warni. Tembok, meja, kursi, penuh warna. Dikelas itu murid-murid selalu mempelajari tentang robot dan mesin serta cara membuatnya. Ruangan nyaman membuat semua murid belajar dengan nyaman, termasuk Hisa.


Nilai Hisa pada tahun itu memang tidak pernah bagus. Tidak untuk soal pewarnaan. Setiap kelompok Hisa membuat penemuan yang berhubungan dengan pewarnaan, kelompoknya selalu mendapatkan nilai paling tinggi. Tetapi Hisa dibebani. Dalam proyek tersebut hanya Hsia yang banyan bekerja, dan dibantu oleh satu temannya yang ahli akan mesin. 2 dari 5. Hsia hanya dekat dengan orang yang membantunya,

karena itulah Hsia tidak kenal dengan orang yang menyapanya tadi.


Makanan yang dipesan sudah sampai. Lihat apa yang Hsia pesan direstoran mewah tersebut. Dua porsi es krim vanilla dengan permen warna-warni. –Lewatlah teman nya yang tadi, ingin bertanya tentang proyek yang tadi. Tapi ketika melihat makanan yang Hsia pesan orang itu tertawa dan lupa apa yang seharusnya ia tanyakan.


“Hahahahaha! Kalau es seperti ini dirumahku juga ada!” lalu perempuan itu melihat kearah Hsia yang bengong. Mengangkat dagu dan pergi bersama ayahnya.


“Kamu mau ayah beliin steak? Dari pada malu diketawain kayak gitu? Lagian ngapain sih beli kayak gitu? Dirumah juga ada, tau!” kata sang ayah.


“Dirumah kan nggak warna-warni, Yah.” jawab Hsia.


Ayahnya memanggil pelayan dan sibuk ngobrol sementara Hsia bengong sambil menyuap es krim ke dalam mulutnya. Menoleh kearah kanan dan kiri, lalu melihat bule yang mengambil buku ya tadi derdiri didepan kasir dan beranjak pergi.

Hsia mengejar bule itu sampai keluar pintu restoran. Berteriak seperti anak hilang yang sedang mencari rute perjalanan pulang.


“Hey, Miss! Miss! Wait! Stop!” teriak Hsia dengan nafas ngosngosan.


“What’s wrong little girl?” tanya bule tersebut.


“Can I have my book again? I need it.” kata Hsia dengan takut-takut.


“Kak, minjem buku yang tadi dong!” seorang laki-laki seumur dengan Hsia datang menghampiri bule tersebut. “Hey, kamu ngapain?” laki-laki itu bertanya pada Hsia yang tampak ketakutan.


“Itu.” Hsia menunjuk kearah buku senirupa yang tadi.


“Oh, ini punya kakak-ku. Mau pinjem?” laki-laki itu mengambil bukunya lalu menyerahkan kepada Hisa.


“Nggak jadi.” kata Hisa, ia merasa bersalah.


“Yaudah kalau gitu nanti aku baca duluan, terus kalau udah selesai aku kirim kesekolah kamu. Sekolah kamu dimana?” tanya laki-laki itu.


“St. James Maria.”


Laki-laki berambut merah itu pergi. Hisa hendak berlali kearah ayahnya.


“Eh!” sirambut merah teriak kearah Hisa. “Kalau kamu suka seni rupa, kapan-kapan kita bikin sesuatu bareng, yuk! Kalau nggak lukisan di kanvas, lukisan ya di guci, ya?”


Hisa menganggukan kepala. Laki-laki itu pergi ditarik kakaknya. Hisa kembali kepada ayahnya yang berdiri dikasir mencari-cari dimana Hisa berada. Mereka kembali duduk dan melanjutkan makan.


“Yah, masa tadi aku ketemu anak cowok yang sama-sama suka senirupa.” kata Hisa memulai percakapan. “Terus kata dia nanti diajakin bikin karya bareng-bareng.”


“Waaaah ada anak kelas dua SD lagi jatuh cinta, ya?” goda ayahnya sambil terus mengunyah.


“Ih nggak, tahu! Aku cuma mikir, gimana caranya bikin karya bareng ya? Eh tapi aku jadi kepikiran, Yah. Kapan bisa ketemu lagi ya? Eh, Yah, tapi aku malu kalau lagi bikin karya bareng-bareng aku nya nggak bisa gambar, aku kan cuma bisa ngewarnain. Eh aku jadi bingung.” tanya Hisa seperti cacing kepanasan.


“Gini aja, Sya. Kamu nggak bisa gambar juga nggak apa-apa. Siapa tahu dia bisa gambar? Kan bisa saling melengkapi.” jawab ayahnya.


“Melengkapi?”


-end