sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Saturday, December 5, 2009

part 11 (1.2)

...melihat kearah Hisa dengan mukanya yang cengo dan matanya yang besar. Hisa menahan tawa sejenak, menarik otot-otot mulutnya agar tidak terlihat tersenyum sedikitpun.


Hisa mengalihkan hiburannya dan bertanya, “Bisa aku jual ini?”


Ibu-ibu terdiam, ia melihat kearah Hisa dengan muka anehnya dan membuat Hisa ingin tertawa. Setengah ingin lari takut melihatnya yang terus-terusan memandang Hisa, setengah ingin tertawa karena mukanya yang konyol.


“Bisa dijual?”


Tidak dijawab...


“Ma...”


“Maaf, ya, Kak. Ibu ini nggak bisa ngomong sama denger. Ya ampun maaf ya saya abis cuci tangan tadi.” tiba-tiba datang seorang perempuan (sepertinya seumuran dengan Hisa) yang berlari-lari jinjit sambil membawa piring kosong, tampak baru selesai dicuci.


“Oh, iya.” Hisa tampak bingung.


Anak perempuan itu tampak seperti orang-orang afrika yang sering ada dibuku-buku sosiologi dan ekonomi. “Tapi kan harusnya orang afrika kaya, kenapa tinggalnya disini?” pikirnya. Tapi pikiran itu tidak berlanjut karena perempuan itu memulai kembali pembicaraan.


“Apa miniatur tanah liat itu dijual? Tampak nya sangat bagus.” tanya perempuan itu.


“Oh, iya, aku menjualnya dengan harga 750.000, mau beli?”


“Sebuah kehormatan bisa menyentuh dan membeli barang sebagus itu, Kak. Tapi kami hanya mau membelinya dalam keadaan kering. Kalau benda itu sudah kering kakak bisa menjualnya kembali pada kami.” jawabnya dengan polos dan penuh senyuman. Sopan.


Ya, miniatur ini memang masih basah. Tapi ia tidak mau lagi kembali kerumah.


Ini ide gila. Walaupun tidak terlalu gila. Hisa memutuskan untuk mencari sela-sela cahaya yang ditutupi pohon dilingkungan sekitar situ. Lalu ia akan mengangkat tangannya agar miniatur tersebut cepat kering. Dan kalau cahayanya pindah, ia akan pindah ketempat cahaya yang lain sampai miniaturnya kering. Ia tidak malu menjadi tontonan banyak orang disekitar pondok, karena bahkan ia tdak tahu ia sedang diperhatikan oleh orang-orang.


“Hey! Kami sebenarnya punya headdryer kalau kamu mau menggunakannya!” teriak seorang anak laki-laki dari pondok disebelah toko miniatur tersebut. Semua orang tertawa, muka Hisa panas karena malu... sepertinya terlihat merah.


“Kenapa baru beri tahu sekarang? Miniatur ini sebentar lagi kering!!!” Hisa berteriak seperti itu bermaksud agar tidak malu lagi, tapi semakin ia berkata seperti itu semakin keras orang-orang tertawa. Mereka mentertawakan dirinya, tapi ini adalah kebahagiaan, ia merasa punya teman.


Hisa kembali kepondok tadi, dan menyerahkan miniaturnya kepada si perempuan (mirip) afrika, lalu perempuan itu memberikan uang 750 ribu dan 50 ribunya untuk upah karena menanggung malu dan lelah sudah berdiri sekian lama untuk menjemur tanah liatnya.


Orang-orang dipondok itu tidak langsung pulang. Mereka mengajak Hisa berbincang-bincang sebentar. Mereka membicarakan masa lalu mereka dan keadaan ekonomi mereka, sedangkan Hisa membicarakan tentang nasibnya di SMA. Semuanya baik, prihatin, bijaksana. Tidak ada orang yang membela Hisa dengan berkata “PARAH BANGET” atau “IH KOK GITU?”. Semuanya menjawab dengan “Sabar ya... pasti dibalik semua itu ada sesuatunya yang bisa kamu pelajari, Sa.” dan Hisa senang akan hal itu. Michelle tidak pernah menjadi tempat curhatnya selama ini. Hisa merasa telah dibantu.


Ia mempunyai teman baru. Perempuan afrika itu bernama “Leann” berumur 14 tahun, dan ibu-ibu yang bersamanya itu neneknya bernama “Sofia”. Mereka memang mempunyai wajah keturunan afrika, tapi sudah ber-abad-abad yang lalu. Mereka berdua adalah pengrajin. Membuat sesuatu berbentuk miniatur adalah hobby mereka. Mereka sempat membuat miniatiur dari dedaunan dan seseorang membelinya dengan harga 1juta rupiah. Hisa bertanya kenapa mereka tidak tinggal dirumah mewah. Jawabannya singkat, “Hidup bagaikan jarum jam, terkadang diangka 12 terkadang diangka 6. Kalau kita hidup dirumah mewah tiba-tiba kami jatuh miskin, kami belum mempunyai pikiran jauh untuk mencari solusinya.”


Anak laki-laki yang tadi berteriak bernama....



BERSAMBUNG



Wednesday, December 2, 2009

part 10 (2.2)

Pintu rumah dibuka, ada sedikit cahaya yang memasuki rumah kecil tersebut, lalu kembali hilang karena pintu ditutup lagi oleh Hisa. Ia beranjak dari rumah dan siap menjual sketsa design kamar mandinya. Mungkin hal ini akan menjadi pekerjaan rutin Hisa setiap hari. Tapi perkarya tidak akan ia jual ditempat yang sama. Mereka bilang “Dunia itu sempit.” tapi Hisa berpendapat pikiran merekalah yang sempit, karena dunia itu sangat luas dengan berbagai macam orang didalamnya. Dan banyak hal yang tidak kita ketahui tentang dunia ini saking luasnya.


Ini akan menjadi pekerjaan menetap untuk seorang Hisa Anastasya. Membuat karya—mebuat karya lagi—meninggalkan satau karyanya karena yang dijual hanya satu—membawa satu karya dan keluar rumah untuk dijual—menjelajah kota agar bisa menemukan tempat yang pas untuk menjual karyanya—dan tidak semudah itu.


Sekarang ia berusaha menerobos gang lewat belakang. Ia tidak tahu denah sekitar sini jadi ia rasa ia akan berkeliling-keliling kota hingga pingsan, bangun lagi, berjalan lagi. Perjalanan dari rumahnya menuju gang belakang lebih dekat daripada lewat gang depan. Hal ini menyadarkan Hisa kalau rumahnya... terbelakang. Bukan masalah. “Yang penting rumahku bisa jadi sumber inspirasi. Harusnya aku bangga.” pikirnya dalam hati. Ia melihat kedepan arah gang belakang. Disektiar sana lebih jarang ada kendaraan bermotor, suasananya lebih sejuk tapi juga lebih seram karena banyak pepohonan besar. Gang belakang itu hanya disinari sinar matahari yang dihalangi beberapa daun pepohonan. Tidak ada lampu jalanan seperti digang depan. Disini juga tidak ada gedung-gedung besar seperti digang depan, yang ada hanya pondok-pondok kecil tertutup yang terlihat sangat sepi. Tidak bising karena adanya kendaraan-kendaraan bermotor.


Ia melihat kesekelilingnya. Semuanya tampak damai didalam kegelapan. Hisa berfikir, Aku berharap aku mempunyai kedamaian seperti ini dulu, walaupun hidupku gelap dan suram.” sambil melangkahkan kakinya dan melihat ke sisi kanan dan kiri. Ia menemukan beberapa toko kecil yang menjual aksesoris rambut atau pondok yang menjual ikan-ikan atau daging-gading. “Masalah besar bagiku jika... Oh Tuhan jangan hancurkan harapanku.” tadinya Hisa ingin berkata, “Jika disini tidak ada pondok untuk menjual perabotan kamar mandi.” tapi kata-kata itu tidak terucapkan setelah Hisa melihat dua danau dibelakang pondok-pondok kecil itu. Mengerti maksudku? Mereka menggunakan sistem MCK, bukan kamar mandi pribadi.


Sudah terlalu jauh untuk memutar balikan badan dan pergi pulang. Lagipula ia paling benci dengan yang namanya pulang tanpa hasil. Hal itu mengingatkan dia dengan guru seni rupa yang mengesalkan itu. Ia tetap berjalan sambil berharap agar ia dapat menemukan toko perabotan kamar mandi yang ia maksud. Walau agak tidak mungkin. Walau harapannya mulai pupus karena sistem MCK. “Seharusnya aku mencari toko digang depan.”


Keinginan untuk maju memang tidak pernah membuahkan sebuah penyesalan. Bukan berarti ia menemukan tempat perabotan kamar mandi. Tapi ia melihat sebuah pondok luas yang tertera tulisan besar diatas pondoknya, “KREASI INSPIRASI”. Ia tidak mengerti apa maksud dari nama tokonya tapi ia memutar balikan badannya dan berlari kearah rumah. Toko itu adalah toko dimana kita bisa menjual berbagai macam miniatur dari berbagai macam benda. Dan tentunya tanah liat termasuk diantaranya. Hisa berlari sekencang ia bisa (walau sempat terselengkat kerikil) agar bisa sampai masuk rumah. Ia tidak peduli dengan miniaturnya yang masih basah, ia yakin miniaturnya akan laku terjual mahal ditempat tadi (karena miniatur yang dijual bagus-bagus.). Dan uang yang ia dapat akan ia tabung bersamaan dengan uang yang ia dapat dari lukisan si bapak-bapak seram kemarin. Tabung. Bukan menggunakan.


Ia sampai rumahnya dengan keringat dan muka merahnya. Sekarang poninya terlihat seperti rambut singa. Syma melihat Hisa yang masih memegang sketsanya. Mukanya menunjukan muka iba kepada Hisa. Tapi sekarang mukanya seperti orang bingung ketika ia melihat Hisa melempar sketsanya dan mengambil miniaturnya yang masih basah. Hisa keluar rumah lagi tanpa bilang permisi. “Ia mulai sinting.” pikir Syma.


Hisa berlari lagi menuju pondok yang tadi. Kali ini ia melepas sendal jepit karet sebelah kanannya karena ia merasa sendal jepit itu mengganggunya. Ia memperkencang larinya. Jalannya terasa lebih jauh dari pada sebelumnya. Yang ia sadari ia baru saja berlari kearah gang depan. Maka ia harus memutar balikan badannya (lagi) untuk pergi ke gang belakang. Larinya lebih kencang lagi. Seorang nenek-nenek tua yang sedang duduk dikursi depan rumahnya memperhatikan Hisa. Hisa sempat mendengar nenek itu berkata, “Olah raga disore hari itu memang baik. Anak rajin.” dan ia membalasnya dalam hati,


Tidak, Nek, aku tidak suka olah raga. Dan sejujurnya aku benci berlari seperti ini. Tapi ini demi ibu dan Syma. Lagi pula aku lelah berlari-lari sambil membawa miniatur yang tidak mini. Kalau nenek mau ikut berlari denganku sambil membawa miniatur ini aku akan sangat senang.


Memperlambat kecepatan berlari. Lihat apa yang ia lihat didepannya, benda itu adalah sendal jepit yang baru saja ia buang tadi. Tapi ia mengambilnya kembali dan memakainya. Ia perlu berjalan dengan tenang.


---


Ia sampai dipondok dan yang tadi. Tangannya menjulur kedepan sambil berkata, “Aku mau jual ini.” dengan nafas yang tidak teratur.


Ibu-ibu penjual miniatur itu.......



BERSAMBUNG KE PART 11

Tuesday, December 1, 2009

part 10 (1.2)

“Kak, kakak jangan gambar kayak gitu, ah. Sakit hati aku, Kak. Beneran deh nggak bohong.” saran Syma dengan dahi mengkerut. Mulutnya terbentuk seperti orang yang sedang meliihat film menjijikan yang akan muntah angin.


“Lah? Kenapa emang?” tanya Hisa heran yang sedang asik dengan sketsanya.


“Ngareeeeeppppp.” jawab Syma dengan singkat, dan cukup jelas.


Kamar mandi. Itulah yang mulai terbentuk diatas kertas gambar Hisa. Bedanya kamar mandi yang ini lebih bagus... JAUH lebih bagus daripada kamar mandi yang mereka punya. Perbandingannya 1 : 999.999.999 dengan rating 2% untuk 1 dan 99% untuk 999.999.999. Apa yang Hisa buat? Sebuah kamar mandi dengan bak mandi yang besar dan menghabiskan space seperempat ruangan, closet yang bersih dengan bentuk klasik, wastafel dengan kaca super besar didepannya, lemari baju dikanan dan kiriwastafel, dan... yang ini tidak kelihatan jelas.


“Kalau yang itu apa, Kak?” tanya Syma sambil menunjuk gambar disebelah closet.


“Oh itu ceritanya pispot, Dek. Kalau ada anak bayi kan nggak mungkin langsung bisa makai closet, yakan?” Hisa menjawab dengan intonasi cepat seperti orang salting dan mengakhiri kalimatnya dengan senyuman gigi yang lebar.


Adiknya tidak memberikan jawaban apa-apa... pengecualian untuk helaan nafas panjangnya dan matanya yang berputar-putar seperti bianglala. Hey, apa yang salah dengan sketsa kamar mandi? Ini namanya harapan dan harapan dan kalau tidak ada harapan tidak akan ada orang sukses didunia ini. Lagi pula tidak ada salahnya kan membuat sketsa kamar mandi? Jarang-jarang juga ada orang yang memasang lukisan dikamar mandinya. Siapa tahu sekarang akan ada yang membeli sketsanya, lalu dibingkai, dan dipanjang dikamar mandinya, dibayar mahal, walau agak tidak mungkin.


Sketsa itu selesai. Tampak sempurna, walau mungkin tidak sempurna. Tampak seperti sketsa tiga dimensi. “Berguna juga punya kamar mandi jelek...” pikiran itu terlintas dikepala Hisa secara tiba-tiba. “...kalau nggak ada kamar mandi kayak gitu aku nggak mungkin bisa bikin sketsa... Design kamar mandi?” PERFECT! Ini bukan sekedar sketsa kamar mandi tapi juga bisa menjadi design kamar mandi. Sekarang ia mengalihkan pandangannya kesebuah tanah liat di seberang matanya. “Aku bisa jadi design interior terkenal. Aku yakin itu.” ia berjalan kearah tanah liat tesebut dan mulai membuat sesuatu yang belum pernah ia buat sebelumnya. Kalian tahu? Design Kamar tidur tiga dimensi, dengan bentuk tanah liat.


Sekarang ia benar-benar bingung. “Tanah liat tuh cara makai nya kayak gimana, sih?” pertanyaan itu terulang ulang diotaknya.


SUKSES! Tapi tidak sukses. Sukses tangannya kotor dan tanah liat yang tidak terbentuk. Ia lupa kata-kata Michelle, “Basahin dulu ya, Sa, tanah liatnya.” ya ya ya, kenapa kalimat itu baru terpikir kembali setelah tangannya terlanjur kotor? Ia mengulang pekerjaannya lagi, beruntung karena persediaan tanah liatnya masih banyak.


Yang kedua lebih baik. Oh maaf... JAUH lebih baik. Seperti nyata. Dagu Syma tidak bisa ditutup rapat. Siapa yang tidak terkesima dengan sebuah tanah liat yang tidak dibentuk guci atau asbak? Hisa membuatnya lain dari yang lain.


Miniatur ini dibuat seperti sebuah ruangan yang tidak memiliki sisi dibagian depan dan atas. Kalau dilihat dari depan, dibagian sisi kanan tengah terdapat satu pintu. Dan kalau dilihat dari dalam, disisi kanan itu ada banyak interior seperti meja belajar, lemari baju, baju yang sedang digantung, dan tempat sampah kecil disebelah lemari baju.


Kalau dilihat dari depan, terdapat tumpukan kertas menggunung dipojok kanan belakang. Dan ditengah-tengah ruangan dekat tembok terdapat sebuah meja kecil memanjang dengan sebuah lampu tidur ditengah, laptop dikri, dan radio dikanan. Disebelah meja tersebut terdapat sebuah tempat tidur. Hisa membentuk tempat tidur itu dengan sangat baik. Tidak hanya tempat tidurnya, yang lainnya juga. Pada bagian tempat tidur Hisa membuatnya terlihat sangat empuk dan hangat. memilik volume dan bentuk yang sesuai. Bentuk agak kembung pada bagian bantal, kasur, guling, dan selimut. Dan bentuk keras, kaku, dan lurus ataupun miring-miring. Begitu juga dengan meja, lemari dan yang lainnya. Tampak seperti nyata. Tumpukan kertas dipojok ruangan tampat seperti tumpukan kertas sungguhan, sayangnya lebih tebal. Tapi kertas itu benar benar terlihat jatuh berantakan. Hampir sempurna. Dinding miniatur tersebut juga bukan hanya sekedar dinding rata, Hisa membuatnya seperti dinding tersebut memiliki wallpaper. Kau tahu? Hisa mengukirnya. Dan hebatnya miniatur ini dibuat seukuran dengan ukuran printer hp 1200, dan ia menyelesaikannya dalam waktu... 7,5 jam


“Symaaa, aku nitip miniaturnya ya, jangan pegang-pegang sampai miniaturnya kering, soalnya mau aku jual, oke?” kata Hisa sambil beranjak meninggalkan rumah sambil membawa sketsa yang baru selesai ia bikin tadi.



BERSAMBUNG

Monday, November 30, 2009

asking...

"kalau aku orang kaya, aku bisa beli apapun yang aku mau, ya? terus kalau uangnya abis gimana?"

"emangnya kalau kira orang kaya kita bisa jadi pinter, ya? kok orang-orang yang naik mobil itu baru aja buang sampah dari kaca jendela, sih? bukannya gak boleh? aku aja yang miskin tau..."

"setau aku kalau ngeliat Michelle... dia itu kaya, tapi jarang banget ketemu sama mama papanya. kalau aku orang kaya, apa aku juga bakalan jarang ketemu sama Syma dan mama?"

"kemarin aku baru aja dikirimin surat sama Michelle, kata dia dia kangen banget sama aku. dia pengeeen banget kerumahku yang baru. tapi neneknya nggak ngebolehin dia ke tempat kumuh. berarti kekayaan bisa ngerusak persahabatan juga dong ya?"

"kalau belanja sayur di mall tuh mahal, kalau dipasar murah, kualitasnya juga terjamin kok. tapi kenapa orang-orang kaya itu kayak jijik ya pergi ke pasar? padahal siapa tau barang-barang di mall itu juga asalnya dari pasar tapi dibikin lebih bagus, bisa kan?'

"berapa sih harta yang mereka punya? kalau mati emangnya uang dibank mereka dikeluarin semuaaaaa dulu terus baru dikubur barengan? ribet bangeeeet!"

"aku nulis buku harian kayak gini bukan mau nyindir orang miskin ya, Chelle. Aku cuma lagi berusaha mikir bagusnya kayak gimana. miskin nggak, kaya nggak, sederhana nggak juga."

"oh mungkin aku lebih baik jadi orang sederhana yang miskin tapi kaya aja kali ya?"

"ya Tuhan aku bahkan nggak ngerti aku ngomong apa"




a part of a diary

part 9 (2.2)

Syma agak khawatir untuk mengatakan ini. Tidak... jangan berpikiran kalau mereka tidak punya WC, mereka punya, “Itu tuh ada pintu kecil disitu.” ia mengatakannya dengan muka yang agak tidak bisa dipercaya. Seakan ia memberitahu letak WC yang sebenarnya adalah gudang.


“Beneran, Sym?” tanya Hisa ragu. Tentu saja, mukanya tidak meyakinkan.


“I... iya, Kak. Bener deh sumpah nggak bohong.” sekarang keringat Syma mengalir dari ujung tengah kepala sampai dagu, jatuh kelehe, mengalir kebalik baju.


“Kamu ngelawak?” Hisa tampak sangak terkejut saat membuka pintu kecil tersebut.


Mengkhawatirkan. Lebih dari itu. Bahkan kata-kata ‘mengenaskan’ tidak cukup untuk menjadi kalimat inti dari apa yang harus dideskripsikan. Lihat dari bawah. “Tunggu-tunggu, apakah itu sebuah... lubar saluran air? Sekecil itu? Benarkah? Apa aku sedang mengantuk? OH! Mungkin ini mimpi!” dan semua yang ia anggap mimpi ini menjadi jelas ketika ia selesai mencubit tangannya dan berteriak keras didalam kamar mandi yang bahkan tidak ada WCnya, hanya ada... lubang saluran air. Sekarang lihat sedikit lebih keatas. Apa itu hijau-hijau didinding? Lumut? Ya itu lumut. Dan kalau dilihat lebih atas lagi. “Apa mataku rusak atau aku tidak perlu menggunakan kacamata lagi tapi apa yang akan terjadi kalau hujan?” seperti ada bor didada Hisa. Tidak ada atap. Tidak ada sama sekali. Ini lebih buruk dari pada lumut. Baiklah, setidaknya situasi ini tidak lebih diperburuk dengan tidak adanya keran. Mereka punya keran. Yang airnya keluar dua tetes per tiga detik.


Pintu kamar mandi dibuka, dan ditutup kembali dengan pelan. Lihat mukanya, lihat muka Hisa. Mukanya seperti perempuan frustasi yang tidak punya niat untuk hidup. Mulutnya tebuka satu senti, kantung matanya terlihat lebih kebawah, dan badannya terlihat bungkuk. “Aku nggak jadi buang air, Sym. Nggak napsu lagi.” Hisa berkata jujur seraya mengambil bantal disebelah Syma lalu berusaha untuk tidur.

“Nggak takut ngompol, Kak?” tanya Syma merasa bersalah.


Pertanyaan itu dijawab dengan suara dengkuran Hisa. Syma bersumpah akan membersihkan lantai dan selimut kalau-kalau Hisa buang air dicelana. Seharusnya Syma memberitahu lebih baik buang air dirumah tetangga seperti dirinya daripada memberi tahu kalau mereka punya kamar mandi sendiri.


---


Sekarang Hisa dan Ibunya sama-sama bangun. Sekarang jam 12 siang. Hisa berandai-andai biasanya apa yang sedang ia lakukan disekolah saat ini. Ohiya, istirahat. Apa yang ia lakukan saat istirahat? Terakhir kali ia membuat sebuah gambar yang kena caci-makian dari seorang guru yang bahkan sekarang ia sudah lupa namanya saking tidak peduli, dan mungkin ia akan membuah sebuah gambar lagi tanpa akan ada yang mengkritik. Ini hidupnya. Hidup barunya, dan ia bisa melakukan apapun yang ia mau.


Ia bergerak dari arah tempatnya tidur (tidak bisa menyebut tempat tidur karena tidak ada tempat tidur disitu) dan meraih sebuah buku sketsa. Sekarang apa yang ia bayangkan dikepalanya? “Oooooh! Tuhan tolong hilangkan bayangan ini dari kepalaku!” musibah, ia baru saja membayangkan kamar mandinya yang super..... mengenaskan. Lebih dari mengenaskan. “Itu bayangan pertamaku kalau aku membayangkan yang lain pasti hasilnya nggak akan sebagus apa yang aku bayangin pertama, kan? Tapi aku nggak suka kamar mandinyaaa!!!” keluhan dalam hati menggebu-gebu. Kalau ada obat pill yang kalau kita minum bisa merubah kamar mandi dalam sekejap, ia akan membelinya berapapun harganya. “Tapi aku bisa membuat kamar mandi yang lebih bagus, kan?” suatu ide mulai muncul. Hisa mengambil pensilnya dan mulai menggaris.



BERSAMBUNG KE PART 10

Sunday, November 29, 2009

part 9 (1.2)

Kalau ada air keran ditempat itu Hisa akan segera mencuci matanya. Ia melihat Michelle yang sedang berdiri bergandengan tangan dengan seorang anak kecil yang baru saja memberi Hisa amplop berisi uang pada malam hari. Adiknya? Bukan, sepupunya. Bukan, anak angkat. Bukan, oh tidak Hisa tidak punya akal lagi. Hisa ingin menyapa Michelle tapi ia ragu. Apa yang akan Michelle katakan? “Kenapa kamu bisa disini? Ini kan jauh dari rumahmu.” apakah kalimat itu yang akan Michelle ucapkan? Atau “Maaf aku nggak ngasih tau sebelumnya. Aku udah tau kalau rumah kamu...PLAK!!! Hisa menampar pipinya sendiri. Apa yang ia pikirkan? Michelle adalah temannya yang mungkin akan tidak sering bertemu lagi karena Hisa tidak mungkin pergi kesekolah. Ia memutuskan untuk menghampiri Michelle dan memulai pembicaraan.


“MICHELLE!” teriak Hisa sambil membuat senyuman palsu. Sebenarnya Hisa ingin pergi dari tempat itu, saat itu juga.


“Hisa? Halo!” kata Michelle dengan nada agak ragu, agak bingung, dan seperti orang yang sedang merasa bersalah.


“Dek, ini bayarannya.” selak bapak-bapak tua yang dipanggil dengan sebutan “Om” oleh anak kecil yang sedang bergandengan tangan dengan Michelle tadi.


“Eh, iya makasih, Pak.” Hisa mengambil uangnya lalu berjalan kearah pintu ditempat Michelle dan Si Anak Kecil berdiri. Memeluk Michelle dan berkata “Aku bakalan kangen banget, Chelle, sama kamu. Aku udah nggak mungkin kesekolah lagi.”


“Maaf ya, Sa. Aku udah dikasih tau Tiyo sama Teyo. Aku bakal sering-sering kesini, kok! Aku janji.” membalas pelukan Hisa, Michelle berbicara dengan mulut yang sedikit gemetar.


Hisa melepas pelukannya. Pergi meninggalkan Michelle dan kembali keperkomplekan rumah barunya. Ia bisa mendengar Si Anak Kecil berbicara dengan halus di belakang Hisa, “Kakak lukisan jangan pergi dulu.” suaranya sangat polos. Hisa tidak memutar balikan badannya. Ia terus berjalan... berlari kecil... dan berjarak semakin jauh dari Michelle. Ia baru saja melakukan hal bodoh. Ia memeluk Michelle, dan seharusnya Michelle tidak pantas untuk menerima pelukan seorang anak miskin yang kumel seperti Hisa. Disisi lain Hisa juga berpikr kalau ia berhak memeluk Michelle. Ia sahabatnya, walaupun Michelle tidak menganggapnya sebagai sahabat.


---


Tercium bau tempe dari jarak 5 rumah dari rumah Hisa. Hisa melihat rumahnya dari kejauhan. Lihat betapa kecilnya rumah itu. Rumah dengan pagar coklat tua dengan nomor 31 dan dinding putih kotor itu adalah tempat tinggalnya sekarang. Hisa melihat adiknya yang sedang duduk didepan rumah dan menggelar sesuatu... semacam tikar untuk menjual tempenya. Tidak disangka, ramai sekali. Banyak orang berkumpul disana. Orang-orang berdiri mengelilingi Syma yang sedang jongkok mengambil tempe untuk masing-masing pembeli. “Kasihan Syma.” kata Hisa dalam hati. Tapi ia sudah tidak punya tenaga untuk membantu. Sudah lelah lahir batin. Hisa ingin istirahat. Tidur bersama ibunya yang belum bangun dari tadi.


Tunggu sebentar.” pikir Hisa. “Kenapa ibu belum bangun?” Hisa mulai panik. Hisa berlari kedalam rumah dan melihat ibunya yang terkapar dilantai. Beruntung ibunya masih bernafas, mungkin hanya kelelahan. Hal ini mungkin bisa terjadi pada Hisa kalau ia tidur sekarang. Lelah.


---


Hisa terbangun jam tujuh malam. Langit sudah gelap dan ia kelaparan. Ia melihat Syma dan ibunya sedang duduk berdua memandang TV dan menonton berita. Apa lagi yang bisa mereka tonton? Tidak mungkin ada kartun atau film-film action seperti dirumah Michelle. Sinetron? Yang benar saja. Hisa anak terpelajar yang sadar bahwa menonton sinetron sama dengan membodohi diri sendiri. Yang satu-satunya dapat dipelajari adalah berita. Tapi mata Hisa mulai sakit. Ia bosan. Ia lapar.


“Kak, itu makanannya disamping kakak.” kata Syma yang baru saja melihat muka kakaknya seperti orang yang sudah tidak punya niat hidup lagi.


Hal ini membuat Hisa lebih baik. "Ini daging, Tuhan! Ini daging dan sayur! Bukan kerupuk!” syukur Hisa. Ia memakan semuanya dengan cepat dan mengambil air putih disebelah piringnya. Hisa tidak mau terlalu bahagia akan hal ini. Karena ia takut kalau-kalau makanan ini hanya tersedia untuk 2 atau 3 hari dan selanjutnya akan mengecewakan. Tapi ini adalah kesempatannya untuk bahagia. Kini ia makan enak, dan minum air putih asli. Bukan air keran.


Apakah ini akibat minum terlalu banyak atau memang udara diluar dingin, Hisa ingin buang air kecil ---sekarang.

“Syma, WCnya dimana?” tanya Hisa.



BERSAMBUNG

Saturday, November 28, 2009

part 8 (2.2)

“INI TUH LIAT! SELESAI!” teriak Hisa memamerkan lukisannya kepada Syma. Lukisan abstrak, terlihat sangat berkilauan. “Aku gamau tahu, ya! Pokoknya kalau ibu sudah bangun bilang ke dia aku lagi keliling-keliling rumah buat jual lukisan ini. Aku pergi dulu.” Hisa berdiri dan membuka pinturumah, memakali sendalnya dan pergi.


Kalau dipikir ulang, Hisa tidak tahu kemana ia akan pergi. Banyak tetangga disini, tapi apa gunanya? Tidak akan ada yang membeli lukisannya kalau mereka tidak punya uang. Hisa ingin menuju keluar perkomplekan untuk mencari rumah-rumah mewah yang mungkin salah satu dari mereka bisa membeli lukisan ini. Tapi tunggu... Apa yang akan mereka katakan dengan wujud Hisa yang seperti ini? Rambut terurai berantakan, kulit kusam yang bercampur dengan keringat, baju kusut, celana kusut, sendal jepit, dan lukisan indah? Apa mereka tidak berfikir kalau ini semua seakan-akan penipuan? Seakan-akan Hisa adalah orang kaya yang berakting seperti orang miskin. Atau mungkin Hisa baru saja mencuri lukisan dari sebuah museum. Agak ragu, tapi Hisa tetap melanjutkan perjalanannya.


Perempuan itu melihat kebelakang, Hisa sudah agak jauh meninggalkan rumah. Ingin rasanya kembali untuk memeluk Syma dan berkata “Aku mau bantuin kamu jualan tempe ibu, kok!” tapi tidak mungkin. Ia tidak mungkin menarik kata-katanya. Ia harus terus berjalan hingga ada yang mau membeli lukisannya, sedikit kemungkinan untuk pulang dengan membawa uang, tapi lebih sedikit lagi kemungkinan ada keberanian dihati Hisa untuk pulang dengan tangan kosong.


Sekarang sudah jam 12 siang. Biasanya Syma sudah membuka warung untuk berjualan. Tidak, bukan warung. Lebih kecil dari itu, atau bahkan tidak ada standnya. Bagaimana cara Syma menjual tempe sekarang? “Masa bodo.” pikir Hisa dalam hati. “Lukisan ya lukisan aja, gausah mikirin tempe.” Hisa melanjutkan perjalanannya. Sombong, memang, tapi lebih baik begini dari pada ia menangis sambil berjualan tempe, menangis karena sedih akan kehidupannya yang begitu-begitu saja. Apa Michelle tahu tentang ini? Apa dia peduli? Dimana Michelle sekarang? Hisa berharap Michelle datang dan membantunya keliling dunia untuk menjual lukisan ini.


Keluar komplek, rasanya sudah jauh sekali. Lihat sekitarnya, kendaraan dimana-mana, membuat kupig berdengung dan sesak napas. Bagaimana cara ia menuju ke perkomplekan rumah mewah kalau yang ia lihat hanyalah......asap kendaraan. Bagaimana cara ia menyebrang jalan kalau mobil, motor, bus, semuanya lewat dengan kecepatan tinggi, dijalan sekecil ini? Dimana otak mereka. Bahkan Hisa lebih pintar dari pada orang-orang kaya itu. Ia tau bagaimana tata tertib jalanan, tata tertib makan, hal ini bisa Hisa banggakan, orang miskin bisa lebih pintar dari pada orang kaya, walau hanya sedikit orangnya. Setiaknya mereka tidak akan menggunakan kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi dijalanan sekecil ini.


Terlihat sebuah toko lukisan diseberang jalan. Ya, diseberang jalan, bagaimana cara ia menuju kearah sana? Mutar balik? Lelah. Tapi ia ragu akan menjual lukisannya ditempat itu, apa boleh menjual lukisannya ditempat itu? Setahu Hisa, masing-masing toko lukisan menjual koleksi lukisan mereka masing-masing. Ingin rasanya untuk melangkahkan kaki satu langkah kebelakang, berjalan pulang. “Yang benar saja.” bantahnya. Jantungnya berdegup sangat cepat, ini adalah awal dari sebuah karir. “Apa semua orang seperti ini ketika mereka ragu? Atau cuma Aku? Atau cuma orang bodoh yang hendak menjual lukisannya ke toko lukisan orang lain?” lanjutnnya. Tuhan menghendaki, kaki Hisa berjalan satu langkah kedepan, sedikit demi sedikit ia yakin ia bisa sukses. Tapi ada sesuatu yang membuatnya takut. Penjaga toko lukisan itu terlihat seperti orang yang siap untuk memakan manusia hidup-hidup.


Jalanan sudah terlewati, memang sempat Hisa hampir tertabrak motor yang sedang terlihat seperti orang yang terburu-buru. Atau semua pengendara motor memang seperti itu? Ia tidak tahu. Yang pasti, jika ia punya motor ia akan mengendarainya seperti sedang mengendarai sepeda dipagi hari, santai.


Sekarang ia berada didepan toko itu. Melangkah maju dan..... penjaga toko itu menatap matanya dengan sangar. Oh

Tuhan lihat dirinya. Hanya memakai kaos kutang putih dan celana pendek berwarna hijau. Tingginya mungkin hanya sekitar 145cm, beda 20cm dengan Hisa. Badannya agak gemuk... ah, bukan... sangat gemuk. Rambutnya botak ditengah-tengah kepala seperti orang pintar. Kulitnya hitam berkilauan karena terlapisi oleh keringat. Bapak-bapak itu menggunakan kacamata tebal berbingkai hitam. Sungguh, penampilannya sangat tidak sesuai dengan lukisan-lukisan disekitarnya. Semua lukisan yang ada disana terlihat seperti sedang memberinya pencerahan.


“Ada yang bisa saya bantu?” kata bapak itu dengan suara serak. Membuat Hisa lebih takut lagi.


“Itu...semuanya lukisan bapak?” tanya Hisa takut-takut akan dimakan setelah ia bertanya seperti ini.


“Iya, memang kenapa?” tanya bapak itu. Kalau dipikir-pikir cara bicaranya seperti guru fisika disekolahnya ----sekolah lamanya.


“Ini, Pak. Kalau boleh, saya mau ngejual lukisan ini ke bapak, tapi kalau nggak boleh juga nggak apa-apa sih.” Hisa menjawab dengan ragu, sekarang ia takut badannya akan terbagi mmenjadi 28 bagian.


“Bagus, bapak bayar lima juta mau? Apa kurang?” kata bapak itu dengan polos. Apa katanya? Kurang? Bagi Hisa lima juta adalah anugrah bagi keluarganya. “Tapi kamu harus beri tanda tangan dulu dipojok lukisan ini, beri tanda kalau lukisan ini kamu yang buat. Bapak nggak mau membajak karya orang.” bapak itu memberikan sepidol papan tulis kepada Hisa, menyuruhnya memberi tanda tangan.


Hisa selesai memberi tanda tangan. Bapak itu membuka laci kayunya dan mengeluarkan tumpukan uang. Perempuan ini berharap uangnya tidak hilang lagi.


“Om!” terdengar suara dari depan toko.


Hisa menengok kebelakang. Michelle berdiri bersama.....



BERSAMBUNG KE PART 9

part 8 (1.2)

“Tadi pagi aku ngeliat ibu kamu pergi bareng adek kamu, sekitar jam satu pagi menuju setenngah dua. Ayah kamu kemana?” tetangga Hisa yang sudah tua menghampiri Hisa yang mulai keringat dingin. Mukanya pucat dan bibirnya kering. Tumpukan barang ditangannya bergetar. “Wakil kepala sekolah? Apa hak beliau untuk menjual rumahku?” pikir Hisa.


“Ayah pergi. Sekarang mereka kemana?” tanya Hisa.


“Oh, ini aku dititipin alamatnya, kamu mau kesana sekarang? Nginep aja lah dirumahku sebentar, kasihan. Kamu terlihat capek.” kata ibu tua itu.


“Nggak, makasih.” Hisa mengambil kertas dari tangan nenek itu dan pergi.


Tidak ada lagi air mata yang Hisa keluarkan. Cukup. Seharusnya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan Hisa dan keluarganya. Sekarang hanya ada amarah dihatinya. “Ini tidak adil.” kata Hisa dalam hati. “Berbutir-butir air mata aku keluarkan untuk orang-orang sekitarku, tapi apa balasan mereka? Aku akan berhenti menangis.” rasanya Hisa ingin meledak.


Teringat akan semua kejadian yang sudah berlalu. Nilai kliping, kacamata, sepeda, ayahnya yang bangkrut, semuanya. Semuanya ia tangisi. Tapi kalau dipikir ulang, untuk apa menangisi orang yang tidak pernah menangis untukmu? Sekarang saatnya untuk membuat mereka menangis.


Hisa berlari-lari kecil dan berhenti disebuah pohon besar. Ia membaca kertas ditangannya. Ia yakin alamat ini tidak akan lebih jauh lagi.


---


“Sampai.” ucap Hisa sambil menarik nafas dalam-dalam.


Lihat rumah barunya, setengah lebih kecil daripada rumanya yang lama. Apa ini? Gubuk? Dengan 1 WC dibelakangnya? Atau bahkan tidak ada WC sama sekali? Hisa bahkan tidak bisa melihatnya dari luar rumah.


Ia mengetuk pintu, Syma keluar dari rumahnya dengan kaki yang masih terlihat sakit. Bercerita tentang apa yang sudah terjadi. Mobil dinas tiba-tiba datang dan mengusir mereka, memindahkan tempat tinggal mereka, menjual rumah mereka, dan... membuat mereka makin merana. Syma membuka pintu pagar dan Hisa berlari masuk. Ia tidak sabar untuk memamerkan apa yang baru saja ia dapat. Uang untuk makan.

HILANG! Ini baru hal yang dapat ia tangisi, ia menangis lagi, lupa janjinya kalau ia tidak akan menangis. Bagaimana cara ia bayar sekolah kalau-kalau beasiswanya ditarik? Bagaimana caranya ia makan?


“Kak, kakak makin jauh tinggalnya dari sekolah. Mau gimana?” tanya Syma yang baru saja selesai menutup pintu pagar.


“Aku nyerah, aku nggak mungkin sekolah lagi.” jawab Hisa. “Setidaknya aku masih punya barang-barang lukisan yang Michelle kasih.” lanjutnya.


“Ini semua sengaja kak...”


“Semuanya emang keliatan kayak disengaja kok. Gausah heran kalau nasib kita kayak gini, biar Tuhan ngelakuin apa yang dia mau.” selak Hisa.


“Bukan gitu kak, tadi aku diceritain sama orang yang bawa kita kesini.” kata Syma pelan, takut menyayat hati Hisa lebih dalam lagi. “Tadi orangnya bilang kalau mereka itu suruhan dari sekolah kakak. Katanya mereka kasian sama kita yang kesusahan jadi kita dibeliin rumah baru. Terus kita ada persediaan makanan kok dari sekolah kakak, baju juga ada. Jadi...”


“Tutup mulut kamu. Aku enek.” Hisa berkata demikian sambil gemetar.


Membuka cat minyak dan minyaknya, mengambil kanvas dan pensil serta penghapus. Hisa mencoret-coret kanvasnya dengan asal. Dan langsung mewarnainya.


“Kak, itu apa sih? Kok nggak jelas?” tanya Syma heran. Siapa yang tidak heran kalau ada orang marah melukis sesuatu dengan warna yang cerah? Cream, putih, salem, merah sangat muda, kuning keemasan, semuanya Hisa tuangkan diatas kanvasnya. “Mending kakak bantuin aku jualan tempe aja, Kak.”


“Ogah.” Hisa menjawab dengan datar.


Ini yang teman-temannya mau? Teman? Ia tidak bisa memanggil mereka seorang teman, kepala sekolah sekalipun. Bagaimana dengan Michelle? Lihat saja nanti. Sekarang yang ada dipikiran Hisa adalah bagaimana caranya untuk memutar balik fakta.



BERSAMBUNG