sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Saturday, December 5, 2009

part 11 (1.2)

...melihat kearah Hisa dengan mukanya yang cengo dan matanya yang besar. Hisa menahan tawa sejenak, menarik otot-otot mulutnya agar tidak terlihat tersenyum sedikitpun.


Hisa mengalihkan hiburannya dan bertanya, “Bisa aku jual ini?”


Ibu-ibu terdiam, ia melihat kearah Hisa dengan muka anehnya dan membuat Hisa ingin tertawa. Setengah ingin lari takut melihatnya yang terus-terusan memandang Hisa, setengah ingin tertawa karena mukanya yang konyol.


“Bisa dijual?”


Tidak dijawab...


“Ma...”


“Maaf, ya, Kak. Ibu ini nggak bisa ngomong sama denger. Ya ampun maaf ya saya abis cuci tangan tadi.” tiba-tiba datang seorang perempuan (sepertinya seumuran dengan Hisa) yang berlari-lari jinjit sambil membawa piring kosong, tampak baru selesai dicuci.


“Oh, iya.” Hisa tampak bingung.


Anak perempuan itu tampak seperti orang-orang afrika yang sering ada dibuku-buku sosiologi dan ekonomi. “Tapi kan harusnya orang afrika kaya, kenapa tinggalnya disini?” pikirnya. Tapi pikiran itu tidak berlanjut karena perempuan itu memulai kembali pembicaraan.


“Apa miniatur tanah liat itu dijual? Tampak nya sangat bagus.” tanya perempuan itu.


“Oh, iya, aku menjualnya dengan harga 750.000, mau beli?”


“Sebuah kehormatan bisa menyentuh dan membeli barang sebagus itu, Kak. Tapi kami hanya mau membelinya dalam keadaan kering. Kalau benda itu sudah kering kakak bisa menjualnya kembali pada kami.” jawabnya dengan polos dan penuh senyuman. Sopan.


Ya, miniatur ini memang masih basah. Tapi ia tidak mau lagi kembali kerumah.


Ini ide gila. Walaupun tidak terlalu gila. Hisa memutuskan untuk mencari sela-sela cahaya yang ditutupi pohon dilingkungan sekitar situ. Lalu ia akan mengangkat tangannya agar miniatur tersebut cepat kering. Dan kalau cahayanya pindah, ia akan pindah ketempat cahaya yang lain sampai miniaturnya kering. Ia tidak malu menjadi tontonan banyak orang disekitar pondok, karena bahkan ia tdak tahu ia sedang diperhatikan oleh orang-orang.


“Hey! Kami sebenarnya punya headdryer kalau kamu mau menggunakannya!” teriak seorang anak laki-laki dari pondok disebelah toko miniatur tersebut. Semua orang tertawa, muka Hisa panas karena malu... sepertinya terlihat merah.


“Kenapa baru beri tahu sekarang? Miniatur ini sebentar lagi kering!!!” Hisa berteriak seperti itu bermaksud agar tidak malu lagi, tapi semakin ia berkata seperti itu semakin keras orang-orang tertawa. Mereka mentertawakan dirinya, tapi ini adalah kebahagiaan, ia merasa punya teman.


Hisa kembali kepondok tadi, dan menyerahkan miniaturnya kepada si perempuan (mirip) afrika, lalu perempuan itu memberikan uang 750 ribu dan 50 ribunya untuk upah karena menanggung malu dan lelah sudah berdiri sekian lama untuk menjemur tanah liatnya.


Orang-orang dipondok itu tidak langsung pulang. Mereka mengajak Hisa berbincang-bincang sebentar. Mereka membicarakan masa lalu mereka dan keadaan ekonomi mereka, sedangkan Hisa membicarakan tentang nasibnya di SMA. Semuanya baik, prihatin, bijaksana. Tidak ada orang yang membela Hisa dengan berkata “PARAH BANGET” atau “IH KOK GITU?”. Semuanya menjawab dengan “Sabar ya... pasti dibalik semua itu ada sesuatunya yang bisa kamu pelajari, Sa.” dan Hisa senang akan hal itu. Michelle tidak pernah menjadi tempat curhatnya selama ini. Hisa merasa telah dibantu.


Ia mempunyai teman baru. Perempuan afrika itu bernama “Leann” berumur 14 tahun, dan ibu-ibu yang bersamanya itu neneknya bernama “Sofia”. Mereka memang mempunyai wajah keturunan afrika, tapi sudah ber-abad-abad yang lalu. Mereka berdua adalah pengrajin. Membuat sesuatu berbentuk miniatur adalah hobby mereka. Mereka sempat membuat miniatiur dari dedaunan dan seseorang membelinya dengan harga 1juta rupiah. Hisa bertanya kenapa mereka tidak tinggal dirumah mewah. Jawabannya singkat, “Hidup bagaikan jarum jam, terkadang diangka 12 terkadang diangka 6. Kalau kita hidup dirumah mewah tiba-tiba kami jatuh miskin, kami belum mempunyai pikiran jauh untuk mencari solusinya.”


Anak laki-laki yang tadi berteriak bernama....



BERSAMBUNG



No comments:

Post a Comment