“INI TUH LIAT! SELESAI!” teriak Hisa memamerkan lukisannya kepada Syma. Lukisan abstrak, terlihat sangat berkilauan. “Aku gamau tahu, ya! Pokoknya kalau ibu sudah bangun bilang ke dia aku lagi keliling-keliling rumah buat jual lukisan ini. Aku pergi dulu.” Hisa berdiri dan membuka pinturumah, memakali sendalnya dan pergi.
Kalau dipikir ulang, Hisa tidak tahu kemana ia akan pergi. Banyak tetangga disini, tapi apa gunanya? Tidak akan ada yang membeli lukisannya kalau mereka tidak punya uang. Hisa ingin menuju keluar perkomplekan untuk mencari rumah-rumah mewah yang mungkin salah satu dari mereka bisa membeli lukisan ini. Tapi tunggu... Apa yang akan mereka katakan dengan wujud Hisa yang seperti ini? Rambut terurai berantakan, kulit kusam yang bercampur dengan keringat, baju kusut, celana kusut, sendal jepit, dan lukisan indah? Apa mereka tidak berfikir kalau ini semua seakan-akan penipuan? Seakan-akan Hisa adalah orang kaya yang berakting seperti orang miskin. Atau mungkin Hisa baru saja mencuri lukisan dari sebuah museum. Agak ragu, tapi Hisa tetap melanjutkan perjalanannya.
Perempuan itu melihat kebelakang, Hisa sudah agak jauh meninggalkan rumah. Ingin rasanya kembali untuk memeluk Syma dan berkata “Aku mau bantuin kamu jualan tempe ibu, kok!” tapi tidak mungkin. Ia tidak mungkin menarik kata-katanya. Ia harus terus berjalan hingga ada yang mau membeli lukisannya, sedikit kemungkinan untuk pulang dengan membawa uang, tapi lebih sedikit lagi kemungkinan ada keberanian dihati Hisa untuk pulang dengan tangan kosong.
Sekarang sudah jam 12 siang. Biasanya Syma sudah membuka warung untuk berjualan. Tidak, bukan warung. Lebih kecil dari itu, atau bahkan tidak ada standnya. Bagaimana cara Syma menjual tempe sekarang? “Masa bodo.” pikir Hisa dalam hati. “Lukisan ya lukisan aja, gausah mikirin tempe.” Hisa melanjutkan perjalanannya. Sombong, memang, tapi lebih baik begini dari pada ia menangis sambil berjualan tempe, menangis karena sedih akan kehidupannya yang begitu-begitu saja. Apa Michelle tahu tentang ini? Apa dia peduli? Dimana Michelle sekarang? Hisa berharap Michelle datang dan membantunya keliling dunia untuk menjual lukisan ini.
Keluar komplek, rasanya sudah jauh sekali. Lihat sekitarnya, kendaraan dimana-mana, membuat kupig berdengung dan sesak napas. Bagaimana cara ia menuju ke perkomplekan rumah mewah kalau yang ia lihat hanyalah......asap kendaraan. Bagaimana cara ia menyebrang jalan kalau mobil, motor, bus, semuanya lewat dengan kecepatan tinggi, dijalan sekecil ini? Dimana otak mereka. Bahkan Hisa lebih pintar dari pada orang-orang kaya itu. Ia tau bagaimana tata tertib jalanan, tata tertib makan, hal ini bisa Hisa banggakan, orang miskin bisa lebih pintar dari pada orang kaya, walau hanya sedikit orangnya. Setiaknya mereka tidak akan menggunakan kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi dijalanan sekecil ini.
Terlihat sebuah toko lukisan diseberang jalan. Ya, diseberang jalan, bagaimana cara ia menuju kearah sana? Mutar balik? Lelah. Tapi ia ragu akan menjual lukisannya ditempat itu, apa boleh menjual lukisannya ditempat itu? Setahu Hisa, masing-masing toko lukisan menjual koleksi lukisan mereka masing-masing. Ingin rasanya untuk melangkahkan kaki satu langkah kebelakang, berjalan pulang. “Yang benar saja.” bantahnya. Jantungnya berdegup sangat cepat, ini adalah awal dari sebuah karir. “Apa semua orang seperti ini ketika mereka ragu? Atau cuma Aku? Atau cuma orang bodoh yang hendak menjual lukisannya ke toko lukisan orang lain?” lanjutnnya. Tuhan menghendaki, kaki Hisa berjalan satu langkah kedepan, sedikit demi sedikit ia yakin ia bisa sukses. Tapi ada sesuatu yang membuatnya takut. Penjaga toko lukisan itu terlihat seperti orang yang siap untuk memakan manusia hidup-hidup.
Jalanan sudah terlewati, memang sempat Hisa hampir tertabrak motor yang sedang terlihat seperti orang yang terburu-buru. Atau semua pengendara motor memang seperti itu? Ia tidak tahu. Yang pasti, jika ia punya motor ia akan mengendarainya seperti sedang mengendarai sepeda dipagi hari, santai.
Sekarang ia berada didepan toko itu. Melangkah maju dan..... penjaga toko itu menatap matanya dengan sangar. Oh
Tuhan lihat dirinya. Hanya memakai kaos kutang putih dan celana pendek berwarna hijau. Tingginya mungkin hanya sekitar 145cm, beda 20cm dengan Hisa. Badannya agak gemuk... ah, bukan... sangat gemuk. Rambutnya botak ditengah-tengah kepala seperti orang pintar. Kulitnya hitam berkilauan karena terlapisi oleh keringat. Bapak-bapak itu menggunakan kacamata tebal berbingkai hitam. Sungguh, penampilannya sangat tidak sesuai dengan lukisan-lukisan disekitarnya. Semua lukisan yang ada disana terlihat seperti sedang memberinya pencerahan.
“Ada yang bisa saya bantu?” kata bapak itu dengan suara serak. Membuat Hisa lebih takut lagi.
“Itu...semuanya lukisan bapak?” tanya Hisa takut-takut akan dimakan setelah ia bertanya seperti ini.
“Iya, memang kenapa?” tanya bapak itu. Kalau dipikir-pikir cara bicaranya seperti guru fisika disekolahnya ----sekolah lamanya.
“Ini, Pak. Kalau boleh, saya mau ngejual lukisan ini ke bapak, tapi kalau nggak boleh juga nggak apa-apa sih.” Hisa menjawab dengan ragu, sekarang ia takut badannya akan terbagi mmenjadi 28 bagian.
“Bagus, bapak bayar lima juta mau? Apa kurang?” kata bapak itu dengan polos. Apa katanya? Kurang? Bagi Hisa lima juta adalah anugrah bagi keluarganya. “Tapi kamu harus beri tanda tangan dulu dipojok lukisan ini, beri tanda kalau lukisan ini kamu yang buat. Bapak nggak mau membajak karya orang.” bapak itu memberikan sepidol papan tulis kepada Hisa, menyuruhnya memberi tanda tangan.
Hisa selesai memberi tanda tangan. Bapak itu membuka laci kayunya dan mengeluarkan tumpukan uang. Perempuan ini berharap uangnya tidak hilang lagi.
“Om!” terdengar suara dari depan toko.
Hisa menengok kebelakang. Michelle berdiri bersama.....
BERSAMBUNG KE PART 9



No comments:
Post a Comment