“Kak, kakak jangan gambar kayak gitu, ah. Sakit hati aku, Kak. Beneran deh nggak bohong.” saran Syma dengan dahi mengkerut. Mulutnya terbentuk seperti orang yang sedang meliihat film menjijikan yang akan muntah angin.
“Lah? Kenapa emang?” tanya Hisa heran yang sedang asik dengan sketsanya.
“Ngareeeeeppppp.” jawab Syma dengan singkat, dan cukup jelas.
Kamar mandi. Itulah yang mulai terbentuk diatas kertas gambar Hisa. Bedanya kamar mandi yang ini lebih bagus... JAUH lebih bagus daripada kamar mandi yang mereka punya. Perbandingannya 1 : 999.999.999 dengan rating 2% untuk 1 dan 99% untuk 999.999.999. Apa yang Hisa buat? Sebuah kamar mandi dengan bak mandi yang besar dan menghabiskan space seperempat ruangan, closet yang bersih dengan bentuk klasik, wastafel dengan kaca super besar didepannya, lemari baju dikanan dan kiriwastafel, dan... yang ini tidak kelihatan jelas.
“Kalau yang itu apa, Kak?” tanya Syma sambil menunjuk gambar disebelah closet.
“Oh itu ceritanya pispot, Dek. Kalau ada anak bayi kan nggak mungkin langsung bisa makai closet, yakan?” Hisa menjawab dengan intonasi cepat seperti orang salting dan mengakhiri kalimatnya dengan senyuman gigi yang lebar.
Adiknya tidak memberikan jawaban apa-apa... pengecualian untuk helaan nafas panjangnya dan matanya yang berputar-putar seperti bianglala. Hey, apa yang salah dengan sketsa kamar mandi? Ini namanya harapan dan harapan dan kalau tidak ada harapan tidak akan ada orang sukses didunia ini. Lagi pula tidak ada salahnya kan membuat sketsa kamar mandi? Jarang-jarang juga ada orang yang memasang lukisan dikamar mandinya. Siapa tahu sekarang akan ada yang membeli sketsanya, lalu dibingkai, dan dipanjang dikamar mandinya, dibayar mahal, walau agak tidak mungkin.
Sketsa itu selesai. Tampak sempurna, walau mungkin tidak sempurna. Tampak seperti sketsa tiga dimensi. “Berguna juga punya kamar mandi jelek...” pikiran itu terlintas dikepala Hisa secara tiba-tiba. “...kalau nggak ada kamar mandi kayak gitu aku nggak mungkin bisa bikin sketsa... Design kamar mandi?” PERFECT! Ini bukan sekedar sketsa kamar mandi tapi juga bisa menjadi design kamar mandi. Sekarang ia mengalihkan pandangannya kesebuah tanah liat di seberang matanya. “Aku bisa jadi design interior terkenal. Aku yakin itu.” ia berjalan kearah tanah liat tesebut dan mulai membuat sesuatu yang belum pernah ia buat sebelumnya. Kalian tahu? Design Kamar tidur tiga dimensi, dengan bentuk tanah liat.
Sekarang ia benar-benar bingung. “Tanah liat tuh cara makai nya kayak gimana, sih?” pertanyaan itu terulang ulang diotaknya.
SUKSES! Tapi tidak sukses. Sukses tangannya kotor dan tanah liat yang tidak terbentuk. Ia lupa kata-kata Michelle, “Basahin dulu ya, Sa, tanah liatnya.” ya ya ya, kenapa kalimat itu baru terpikir kembali setelah tangannya terlanjur kotor? Ia mengulang pekerjaannya lagi, beruntung karena persediaan tanah liatnya masih banyak.
Yang kedua lebih baik. Oh maaf... JAUH lebih baik. Seperti nyata. Dagu Syma tidak bisa ditutup rapat. Siapa yang tidak terkesima dengan sebuah tanah liat yang tidak dibentuk guci atau asbak? Hisa membuatnya lain dari yang lain.
Miniatur ini dibuat seperti sebuah ruangan yang tidak memiliki sisi dibagian depan dan atas. Kalau dilihat dari depan, dibagian sisi kanan tengah terdapat satu pintu. Dan kalau dilihat dari dalam, disisi kanan itu ada banyak interior seperti meja belajar, lemari baju, baju yang sedang digantung, dan tempat sampah kecil disebelah lemari baju.
Kalau dilihat dari depan, terdapat tumpukan kertas menggunung dipojok kanan belakang. Dan ditengah-tengah ruangan dekat tembok terdapat sebuah meja kecil memanjang dengan sebuah lampu tidur ditengah, laptop dikri, dan radio dikanan. Disebelah meja tersebut terdapat sebuah tempat tidur. Hisa membentuk tempat tidur itu dengan sangat baik. Tidak hanya tempat tidurnya, yang lainnya juga. Pada bagian tempat tidur Hisa membuatnya terlihat sangat empuk dan hangat. memilik volume dan bentuk yang sesuai. Bentuk agak kembung pada bagian bantal, kasur, guling, dan selimut. Dan bentuk keras, kaku, dan lurus ataupun miring-miring. Begitu juga dengan meja, lemari dan yang lainnya. Tampak seperti nyata. Tumpukan kertas dipojok ruangan tampat seperti tumpukan kertas sungguhan, sayangnya lebih tebal. Tapi kertas itu benar benar terlihat jatuh berantakan. Hampir sempurna. Dinding miniatur tersebut juga bukan hanya sekedar dinding rata, Hisa membuatnya seperti dinding tersebut memiliki wallpaper. Kau tahu? Hisa mengukirnya. Dan hebatnya miniatur ini dibuat seukuran dengan ukuran printer hp 1200, dan ia menyelesaikannya dalam waktu... 7,5 jam
“Symaaa, aku nitip miniaturnya ya, jangan pegang-pegang sampai miniaturnya kering, soalnya mau aku jual, oke?” kata Hisa sambil beranjak meninggalkan rumah sambil membawa sketsa yang baru selesai ia bikin tadi.
BERSAMBUNG



No comments:
Post a Comment