Syma agak khawatir untuk mengatakan ini. Tidak... jangan berpikiran kalau mereka tidak punya WC, mereka punya, “Itu tuh ada pintu kecil disitu.” ia mengatakannya dengan muka yang agak tidak bisa dipercaya. Seakan ia memberitahu letak WC yang sebenarnya adalah gudang.
“Beneran, Sym?” tanya Hisa ragu. Tentu saja, mukanya tidak meyakinkan.
“I... iya, Kak. Bener deh sumpah nggak bohong.” sekarang keringat Syma mengalir dari ujung tengah kepala sampai dagu, jatuh kelehe, mengalir kebalik baju.
“Kamu ngelawak?” Hisa tampak sangak terkejut saat membuka pintu kecil tersebut.
Mengkhawatirkan. Lebih dari itu. Bahkan kata-kata ‘mengenaskan’ tidak cukup untuk menjadi kalimat inti dari apa yang harus dideskripsikan. Lihat dari bawah. “Tunggu-tunggu, apakah itu sebuah... lubar saluran air? Sekecil itu? Benarkah? Apa aku sedang mengantuk? OH! Mungkin ini mimpi!” dan semua yang ia anggap mimpi ini menjadi jelas ketika ia selesai mencubit tangannya dan berteriak keras didalam kamar mandi yang bahkan tidak ada WCnya, hanya ada... lubang saluran air. Sekarang lihat sedikit lebih keatas. Apa itu hijau-hijau didinding? Lumut? Ya itu lumut. Dan kalau dilihat lebih atas lagi. “Apa mataku rusak atau aku tidak perlu menggunakan kacamata lagi tapi apa yang akan terjadi kalau hujan?” seperti ada bor didada Hisa. Tidak ada atap. Tidak ada sama sekali. Ini lebih buruk dari pada lumut. Baiklah, setidaknya situasi ini tidak lebih diperburuk dengan tidak adanya keran. Mereka punya keran. Yang airnya keluar dua tetes per tiga detik.
Pintu kamar mandi dibuka, dan ditutup kembali dengan pelan. Lihat mukanya, lihat muka Hisa. Mukanya seperti perempuan frustasi yang tidak punya niat untuk hidup. Mulutnya tebuka satu senti, kantung matanya terlihat lebih kebawah, dan badannya terlihat bungkuk. “Aku nggak jadi buang air, Sym. Nggak napsu lagi.” Hisa berkata jujur seraya mengambil bantal disebelah Syma lalu berusaha untuk tidur.
“Nggak takut ngompol, Kak?” tanya Syma merasa bersalah.
Pertanyaan itu dijawab dengan suara dengkuran Hisa. Syma bersumpah akan membersihkan lantai dan selimut kalau-kalau Hisa buang air dicelana. Seharusnya Syma memberitahu lebih baik buang air dirumah tetangga seperti dirinya daripada memberi tahu kalau mereka punya kamar mandi sendiri.
---
Sekarang Hisa dan Ibunya sama-sama bangun. Sekarang jam 12 siang. Hisa berandai-andai biasanya apa yang sedang ia lakukan disekolah saat ini. Ohiya, istirahat. Apa yang ia lakukan saat istirahat? Terakhir kali ia membuat sebuah gambar yang kena caci-makian dari seorang guru yang bahkan sekarang ia sudah lupa namanya saking tidak peduli, dan mungkin ia akan membuah sebuah gambar lagi tanpa akan ada yang mengkritik. Ini hidupnya. Hidup barunya, dan ia bisa melakukan apapun yang ia mau.
Ia bergerak dari arah tempatnya tidur (tidak bisa menyebut tempat tidur karena tidak ada tempat tidur disitu) dan meraih sebuah buku sketsa. Sekarang apa yang ia bayangkan dikepalanya? “Oooooh! Tuhan tolong hilangkan bayangan ini dari kepalaku!” musibah, ia baru saja membayangkan kamar mandinya yang super..... mengenaskan. Lebih dari mengenaskan. “Itu bayangan pertamaku kalau aku membayangkan yang lain pasti hasilnya nggak akan sebagus apa yang aku bayangin pertama, kan? Tapi aku nggak suka kamar mandinyaaa!!!” keluhan dalam hati menggebu-gebu. Kalau ada obat pill yang kalau kita minum bisa merubah kamar mandi dalam sekejap, ia akan membelinya berapapun harganya. “Tapi aku bisa membuat kamar mandi yang lebih bagus, kan?” suatu ide mulai muncul. Hisa mengambil pensilnya dan mulai menggaris.
BERSAMBUNG KE PART 10



No comments:
Post a Comment