sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Wednesday, December 2, 2009

part 10 (2.2)

Pintu rumah dibuka, ada sedikit cahaya yang memasuki rumah kecil tersebut, lalu kembali hilang karena pintu ditutup lagi oleh Hisa. Ia beranjak dari rumah dan siap menjual sketsa design kamar mandinya. Mungkin hal ini akan menjadi pekerjaan rutin Hisa setiap hari. Tapi perkarya tidak akan ia jual ditempat yang sama. Mereka bilang “Dunia itu sempit.” tapi Hisa berpendapat pikiran merekalah yang sempit, karena dunia itu sangat luas dengan berbagai macam orang didalamnya. Dan banyak hal yang tidak kita ketahui tentang dunia ini saking luasnya.


Ini akan menjadi pekerjaan menetap untuk seorang Hisa Anastasya. Membuat karya—mebuat karya lagi—meninggalkan satau karyanya karena yang dijual hanya satu—membawa satu karya dan keluar rumah untuk dijual—menjelajah kota agar bisa menemukan tempat yang pas untuk menjual karyanya—dan tidak semudah itu.


Sekarang ia berusaha menerobos gang lewat belakang. Ia tidak tahu denah sekitar sini jadi ia rasa ia akan berkeliling-keliling kota hingga pingsan, bangun lagi, berjalan lagi. Perjalanan dari rumahnya menuju gang belakang lebih dekat daripada lewat gang depan. Hal ini menyadarkan Hisa kalau rumahnya... terbelakang. Bukan masalah. “Yang penting rumahku bisa jadi sumber inspirasi. Harusnya aku bangga.” pikirnya dalam hati. Ia melihat kedepan arah gang belakang. Disektiar sana lebih jarang ada kendaraan bermotor, suasananya lebih sejuk tapi juga lebih seram karena banyak pepohonan besar. Gang belakang itu hanya disinari sinar matahari yang dihalangi beberapa daun pepohonan. Tidak ada lampu jalanan seperti digang depan. Disini juga tidak ada gedung-gedung besar seperti digang depan, yang ada hanya pondok-pondok kecil tertutup yang terlihat sangat sepi. Tidak bising karena adanya kendaraan-kendaraan bermotor.


Ia melihat kesekelilingnya. Semuanya tampak damai didalam kegelapan. Hisa berfikir, Aku berharap aku mempunyai kedamaian seperti ini dulu, walaupun hidupku gelap dan suram.” sambil melangkahkan kakinya dan melihat ke sisi kanan dan kiri. Ia menemukan beberapa toko kecil yang menjual aksesoris rambut atau pondok yang menjual ikan-ikan atau daging-gading. “Masalah besar bagiku jika... Oh Tuhan jangan hancurkan harapanku.” tadinya Hisa ingin berkata, “Jika disini tidak ada pondok untuk menjual perabotan kamar mandi.” tapi kata-kata itu tidak terucapkan setelah Hisa melihat dua danau dibelakang pondok-pondok kecil itu. Mengerti maksudku? Mereka menggunakan sistem MCK, bukan kamar mandi pribadi.


Sudah terlalu jauh untuk memutar balikan badan dan pergi pulang. Lagipula ia paling benci dengan yang namanya pulang tanpa hasil. Hal itu mengingatkan dia dengan guru seni rupa yang mengesalkan itu. Ia tetap berjalan sambil berharap agar ia dapat menemukan toko perabotan kamar mandi yang ia maksud. Walau agak tidak mungkin. Walau harapannya mulai pupus karena sistem MCK. “Seharusnya aku mencari toko digang depan.”


Keinginan untuk maju memang tidak pernah membuahkan sebuah penyesalan. Bukan berarti ia menemukan tempat perabotan kamar mandi. Tapi ia melihat sebuah pondok luas yang tertera tulisan besar diatas pondoknya, “KREASI INSPIRASI”. Ia tidak mengerti apa maksud dari nama tokonya tapi ia memutar balikan badannya dan berlari kearah rumah. Toko itu adalah toko dimana kita bisa menjual berbagai macam miniatur dari berbagai macam benda. Dan tentunya tanah liat termasuk diantaranya. Hisa berlari sekencang ia bisa (walau sempat terselengkat kerikil) agar bisa sampai masuk rumah. Ia tidak peduli dengan miniaturnya yang masih basah, ia yakin miniaturnya akan laku terjual mahal ditempat tadi (karena miniatur yang dijual bagus-bagus.). Dan uang yang ia dapat akan ia tabung bersamaan dengan uang yang ia dapat dari lukisan si bapak-bapak seram kemarin. Tabung. Bukan menggunakan.


Ia sampai rumahnya dengan keringat dan muka merahnya. Sekarang poninya terlihat seperti rambut singa. Syma melihat Hisa yang masih memegang sketsanya. Mukanya menunjukan muka iba kepada Hisa. Tapi sekarang mukanya seperti orang bingung ketika ia melihat Hisa melempar sketsanya dan mengambil miniaturnya yang masih basah. Hisa keluar rumah lagi tanpa bilang permisi. “Ia mulai sinting.” pikir Syma.


Hisa berlari lagi menuju pondok yang tadi. Kali ini ia melepas sendal jepit karet sebelah kanannya karena ia merasa sendal jepit itu mengganggunya. Ia memperkencang larinya. Jalannya terasa lebih jauh dari pada sebelumnya. Yang ia sadari ia baru saja berlari kearah gang depan. Maka ia harus memutar balikan badannya (lagi) untuk pergi ke gang belakang. Larinya lebih kencang lagi. Seorang nenek-nenek tua yang sedang duduk dikursi depan rumahnya memperhatikan Hisa. Hisa sempat mendengar nenek itu berkata, “Olah raga disore hari itu memang baik. Anak rajin.” dan ia membalasnya dalam hati,


Tidak, Nek, aku tidak suka olah raga. Dan sejujurnya aku benci berlari seperti ini. Tapi ini demi ibu dan Syma. Lagi pula aku lelah berlari-lari sambil membawa miniatur yang tidak mini. Kalau nenek mau ikut berlari denganku sambil membawa miniatur ini aku akan sangat senang.


Memperlambat kecepatan berlari. Lihat apa yang ia lihat didepannya, benda itu adalah sendal jepit yang baru saja ia buang tadi. Tapi ia mengambilnya kembali dan memakainya. Ia perlu berjalan dengan tenang.


---


Ia sampai dipondok dan yang tadi. Tangannya menjulur kedepan sambil berkata, “Aku mau jual ini.” dengan nafas yang tidak teratur.


Ibu-ibu penjual miniatur itu.......



BERSAMBUNG KE PART 11

No comments:

Post a Comment