sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Sunday, November 29, 2009

part 9 (1.2)

Kalau ada air keran ditempat itu Hisa akan segera mencuci matanya. Ia melihat Michelle yang sedang berdiri bergandengan tangan dengan seorang anak kecil yang baru saja memberi Hisa amplop berisi uang pada malam hari. Adiknya? Bukan, sepupunya. Bukan, anak angkat. Bukan, oh tidak Hisa tidak punya akal lagi. Hisa ingin menyapa Michelle tapi ia ragu. Apa yang akan Michelle katakan? “Kenapa kamu bisa disini? Ini kan jauh dari rumahmu.” apakah kalimat itu yang akan Michelle ucapkan? Atau “Maaf aku nggak ngasih tau sebelumnya. Aku udah tau kalau rumah kamu...PLAK!!! Hisa menampar pipinya sendiri. Apa yang ia pikirkan? Michelle adalah temannya yang mungkin akan tidak sering bertemu lagi karena Hisa tidak mungkin pergi kesekolah. Ia memutuskan untuk menghampiri Michelle dan memulai pembicaraan.


“MICHELLE!” teriak Hisa sambil membuat senyuman palsu. Sebenarnya Hisa ingin pergi dari tempat itu, saat itu juga.


“Hisa? Halo!” kata Michelle dengan nada agak ragu, agak bingung, dan seperti orang yang sedang merasa bersalah.


“Dek, ini bayarannya.” selak bapak-bapak tua yang dipanggil dengan sebutan “Om” oleh anak kecil yang sedang bergandengan tangan dengan Michelle tadi.


“Eh, iya makasih, Pak.” Hisa mengambil uangnya lalu berjalan kearah pintu ditempat Michelle dan Si Anak Kecil berdiri. Memeluk Michelle dan berkata “Aku bakalan kangen banget, Chelle, sama kamu. Aku udah nggak mungkin kesekolah lagi.”


“Maaf ya, Sa. Aku udah dikasih tau Tiyo sama Teyo. Aku bakal sering-sering kesini, kok! Aku janji.” membalas pelukan Hisa, Michelle berbicara dengan mulut yang sedikit gemetar.


Hisa melepas pelukannya. Pergi meninggalkan Michelle dan kembali keperkomplekan rumah barunya. Ia bisa mendengar Si Anak Kecil berbicara dengan halus di belakang Hisa, “Kakak lukisan jangan pergi dulu.” suaranya sangat polos. Hisa tidak memutar balikan badannya. Ia terus berjalan... berlari kecil... dan berjarak semakin jauh dari Michelle. Ia baru saja melakukan hal bodoh. Ia memeluk Michelle, dan seharusnya Michelle tidak pantas untuk menerima pelukan seorang anak miskin yang kumel seperti Hisa. Disisi lain Hisa juga berpikr kalau ia berhak memeluk Michelle. Ia sahabatnya, walaupun Michelle tidak menganggapnya sebagai sahabat.


---


Tercium bau tempe dari jarak 5 rumah dari rumah Hisa. Hisa melihat rumahnya dari kejauhan. Lihat betapa kecilnya rumah itu. Rumah dengan pagar coklat tua dengan nomor 31 dan dinding putih kotor itu adalah tempat tinggalnya sekarang. Hisa melihat adiknya yang sedang duduk didepan rumah dan menggelar sesuatu... semacam tikar untuk menjual tempenya. Tidak disangka, ramai sekali. Banyak orang berkumpul disana. Orang-orang berdiri mengelilingi Syma yang sedang jongkok mengambil tempe untuk masing-masing pembeli. “Kasihan Syma.” kata Hisa dalam hati. Tapi ia sudah tidak punya tenaga untuk membantu. Sudah lelah lahir batin. Hisa ingin istirahat. Tidur bersama ibunya yang belum bangun dari tadi.


Tunggu sebentar.” pikir Hisa. “Kenapa ibu belum bangun?” Hisa mulai panik. Hisa berlari kedalam rumah dan melihat ibunya yang terkapar dilantai. Beruntung ibunya masih bernafas, mungkin hanya kelelahan. Hal ini mungkin bisa terjadi pada Hisa kalau ia tidur sekarang. Lelah.


---


Hisa terbangun jam tujuh malam. Langit sudah gelap dan ia kelaparan. Ia melihat Syma dan ibunya sedang duduk berdua memandang TV dan menonton berita. Apa lagi yang bisa mereka tonton? Tidak mungkin ada kartun atau film-film action seperti dirumah Michelle. Sinetron? Yang benar saja. Hisa anak terpelajar yang sadar bahwa menonton sinetron sama dengan membodohi diri sendiri. Yang satu-satunya dapat dipelajari adalah berita. Tapi mata Hisa mulai sakit. Ia bosan. Ia lapar.


“Kak, itu makanannya disamping kakak.” kata Syma yang baru saja melihat muka kakaknya seperti orang yang sudah tidak punya niat hidup lagi.


Hal ini membuat Hisa lebih baik. "Ini daging, Tuhan! Ini daging dan sayur! Bukan kerupuk!” syukur Hisa. Ia memakan semuanya dengan cepat dan mengambil air putih disebelah piringnya. Hisa tidak mau terlalu bahagia akan hal ini. Karena ia takut kalau-kalau makanan ini hanya tersedia untuk 2 atau 3 hari dan selanjutnya akan mengecewakan. Tapi ini adalah kesempatannya untuk bahagia. Kini ia makan enak, dan minum air putih asli. Bukan air keran.


Apakah ini akibat minum terlalu banyak atau memang udara diluar dingin, Hisa ingin buang air kecil ---sekarang.

“Syma, WCnya dimana?” tanya Hisa.



BERSAMBUNG

No comments:

Post a Comment