“Tadi pagi aku ngeliat ibu kamu pergi bareng adek kamu, sekitar jam satu pagi menuju setenngah dua. Ayah kamu kemana?” tetangga Hisa yang sudah tua menghampiri Hisa yang mulai keringat dingin. Mukanya pucat dan bibirnya kering. Tumpukan barang ditangannya bergetar. “Wakil kepala sekolah? Apa hak beliau untuk menjual rumahku?” pikir Hisa.
“Ayah pergi. Sekarang mereka kemana?” tanya Hisa.
“Oh, ini aku dititipin alamatnya, kamu mau kesana sekarang? Nginep aja lah dirumahku sebentar, kasihan. Kamu terlihat capek.” kata ibu tua itu.
“Nggak, makasih.” Hisa mengambil kertas dari tangan nenek itu dan pergi.
Tidak ada lagi air mata yang Hisa keluarkan. Cukup. Seharusnya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan Hisa dan keluarganya. Sekarang hanya ada amarah dihatinya. “Ini tidak adil.” kata Hisa dalam hati. “Berbutir-butir air mata aku keluarkan untuk orang-orang sekitarku, tapi apa balasan mereka? Aku akan berhenti menangis.” rasanya Hisa ingin meledak.
Teringat akan semua kejadian yang sudah berlalu. Nilai kliping, kacamata, sepeda, ayahnya yang bangkrut, semuanya. Semuanya ia tangisi. Tapi kalau dipikir ulang, untuk apa menangisi orang yang tidak pernah menangis untukmu? Sekarang saatnya untuk membuat mereka menangis.
Hisa berlari-lari kecil dan berhenti disebuah pohon besar. Ia membaca kertas ditangannya. Ia yakin alamat ini tidak akan lebih jauh lagi.
---
“Sampai.” ucap Hisa sambil menarik nafas dalam-dalam.
Lihat rumah barunya, setengah lebih kecil daripada rumanya yang lama. Apa ini? Gubuk? Dengan 1 WC dibelakangnya? Atau bahkan tidak ada WC sama sekali? Hisa bahkan tidak bisa melihatnya dari luar rumah.
Ia mengetuk pintu, Syma keluar dari rumahnya dengan kaki yang masih terlihat sakit. Bercerita tentang apa yang sudah terjadi. Mobil dinas tiba-tiba datang dan mengusir mereka, memindahkan tempat tinggal mereka, menjual rumah mereka, dan... membuat mereka makin merana. Syma membuka pintu pagar dan Hisa berlari masuk. Ia tidak sabar untuk memamerkan apa yang baru saja ia dapat. Uang untuk makan.
HILANG! Ini baru hal yang dapat ia tangisi, ia menangis lagi, lupa janjinya kalau ia tidak akan menangis. Bagaimana cara ia bayar sekolah kalau-kalau beasiswanya ditarik? Bagaimana caranya ia makan?
“Kak, kakak makin jauh tinggalnya dari sekolah. Mau gimana?” tanya Syma yang baru saja selesai menutup pintu pagar.
“Aku nyerah, aku nggak mungkin sekolah lagi.” jawab Hisa. “Setidaknya aku masih punya barang-barang lukisan yang Michelle kasih.” lanjutnya.
“Ini semua sengaja kak...”
“Semuanya emang keliatan kayak disengaja kok. Gausah heran kalau nasib kita kayak gini, biar Tuhan ngelakuin apa yang dia mau.” selak Hisa.
“Bukan gitu kak, tadi aku diceritain sama orang yang bawa kita kesini.” kata Syma pelan, takut menyayat hati Hisa lebih dalam lagi. “Tadi orangnya bilang kalau mereka itu suruhan dari sekolah kakak. Katanya mereka kasian sama kita yang kesusahan jadi kita dibeliin rumah baru. Terus kita ada persediaan makanan kok dari sekolah kakak, baju juga ada. Jadi...”
“Tutup mulut kamu. Aku enek.” Hisa berkata demikian sambil gemetar.
Membuka cat minyak dan minyaknya, mengambil kanvas dan pensil serta penghapus. Hisa mencoret-coret kanvasnya dengan asal. Dan langsung mewarnainya.
“Kak, itu apa sih? Kok nggak jelas?” tanya Syma heran. Siapa yang tidak heran kalau ada orang marah melukis sesuatu dengan warna yang cerah? Cream, putih, salem, merah sangat muda, kuning keemasan, semuanya Hisa tuangkan diatas kanvasnya. “Mending kakak bantuin aku jualan tempe aja, Kak.”
“Ogah.” Hisa menjawab dengan datar.
Ini yang teman-temannya mau? Teman? Ia tidak bisa memanggil mereka seorang teman, kepala sekolah sekalipun. Bagaimana dengan Michelle? Lihat saja nanti. Sekarang yang ada dipikiran Hisa adalah bagaimana caranya untuk memutar balik fakta.
BERSAMBUNG



No comments:
Post a Comment