sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Friday, November 27, 2009

part 7 (2.2)

Hisa melamun sejenak. Membayangkan rumahnya akan berubah dalam satu detik menyerupai rumah Michelle. Membayangkan hidupnya sebahagia hidup Michelle. Membayangkan mukanya akan secantik muka Michelle. Membayangkan apa yang ada didiri Michelle berpindah kedirinya.


“Kamu beruntung baget, Chelle. Aku iri. Tapi aku yakin aku pasti bisa kayak kamu.” jawab Hisa.


“Kayak aku? Kayak gimana? Berwarna itu maksudnya apa?” Michelle kebingungan.


“Aku harus ngasih tau ibu, Chelle!” Hisa mengalihkan pembicaraan dan kembali kekamar Michelle.


Tidak seperti biasanya, Hisa menuju kamar Michelle dengan cepat tanpa nyasar terlebih dahulu. Ia mengambil semua barang-barang yang ia punya lalu bergegas keluar kamar. Bertujuan untuk pulang, mengubah hidupnya, mewarnai hidupnya. “Tidak selamanya orang miskin itu harus hidup dalam sebuah kesedihan. Tidak selamanya orang miskin harus bergantung kepada orang lain yang lebih kaya. Aku bisa membuktikan kalau aku juga mempunyai warna hidup yang sama seperti orang kaya lainnya!” pikir Hisa dalam hati.


“CHEEEELLEEE!!” Hisa berteriak sambil berlari-lari kecil menuruni tangga.


“Lah, Sa? Mau kemana?” tanya Michelle kebingungan,


“Aku pamit pulang ya, Chelle. Aku ngerasa udah banyak ngerepotin kamu. Sekarang aku mau nunjukin sesuatu sama ibu. Aku pulang dulu ya, hari Senin minggu depan kita ketemu lagi disekolah, okay? Dah Michelleee!” Hisa berlari kearah pintu rumah Michelle dengan barang-barang bertumpuk ditangannya. Menghalangi pemandangan untuk melihat jalan kedepan. Sepertinya hal itu bukan masalah bagi Hisa. Ia terlalu semangat untuk memulai kehidupannya yang baru.


Jalanan mulai gelap. Sudah gelap. Hisa lupa kalau jarak rumah Michelle kerumahnya sangatlah jauh. Ia tetap berlari dipinggiran jalan tol. Tidak peduli dengan sautan-sautan abang jalanan yang selalu memanggilnya. Terjatuh... bangun, lanjut berlari. Ada beberapa orang yang berkata “Anak gadis kok lari-lari dijalan tol malam-malam begini?”. Mungkin masalah. Hisa juga merasa tidak layak. Tapi ini semua bukan salah dia. Anak miskin memang mereka nilai lebih pantas hidup dijalanan bukan? Karena itu apa kata mereka, Hisa turuti, dan akan Hisa putar balik kata-kata mereka setelah bertemu dengan ibunya nanti.


---


Mungkin ini anugrah dari tuhan. Seorang anak perempuan cilik yang terlihat seperti anak umur 5 tahun menghampiri Hisa yang berkeringat dan memberi sekotak jus apel kepada Hisa.


“Halo, Kak!” sapa anak itu.


“Eh? Halo juga.” jawab Hisa.


“Lukisannya lucu.” kata anak itu datar sambil menunjuk kearah lukisan yang baru saja Hisa buat bersama Michelle. Kalau dipikir-pikir anak kecil ini mirip dengan Michelle.


“Makasih ya, De. Hehe. Kakak mau pergi dulu, ya. Buru-buru nih.” jawab Michelle yang bergegas melangkahkan kakinya 1 langkah kebelakang untuk meninggalkan tempat itu. Dia baru sadar ia berada ditempat peristirahatan yang sering ada di jalan tol. Jam berapa sekarang? Tengah malam? Hisa yakin Hisa sempat tertidur sebentar lalu bangun dengan keadaan beridiri.


“Aku mau itu tapi.” anak kecil itu menarik lukisan yang dibuat Hisa. “Ini buat kakak.” anak itu memberikan amplop tebal dan berlari membawa lukisan Hisa, kembali kemobil anak tersebut dan mobil itu pun pergi.


Hisa kembali pulang dengan jalan kaki. Ia masih penasaran dengan apa yang ada didalam amplop itu. Sekarang sepertinya sudah jam 1 pagi. Hisa tidak punya jam untuk tau waktu. Ia membuka amplopnya sambil berjalan. Tuhan maha adil. Isinya tumpukan uang rupiah berwarna biru, Hisa yakin ibunya akan bangga.


Ia berlari semakin kencang. Percaya ibunya akan 100% bangga dengan apa yang telah ia dapat. Berlari pulang.


---


Ingin rasanya menangis pada saat itu juga. Ia sampai rumah jam 5 pagi, seharusnya ia mendengar ibunya bermain angklung dari dalam rumah. Tapi sekarang bahkan ia tidak tahu dimana ibunya berada. Dipagar rumahnya ada tulisan “DIJUAL” dengan kata-kata “HUBUNGI PAK SIJO”. Ya. Pak Sijo, wakil kepala sekolahnya sendiri.



BERSAMBUNG KE PART 8

No comments:

Post a Comment