selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)
dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe
sorry
maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)
"kalau aku orang kaya, aku bisa beli apapun yang aku mau, ya? terus kalau uangnya abis gimana?"
"emangnya kalau kira orang kaya kita bisa jadi pinter, ya? kok orang-orang yang naik mobil itu baru aja buang sampah dari kaca jendela, sih? bukannya gak boleh? aku aja yang miskin tau..."
"setau aku kalau ngeliat Michelle... dia itu kaya, tapi jarang banget ketemu sama mama papanya. kalau aku orang kaya, apa aku juga bakalan jarang ketemu sama Syma dan mama?"
"kemarin aku baru aja dikirimin surat sama Michelle, kata dia dia kangen banget sama aku. dia pengeeen banget kerumahku yang baru. tapi neneknya nggak ngebolehin dia ke tempat kumuh. berarti kekayaan bisa ngerusak persahabatan juga dong ya?"
"kalau belanja sayur di mall tuh mahal, kalau dipasar murah, kualitasnya juga terjamin kok. tapi kenapa orang-orang kaya itu kayak jijik ya pergi ke pasar? padahal siapa tau barang-barang di mall itu juga asalnya dari pasar tapi dibikin lebih bagus, bisa kan?'
"berapa sih harta yang mereka punya? kalau mati emangnya uang dibank mereka dikeluarin semuaaaaa dulu terus baru dikubur barengan? ribet bangeeeet!"
"aku nulis buku harian kayak gini bukan mau nyindir orang miskin ya, Chelle. Aku cuma lagi berusaha mikir bagusnya kayak gimana. miskin nggak, kaya nggak, sederhana nggak juga."
"oh mungkin aku lebih baik jadi orang sederhana yang miskin tapi kaya aja kali ya?"
"ya Tuhan aku bahkan nggak ngerti aku ngomong apa"
Syma agak khawatir untuk mengatakan ini. Tidak... jangan berpikiran kalau mereka tidak punya WC, mereka punya, “Itu tuh ada pintu kecil disitu.” ia mengatakannya dengan muka yang agak tidak bisa dipercaya. Seakan ia memberitahu letak WC yang sebenarnya adalah gudang.
“Beneran, Sym?” tanya Hisa ragu. Tentu saja, mukanya tidak meyakinkan.
“I... iya, Kak. Bener deh sumpah nggak bohong.” sekarang keringat Syma mengalir dari ujung tengah kepala sampai dagu, jatuh kelehe, mengalir kebalik baju.
“Kamu ngelawak?” Hisa tampak sangak terkejut saat membuka pintu kecil tersebut.
Mengkhawatirkan. Lebih dari itu. Bahkan kata-kata ‘mengenaskan’ tidak cukup untuk menjadi kalimat inti dari apa yang harus dideskripsikan. Lihat dari bawah. “Tunggu-tunggu, apakah itu sebuah... lubar saluran air? Sekecil itu? Benarkah? Apa aku sedang mengantuk? OH! Mungkin ini mimpi!” dan semua yang ia anggap mimpi ini menjadi jelas ketika ia selesai mencubit tangannya dan berteriak keras didalam kamar mandi yang bahkan tidak ada WCnya, hanya ada... lubang saluran air. Sekarang lihat sedikit lebih keatas. Apa itu hijau-hijau didinding? Lumut? Ya itu lumut. Dan kalau dilihat lebih atas lagi. “Apa mataku rusak atau aku tidak perlu menggunakan kacamata lagi tapi apa yang akan terjadi kalau hujan?” seperti ada bor didada Hisa. Tidak ada atap. Tidak ada sama sekali. Ini lebih buruk dari pada lumut. Baiklah, setidaknya situasi ini tidak lebih diperburuk dengan tidak adanya keran. Mereka punya keran. Yang airnya keluar dua tetes per tiga detik.
Pintu kamar mandi dibuka, dan ditutup kembali dengan pelan. Lihat mukanya, lihat muka Hisa. Mukanya seperti perempuan frustasi yang tidak punya niat untuk hidup. Mulutnya tebuka satu senti, kantung matanya terlihat lebih kebawah, dan badannya terlihat bungkuk. “Aku nggak jadi buang air, Sym. Nggak napsu lagi.” Hisa berkata jujur seraya mengambil bantal disebelah Syma lalu berusaha untuk tidur.
“Nggak takut ngompol, Kak?” tanya Syma merasa bersalah.
Pertanyaan itu dijawab dengan suara dengkuran Hisa. Syma bersumpah akan membersihkan lantai dan selimut kalau-kalau Hisa buang air dicelana. Seharusnya Syma memberitahu lebih baik buang air dirumah tetangga seperti dirinya daripada memberi tahu kalau mereka punya kamar mandi sendiri.
---
Sekarang Hisa dan Ibunya sama-sama bangun. Sekarang jam 12 siang. Hisa berandai-andai biasanya apa yang sedang ia lakukan disekolah saat ini. Ohiya, istirahat. Apa yang ia lakukan saat istirahat? Terakhir kali ia membuat sebuah gambar yang kena caci-makian dari seorang guru yang bahkan sekarang ia sudah lupa namanya saking tidak peduli, dan mungkin ia akan membuah sebuah gambar lagi tanpa akan ada yang mengkritik. Ini hidupnya. Hidup barunya, dan ia bisa melakukan apapun yang ia mau.
Ia bergerak dari arah tempatnya tidur (tidak bisa menyebut tempat tidur karena tidak ada tempat tidur disitu) dan meraih sebuah buku sketsa. Sekarang apa yang ia bayangkan dikepalanya? “Oooooh! Tuhan tolong hilangkan bayangan ini dari kepalaku!” musibah, ia baru saja membayangkan kamar mandinya yang super..... mengenaskan. Lebih dari mengenaskan. “Itu bayangan pertamaku kalau aku membayangkan yang lain pasti hasilnya nggak akan sebagus apa yang aku bayangin pertama, kan? Tapi aku nggak suka kamar mandinyaaa!!!” keluhan dalam hati menggebu-gebu. Kalau ada obat pill yang kalau kita minum bisa merubah kamar mandi dalam sekejap, ia akan membelinya berapapun harganya. “Tapi aku bisa membuat kamar mandi yang lebih bagus, kan?” suatu ide mulai muncul. Hisa mengambil pensilnya dan mulai menggaris.
Kalau ada air keran ditempat itu Hisa akan segera mencuci matanya. Ia melihat Michelle yang sedang berdiri bergandengan tangan dengan seorang anak kecil yang baru saja memberi Hisa amplop berisi uang pada malam hari. Adiknya? Bukan, sepupunya. Bukan, anak angkat. Bukan, oh tidak Hisa tidak punya akal lagi. Hisa ingin menyapa Michelle tapi ia ragu. Apa yang akan Michelle katakan? “Kenapa kamu bisa disini? Ini kan jauh dari rumahmu.” apakah kalimat itu yang akan Michelle ucapkan? Atau “Maaf aku nggak ngasih tau sebelumnya. Aku udah tau kalau rumah kamu...” PLAK!!! Hisa menampar pipinya sendiri. Apa yang ia pikirkan? Michelle adalah temannya yang mungkin akan tidak sering bertemu lagi karena Hisa tidak mungkin pergi kesekolah. Ia memutuskan untuk menghampiri Michelle dan memulai pembicaraan.
“MICHELLE!” teriak Hisa sambil membuat senyuman palsu. Sebenarnya Hisa ingin pergi dari tempat itu, saat itu juga.
“Hisa? Halo!” kata Michelle dengan nada agak ragu, agak bingung, dan seperti orang yang sedang merasa bersalah.
“Dek, ini bayarannya.” selak bapak-bapak tua yang dipanggil dengan sebutan “Om” oleh anak kecil yang sedang bergandengan tangan dengan Michelle tadi.
“Eh, iya makasih, Pak.” Hisa mengambil uangnya lalu berjalan kearah pintu ditempat Michelle dan Si Anak Kecil berdiri. Memeluk Michelle dan berkata “Aku bakalan kangen banget, Chelle, sama kamu. Aku udah nggak mungkin kesekolah lagi.”
“Maaf ya, Sa. Aku udah dikasih tau Tiyo sama Teyo. Aku bakal sering-sering kesini, kok! Aku janji.” membalas pelukan Hisa, Michelle berbicara dengan mulut yang sedikit gemetar.
Hisa melepas pelukannya. Pergi meninggalkan Michelle dan kembali keperkomplekan rumah barunya. Ia bisa mendengar Si Anak Kecil berbicara dengan halus di belakang Hisa, “Kakak lukisan jangan pergi dulu.” suaranya sangat polos. Hisa tidak memutar balikan badannya. Ia terus berjalan... berlari kecil... dan berjarak semakin jauh dari Michelle. Ia baru saja melakukan hal bodoh. Ia memeluk Michelle, dan seharusnya Michelle tidak pantas untuk menerima pelukan seorang anak miskin yang kumel seperti Hisa. Disisi lain Hisa juga berpikr kalau ia berhak memeluk Michelle. Ia sahabatnya, walaupun Michelle tidak menganggapnya sebagai sahabat.
---
Tercium bau tempe dari jarak 5 rumah dari rumah Hisa. Hisa melihat rumahnya dari kejauhan. Lihat betapa kecilnya rumah itu. Rumah dengan pagar coklat tua dengan nomor 31 dan dinding putih kotor itu adalah tempat tinggalnya sekarang. Hisa melihat adiknya yang sedang duduk didepan rumah dan menggelar sesuatu... semacam tikar untuk menjual tempenya. Tidak disangka, ramai sekali. Banyak orang berkumpul disana. Orang-orang berdiri mengelilingi Syma yang sedang jongkok mengambil tempe untuk masing-masing pembeli. “Kasihan Syma.” kata Hisa dalam hati. Tapi ia sudah tidak punya tenaga untuk membantu. Sudah lelah lahir batin. Hisa ingin istirahat. Tidur bersama ibunya yang belum bangun dari tadi.
“Tunggu sebentar.” pikir Hisa. “Kenapa ibu belum bangun?” Hisa mulai panik. Hisa berlari kedalam rumah dan melihat ibunya yang terkapar dilantai. Beruntung ibunya masih bernafas, mungkin hanya kelelahan. Hal ini mungkin bisa terjadi pada Hisa kalau ia tidur sekarang. Lelah.
---
Hisa terbangun jam tujuh malam. Langit sudah gelap dan ia kelaparan. Ia melihat Syma dan ibunya sedang duduk berdua memandang TV dan menonton berita. Apa lagi yang bisa mereka tonton? Tidak mungkin ada kartun atau film-film action seperti dirumah Michelle. Sinetron? Yang benar saja. Hisa anak terpelajar yang sadar bahwa menonton sinetron sama dengan membodohi diri sendiri. Yang satu-satunya dapat dipelajari adalah berita. Tapi mata Hisa mulai sakit. Ia bosan. Ia lapar.
“Kak, itu makanannya disamping kakak.” kata Syma yang baru saja melihat muka kakaknya seperti orang yang sudah tidak punya niat hidup lagi.
Hal ini membuat Hisa lebih baik. "Ini daging, Tuhan! Ini daging dan sayur! Bukan kerupuk!” syukur Hisa. Ia memakan semuanya dengan cepat dan mengambil air putih disebelah piringnya. Hisa tidak mau terlalu bahagia akan hal ini. Karena ia takut kalau-kalau makanan ini hanya tersedia untuk 2 atau 3 hari dan selanjutnya akan mengecewakan. Tapi ini adalah kesempatannya untuk bahagia. Kini ia makan enak, dan minum air putih asli. Bukan air keran.
Apakah ini akibat minum terlalu banyak atau memang udara diluar dingin, Hisa ingin buang air kecil ---sekarang.
“INI TUH LIAT! SELESAI!” teriak Hisa memamerkan lukisannya kepada Syma. Lukisan abstrak, terlihat sangat berkilauan. “Aku gamau tahu, ya! Pokoknya kalau ibu sudah bangun bilang ke dia aku lagi keliling-keliling rumah buat jual lukisan ini. Aku pergi dulu.” Hisa berdiri dan membuka pinturumah, memakali sendalnya dan pergi.
Kalau dipikir ulang, Hisa tidak tahu kemana ia akan pergi. Banyak tetangga disini, tapi apa gunanya? Tidak akan ada yang membeli lukisannya kalau mereka tidak punya uang. Hisa ingin menuju keluar perkomplekan untuk mencari rumah-rumah mewah yang mungkin salah satu dari mereka bisa membeli lukisan ini. Tapi tunggu... Apa yang akan mereka katakan dengan wujud Hisa yang seperti ini? Rambut terurai berantakan, kulit kusam yang bercampur dengan keringat, baju kusut, celana kusut, sendal jepit, dan lukisan indah? Apa mereka tidak berfikir kalau ini semua seakan-akan penipuan? Seakan-akan Hisa adalah orang kaya yang berakting seperti orang miskin. Atau mungkin Hisa baru saja mencuri lukisan dari sebuah museum. Agak ragu, tapi Hisa tetap melanjutkan perjalanannya.
Perempuan itu melihat kebelakang, Hisa sudah agak jauh meninggalkan rumah. Ingin rasanya kembali untuk memeluk Syma dan berkata “Aku mau bantuin kamu jualan tempe ibu, kok!” tapi tidak mungkin. Ia tidak mungkin menarik kata-katanya. Ia harus terus berjalan hingga ada yang mau membeli lukisannya, sedikit kemungkinan untuk pulang dengan membawa uang, tapi lebih sedikit lagi kemungkinan ada keberanian dihati Hisa untuk pulang dengan tangan kosong.
Sekarang sudah jam 12 siang. Biasanya Syma sudah membuka warung untuk berjualan. Tidak, bukan warung. Lebih kecil dari itu, atau bahkan tidak ada standnya. Bagaimana cara Syma menjual tempe sekarang? “Masa bodo.” pikir Hisa dalam hati. “Lukisan ya lukisan aja, gausah mikirin tempe.” Hisa melanjutkan perjalanannya. Sombong, memang, tapi lebih baik begini dari pada ia menangis sambil berjualan tempe, menangis karena sedih akan kehidupannya yang begitu-begitu saja. Apa Michelle tahu tentang ini? Apa dia peduli? Dimana Michelle sekarang? Hisa berharap Michelle datang dan membantunya keliling dunia untuk menjual lukisan ini.
Keluar komplek, rasanya sudah jauh sekali. Lihat sekitarnya, kendaraan dimana-mana, membuat kupig berdengung dan sesak napas. Bagaimana cara ia menuju ke perkomplekan rumah mewah kalau yang ia lihat hanyalah......asap kendaraan. Bagaimana cara ia menyebrang jalan kalau mobil, motor, bus, semuanya lewat dengan kecepatan tinggi, dijalan sekecil ini? Dimana otak mereka. Bahkan Hisa lebih pintar dari pada orang-orang kaya itu. Ia tau bagaimana tata tertib jalanan, tata tertib makan, hal ini bisa Hisa banggakan, orang miskin bisa lebih pintar dari pada orang kaya, walau hanya sedikit orangnya. Setiaknya mereka tidak akan menggunakan kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi dijalanan sekecil ini.
Terlihat sebuah toko lukisan diseberang jalan. Ya, diseberang jalan, bagaimana cara ia menuju kearah sana? Mutar balik? Lelah. Tapi ia ragu akan menjual lukisannya ditempat itu, apa boleh menjual lukisannya ditempat itu? Setahu Hisa, masing-masing toko lukisan menjual koleksi lukisan mereka masing-masing. Ingin rasanya untuk melangkahkan kaki satu langkah kebelakang, berjalan pulang. “Yang benar saja.” bantahnya. Jantungnya berdegup sangat cepat, ini adalah awal dari sebuah karir. “Apa semua orang seperti ini ketika mereka ragu? Atau cuma Aku? Atau cuma orang bodoh yang hendak menjual lukisannya ke toko lukisan orang lain?” lanjutnnya. Tuhan menghendaki, kaki Hisa berjalan satu langkah kedepan, sedikit demi sedikit ia yakin ia bisa sukses. Tapi ada sesuatu yang membuatnya takut. Penjaga toko lukisan itu terlihat seperti orang yang siap untuk memakan manusia hidup-hidup.
Jalanan sudah terlewati, memang sempat Hisa hampir tertabrak motor yang sedang terlihat seperti orang yang terburu-buru. Atau semua pengendara motor memang seperti itu? Ia tidak tahu. Yang pasti, jika ia punya motor ia akan mengendarainya seperti sedang mengendarai sepeda dipagi hari, santai.
Sekarang ia berada didepan toko itu. Melangkah maju dan..... penjaga toko itu menatap matanya dengan sangar. Oh
Tuhan lihat dirinya. Hanya memakai kaos kutang putih dan celana pendek berwarna hijau. Tingginya mungkin hanya sekitar 145cm, beda 20cm dengan Hisa. Badannya agak gemuk... ah, bukan... sangat gemuk. Rambutnya botak ditengah-tengah kepala seperti orang pintar. Kulitnya hitam berkilauan karena terlapisi oleh keringat. Bapak-bapak itu menggunakan kacamata tebal berbingkai hitam. Sungguh, penampilannya sangat tidak sesuai dengan lukisan-lukisan disekitarnya. Semua lukisan yang ada disana terlihat seperti sedang memberinya pencerahan.
“Ada yang bisa saya bantu?” kata bapak itu dengan suara serak. Membuat Hisa lebih takut lagi.
“Itu...semuanya lukisan bapak?” tanya Hisa takut-takut akan dimakan setelah ia bertanya seperti ini.
“Iya, memang kenapa?” tanya bapak itu. Kalau dipikir-pikir cara bicaranya seperti guru fisika disekolahnya ----sekolah lamanya.
“Ini, Pak. Kalau boleh, saya mau ngejual lukisan ini ke bapak, tapi kalau nggak boleh juga nggak apa-apa sih.” Hisa menjawab dengan ragu, sekarang ia takut badannya akan terbagi mmenjadi 28 bagian.
“Bagus, bapak bayar lima juta mau? Apa kurang?” kata bapak itu dengan polos. Apa katanya? Kurang? Bagi Hisa lima juta adalah anugrah bagi keluarganya. “Tapi kamu harus beri tanda tangan dulu dipojok lukisan ini, beri tanda kalau lukisan ini kamu yang buat. Bapak nggak mau membajak karya orang.” bapak itu memberikan sepidol papan tulis kepada Hisa, menyuruhnya memberi tanda tangan.
Hisa selesai memberi tanda tangan. Bapak itu membuka laci kayunya dan mengeluarkan tumpukan uang. Perempuan ini berharap uangnya tidak hilang lagi.
“Om!” terdengar suara dari depan toko.
Hisa menengok kebelakang. Michelle berdiri bersama.....
“Tadi pagi aku ngeliat ibu kamu pergi bareng adek kamu, sekitar jam satu pagi menuju setenngah dua. Ayah kamu kemana?” tetangga Hisa yang sudah tua menghampiri Hisa yang mulai keringat dingin. Mukanya pucat dan bibirnya kering. Tumpukan barang ditangannya bergetar. “Wakil kepala sekolah? Apa hak beliau untuk menjual rumahku?” pikir Hisa.
“Ayah pergi. Sekarang mereka kemana?” tanya Hisa.
“Oh, ini aku dititipin alamatnya, kamu mau kesana sekarang? Nginep aja lah dirumahku sebentar, kasihan. Kamu terlihat capek.” kata ibu tua itu.
“Nggak, makasih.” Hisa mengambil kertas dari tangan nenek itu dan pergi.
Tidak ada lagi air mata yang Hisa keluarkan. Cukup. Seharusnya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan Hisa dan keluarganya. Sekarang hanya ada amarah dihatinya. “Ini tidak adil.” kata Hisa dalam hati. “Berbutir-butir air mata aku keluarkan untuk orang-orang sekitarku, tapi apa balasan mereka? Aku akan berhenti menangis.” rasanya Hisa ingin meledak.
Teringat akan semua kejadian yang sudah berlalu. Nilai kliping, kacamata, sepeda, ayahnya yang bangkrut, semuanya. Semuanya ia tangisi. Tapi kalau dipikir ulang, untuk apa menangisi orang yang tidak pernah menangis untukmu? Sekarang saatnya untuk membuat mereka menangis.
Hisa berlari-lari kecil dan berhenti disebuah pohon besar. Ia membaca kertas ditangannya. Ia yakin alamat ini tidak akan lebih jauh lagi.
---
“Sampai.” ucap Hisa sambil menarik nafas dalam-dalam.
Lihat rumah barunya, setengah lebih kecil daripada rumanya yang lama. Apa ini? Gubuk? Dengan 1 WC dibelakangnya? Atau bahkan tidak ada WC sama sekali? Hisa bahkan tidak bisa melihatnya dari luar rumah.
Ia mengetuk pintu, Syma keluar dari rumahnya dengan kaki yang masih terlihat sakit. Bercerita tentang apa yang sudah terjadi. Mobil dinas tiba-tiba datang dan mengusir mereka, memindahkan tempat tinggal mereka, menjual rumah mereka, dan... membuat mereka makin merana. Syma membuka pintu pagar dan Hisa berlari masuk. Ia tidak sabar untuk memamerkan apa yang baru saja ia dapat. Uang untuk makan.
HILANG! Ini baru hal yang dapat ia tangisi, ia menangis lagi, lupa janjinya kalau ia tidak akan menangis. Bagaimana cara ia bayar sekolah kalau-kalau beasiswanya ditarik? Bagaimana caranya ia makan?
“Kak, kakak makin jauh tinggalnya dari sekolah. Mau gimana?” tanya Syma yang baru saja selesai menutup pintu pagar.
“Aku nyerah, aku nggak mungkin sekolah lagi.” jawab Hisa. “Setidaknya aku masih punya barang-barang lukisan yang Michelle kasih.” lanjutnya.
“Ini semua sengaja kak...”
“Semuanya emang keliatan kayak disengaja kok. Gausah heran kalau nasib kita kayak gini, biar Tuhan ngelakuin apa yang dia mau.” selak Hisa.
“Bukan gitu kak, tadi aku diceritain sama orang yang bawa kita kesini.” kata Syma pelan, takut menyayat hati Hisa lebih dalam lagi. “Tadi orangnya bilang kalau mereka itu suruhan dari sekolah kakak. Katanya mereka kasian sama kita yang kesusahan jadi kita dibeliin rumah baru. Terus kita ada persediaan makanan kok dari sekolah kakak, baju juga ada. Jadi...”
“Tutup mulut kamu. Aku enek.” Hisa berkata demikian sambil gemetar.
Membuka cat minyak dan minyaknya, mengambil kanvas dan pensil serta penghapus. Hisa mencoret-coret kanvasnya dengan asal. Dan langsung mewarnainya.
“Kak, itu apa sih? Kok nggak jelas?” tanya Syma heran. Siapa yang tidak heran kalau ada orang marah melukis sesuatu dengan warna yang cerah? Cream, putih, salem, merah sangat muda, kuning keemasan, semuanya Hisa tuangkan diatas kanvasnya. “Mending kakak bantuin aku jualan tempe aja, Kak.”
“Ogah.” Hisa menjawab dengan datar.
Ini yang teman-temannya mau? Teman? Ia tidak bisa memanggil mereka seorang teman, kepala sekolah sekalipun. Bagaimana dengan Michelle? Lihat saja nanti. Sekarang yang ada dipikiran Hisa adalah bagaimana caranya untuk memutar balik fakta.
Hisa melamun sejenak. Membayangkan rumahnya akan berubah dalam satu detik menyerupai rumah Michelle. Membayangkan hidupnya sebahagia hidup Michelle. Membayangkan mukanya akan secantik muka Michelle. Membayangkan apa yang ada didiri Michelle berpindah kedirinya.
“Kamu beruntung baget, Chelle. Aku iri. Tapi aku yakin aku pasti bisa kayak kamu.” jawab Hisa.
“Kayak aku? Kayak gimana? Berwarna itu maksudnya apa?” Michelle kebingungan.
“Aku harus ngasih tau ibu, Chelle!” Hisa mengalihkan pembicaraan dan kembali kekamar Michelle.
Tidak seperti biasanya, Hisa menuju kamar Michelle dengan cepat tanpa nyasar terlebih dahulu. Ia mengambil semua barang-barang yang ia punya lalu bergegas keluar kamar. Bertujuan untuk pulang, mengubah hidupnya, mewarnai hidupnya. “Tidak selamanya orang miskin itu harus hidup dalam sebuah kesedihan. Tidak selamanya orang miskin harus bergantung kepada orang lain yang lebih kaya. Aku bisa membuktikan kalau aku juga mempunyai warna hidup yang sama seperti orang kaya lainnya!” pikir Hisa dalam hati.
“CHEEEELLEEE!!” Hisa berteriak sambil berlari-lari kecil menuruni tangga.
“Lah, Sa? Mau kemana?” tanya Michelle kebingungan,
“Aku pamit pulang ya, Chelle. Aku ngerasa udah banyak ngerepotin kamu. Sekarang aku mau nunjukin sesuatu sama ibu. Aku pulang dulu ya, hari Senin minggu depan kita ketemu lagi disekolah, okay? Dah Michelleee!” Hisa berlari kearah pintu rumah Michelle dengan barang-barang bertumpuk ditangannya. Menghalangi pemandangan untuk melihat jalan kedepan. Sepertinya hal itu bukan masalah bagi Hisa. Ia terlalu semangat untuk memulai kehidupannya yang baru.
Jalanan mulai gelap. Sudah gelap. Hisa lupa kalau jarak rumah Michelle kerumahnya sangatlah jauh. Ia tetap berlari dipinggiran jalan tol. Tidak peduli dengan sautan-sautan abang jalanan yang selalu memanggilnya. Terjatuh... bangun, lanjut berlari. Ada beberapa orang yang berkata “Anak gadis kok lari-lari dijalan tol malam-malam begini?”. Mungkin masalah. Hisa juga merasa tidak layak. Tapi ini semua bukan salah dia. Anak miskin memang mereka nilai lebih pantas hidup dijalanan bukan? Karena itu apa kata mereka, Hisa turuti, dan akan Hisa putar balik kata-kata mereka setelah bertemu dengan ibunya nanti.
---
Mungkin ini anugrah dari tuhan. Seorang anak perempuan cilik yang terlihat seperti anak umur 5 tahun menghampiri Hisa yang berkeringat dan memberi sekotak jus apel kepada Hisa.
“Halo, Kak!” sapa anak itu.
“Eh? Halo juga.” jawab Hisa.
“Lukisannya lucu.” kata anak itu datar sambil menunjuk kearah lukisan yang baru saja Hisa buat bersama Michelle. Kalau dipikir-pikir anak kecil ini mirip dengan Michelle.
“Makasih ya, De. Hehe. Kakak mau pergi dulu, ya. Buru-buru nih.” jawab Michelle yang bergegas melangkahkan kakinya 1 langkah kebelakang untuk meninggalkan tempat itu. Dia baru sadar ia berada ditempat peristirahatan yang sering ada di jalan tol. Jam berapa sekarang? Tengah malam? Hisa yakin Hisa sempat tertidur sebentar lalu bangun dengan keadaan beridiri.
“Aku mau itu tapi.” anak kecil itu menarik lukisan yang dibuat Hisa. “Ini buat kakak.” anak itu memberikan amplop tebal dan berlari membawa lukisan Hisa, kembali kemobil anak tersebut dan mobil itu pun pergi.
Hisa kembali pulang dengan jalan kaki. Ia masih penasaran dengan apa yang ada didalam amplop itu. Sekarang sepertinya sudah jam 1 pagi. Hisa tidak punya jam untuk tau waktu. Ia membuka amplopnya sambil berjalan. Tuhan maha adil. Isinya tumpukan uang rupiah berwarna biru, Hisa yakin ibunya akan bangga.
Ia berlari semakin kencang. Percaya ibunya akan 100% bangga dengan apa yang telah ia dapat. Berlari pulang.
---
Ingin rasanya menangis pada saat itu juga. Ia sampai rumah jam 5 pagi, seharusnya ia mendengar ibunya bermain angklung dari dalam rumah. Tapi sekarang bahkan ia tidak tahu dimana ibunya berada. Dipagar rumahnya ada tulisan “DIJUAL” dengan kata-kata “HUBUNGI PAK SIJO”. Ya. Pak Sijo, wakil kepala sekolahnya sendiri.
"Setidaknya aku selalu berusaha membuat ibu bangga." "Lebih baik lagi kalau kamu melanjutkan dagangan tempe ibumu saja, dari pada heboh biaya?" "Tidak, aku bisa membeli alat-alat mahal itu dengan tabunganku" "Lawakanmu cukup lucu"
Dan Hisa meninggalkan nenek itu. Berlari kearah rumah nomor 31 dengan pagar rumah coklat tua dan dinding putih yang kotor, duduk disofa dan mengambil DVD. Berfikir DVD itu akan berguna, selamanya. Keajaiban nya, dirumah Hisa tidak ada DVD player, jadi bagaimana caranya Hisa dapat menonton panduan belajar dari DVD tersebut?
nama saya Adriani Putri dan biasa dipanggil Ni-chan. Hobi saya adalah menggambar, mendengarkan musik, dan membuat cerita-cerita pendek. Di blog ini saya akan menceritakan semua imajinasi yang saya punya.