Terdengar bunyi angklung dari arah meja makan. Hisa terbangun, sekarang baru jam 4 pagi dan ibunya sudah bangun. Seperti biasanya, ibunya bermain angklung selama 17 jam dalam sehari. Bukan karena tidak ada kerjaan, tapi ibu nya sudah seperti terkena hipnotis semenjak nenek pergi. Nenek adalah penjual angklung terlaris dikompleknya, komplek bututnya yang penuh dengan orang sombong, jorok, dan kampungan. sudah berkali-kali keluarga Hisa mencoba pindah rumah, disayangkan tidak punya biaya. Adik Hisa, Syma, tidak sekolah. Ia memilih membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Lagi pula adiknya tidak ingin menyusahkan orang tuanya yang tidak berkecukupan dengan pergi kesekolah. Beda dengan jalan pikiran Hisa, ia memaksa sekolah agar bisa membanggakan orang tuanya dikemudian hari. Sekolah Hisa memang bagus, tapi ia bisa masuk berkat beasiswa dari SMP. Beasiswa memang tidak dicabut, tapi kondisinya berubah semenjak ia menginjakan kaki di kursi SMA. Ia duduk dimeja makan dan berdoa dengan kushu, meminta pertolongan tuhan agar hari ini menjadi lebih baik daripada kemarin, lalu ia berdoa agar tuhan memberkahi makanan yang ada didepan matanya. Bukan nasi dengan telor, ataupun nasi denngan sosis, yang ada hanyalah kerupuk warna-warni, kecap, dan air putih yang diambil dari air keran. Ibunya berjualan
Hisa adalah anak pintar disekolahnya. Ia mendapat beasiswa dan diakui oleh kepala sekolah. Tapi yang tidak ia tahu, mengapa guru-guru tidak menganggapnya sebagai murid berprestasi ataupun murid teladan. Nilai rata-rata rapot Hisa selalu paling tinggi, tapi ia tidak pernah mendapat rengking 1 dikelasnya. Nilai matematikanya selalu perfect, dan ia memenangkan lomba hitung algoritma se-nasional dengan membawa nama sekolah. Ia juga memenangkan lomba baca puisi Bahasa Indonesia dan pidato Bahasa Inggris dengan membawa nama sekolah. Selain itu Hisa juga pernah menemukan penemuan baru yaitu sebuah boneka beruang yang dapat menghasilkan madu dari mulutnya. Bertumpuk-tupuk piagam, bertumpuk-tumpuk penghargaan, semua itu tidak dihargai oleh pihak sekolah. Iya, sekolah menyimpan piala. Iya, sekolah dipandang hebat oleh orang-orang luar, tetapi nama Hisa tidak pernah dicantumkan dalam perlombaan. Pembina atau guru yang mendampingi Hisa saat perlombaan menyuruh nya untuk mengganti namanya menjadi nama murid lain nya. Beruntung tidak terlihat kebohongan nya. Karena jur-juri perlombaan tidak pernah memperhatikan wajah Hisa, hanya mendengar atau melihat hasil karyannya, menilai, memberi score dan menetapkan menjadi juara, tanpa pernah mengingat mukanya, sebanyak apapun Hisa mengikuti lomba. Karena Hisa selalu memakai dan-danan orang yang super dekil saat mengikuti lomba. Dan kemenangan lombanya itu tidak pernah diumumkan disekolah. Selama 1,5 tahun Hisa bersekolah di SMA, selama 1,5 tahun juga ia merasa tidak adil, karena teman sekelas yang mendapat rengking 1 hanyalah anak-anak orang kaya. Entah apa tujuan nya.
Faktor iri pada hati Hisa lah yang membuatnya terus belajar lebih giat belajar. Dan lama-kelamaa wajahnya yang cantik tidak terlihat lagi, terlalu banyak kerutan didahinya saat membaca buku pelajaran. Terlalu membuat mual meja belajarnya yang penuh dengan snack dan cemilan sehat yang tidak pernah membuat nya gemuk. Terlalu suntuk melihat mata merah berair nya yang ditutupi kacamata, dan tidak ditutupi kacamata lagi semenjak kacamatanya pecah.......
BERSAMBUNG



No comments:
Post a Comment