sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Friday, August 28, 2009

part 1 (2.2)

"Jadi sekarang gimana, Kak? Mau beli yang baru?" tanya Syma kepada kakaknya yang hampir menangis karena tidak bisa melihat apa-apa. Makanan yang hendak diambil selalu meleset dari sendok yang ia pegang. Kacamata yang kemarin pecah adalah kacamata satu-satunya yang Hisa punya. Ibunya membeli kacamata tersebut dengan harga tujuh puluh sembilan ribu. Dan bagi mereka, jumlah itu sangatlah besar.
"Mungkin bisa beli yang baru, tapi ditempat lain yang lebih murah. Tabungan kakak baru ada 45 ribu." kata Hisa dengan pasrah sambil mengelap mukanya dengan handuk basah. Berharap setelah ia mengelap muka dan matanya, semua pandangan yang dia lihat bisa kembali normal.
"Apa nanti kamu mau ayah kasih tambahan duit?" kata sang ayah yang tiba-tiba datang. Pintu rumah ternyata lupa dikunci dari kemarin malam, dan ayahnya baru pulang jam setengah 5 pagi. Berkeringat, derdebu, terlihat mengantuk, tetapi jam 6 sudah harus kembali berkerja. "Hari ini ayah mendapatkan bonus dari tetangga, dari 10 ribu menjadi 30 ribu. Lumayan kan?" lanjutnya.
"Tidak usah, Yah." jawab Hisa dengan cepat, masihmengunyah makanannya. "Kalau hari ini ayah memberiku uang jajan seperti biasa, aku masih bisa menabung." lalu Hisa menelan makanannya. Biasanya Hisa diberi uang jajan lima ribu perminggu dari ayahnya. "Aku berjanji aku tidak akan jajan sama sekali. Demi kacamata baru." lanjut Hisa.
Ia meminum setengah gelas air putihnya, lalu beranjak dari kursi dan pergi kekamar. Tidak ada kemungkinan ia bisa tertabrak tembok, karena jarak ruang makan, ruang TV, kamar mandi, dan kamar masing-masing seakan bisa dijangkau dengan 3 langkah kekanan atau kekiri. Hisa membuka pintu kamar dan duduk di kursi kayunya yang reot. Melihat kearah tumpukan buku di meja bambu yang sudah penuh dengan goresan. Mencari-cari buku catatan fisika, biologi, kimia, dan PKn. Lalu memasukan semua buku tersebut kedalam tas. Sekarang masih jam 5 pagi. Hisa pergi ke luar rumah dan duduk dikursi terasnya yang hampir patah. Mengepalkan kedua tangannya sambil berdoa. Lalu menangis.

Syma melihatnya melakukan kegiatan yang rutin setiap hari. Tanpa mengetahui apa alasan kakaknya bisa menangis saat berdoa. Mengapa setiap hari? Mengapa harus menangis? Mengapa tidak cerita kepadanya? Syma menganggap semua orang dikeluarganya gila. Tetapi disisi lain, tanpa keluarganya ia tidak akan bisa apa-apa. Dan sekarang Syma menganggap dirinya sendiri gila. Ia melihat kearah kakaknya lagi. Sudah berhenti menangis. Syma cepat-cepat masuk kedalam kamar kakaknya dan mengambil tas sekolahnya. Ketika Hisa masuk, Syma memberikan tasnya.
"Kakak pergi dulu ya, Dek. Takutnya terlambat. Tolong bangunin ayah, udah waktunya kerja nih. Bilang ke ayah uang lima ribunya udah kakak ambil ya. Pagi." kata Hisa sambil menggunakan tasnya dan pergi keluar rumah, tanpa sepeda, tanpa kacamata.
Sekarang Syma tahu kenapa kakaknya pergi secepat ini. Dia berjalan kaki menuju sekolah.

Hisa sampai tepat pada jam 7 pagi, penuh keringat, nafas tak teratur, muka merah, dan rambut berantakan. Pagar sekolah hampir ditutup, tetapi Hisa menahannya, lagi-lagi semuanya tampak disengaja. Seakan-akan Hisa tidak diterima dilingkungan sekolah itu. Tepat dibelakangnya turunn Michelle dengan mobil Alpardh nya. Terlihat cantik dengan pakaian muslim bebas dan rok abu-abu yang ia kenakan. Menyapa Pak Satpam dengan gigi-gigi rapih, putih, dan berbehel. Berbeda jauh dengan Hisa. Dan untuk sang artis, pagar sekolah dibuka dengan lebar, seakan-akan mobil yang Michelle punya akan ikut memasuki taman sekolah.

Michelle meraih tangan Hisa dan menariknya kedalam kelas. Terlihat semua orang melirik pandangannya ke arah mereka berdua, mulai berbisik, merubah ukuran mata, dan tertawa. Mereka berdua duduk dibarisan kursi dekat pintu.
"Percaya padaku kau lebih terlihat cantik jika tidak memakai kacamata!" Michelle mengucapkan kata-kata itu dan membuat Hisa terloncat dari tempat duduknya, kaget. "Matamu sudah sembuh? Berapa tadinya? Minus 3? Eh, 5 ya?" lanjut Michelle dengan muka girang. "Atau kamu pakai softlens? Cantik loh!" Michelle seperti cacing kepanasan yang tidak bisa berhenti minta tolong.
"Nggak, Chelle. Kacamataku patah kemarin pas kamu nggak masuk. Terus tadi kan aku nggak bisa liat apa-apa, makanya aku kesini jalan kaki." jawab Hisa membuat Michelle merasa bersalah.
"Oh... gitu ya? Hehe. Maaf ya, Sa. Sumpah aku kira kamu pake softlens. Emang kacamat..."
"Chelle, lo dipanggil sama Pak Solar tuh. Gatau mau ngapain tapi disuruh cepetan." kata Tiyo menyelak pembicaraan. "Mending lo pergi cepet-cepet dari pada deket-deket sama orang kumel" bisik nya dengan suara yang dikencangkan dengan sengaja.

Beberapa menit setelah Michelle pergi, guru IPA fisika datang dengan muka mengantuk. Guru itu tidur dimeja guru depan kelas, dan kelas IPA-3 mulai berisik. Ini kesempatan Hisa untuk menenangkan matanya. Ia tertidur dimeja


BERSAMBUNG KE PART 2

No comments:

Post a Comment