sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Friday, August 28, 2009

prolog

* "Tapi kliping ini sudah saya buat dengan susah payah dan saya tidak mengcopy dari internet, Pak! Saya menggunakan otak saya sendiri dan hasil nya bisa mencapai 756 halaman!" terdengar suara dari ruang guru. Semua orang kenal suara tersebut, tidak lain itu adalah suara Hisa Anastasya, yang biasa dipanggil Hisa. Anak perempuan kelas 2 SMA yang terobsesi dengan pelajaran Seni Rupa. *


Perempuan itu berjalan ke taman sekolah. Membenci dirinya sendiri dan merasa dirinya penuh dengan kesalahan. Mukanya berubah merah menahan tangis, kini rambutnya yang dikepang mencuat-cuat, begitulah kondisi fisiknya jika sedang menahan tangis. Kacamatanya berembun, terkena udara panas yang dihembuskan lewat hidungnya. Dia tidak bisa berhenti membolak-balik halaman klipingnya. Dia rasa semuanya sudah lengkap, dia rasa semua syarat sudah terpenuhi, tapi dengan santai gurunya memberi dia nilai C- pada cover klipingnya, dan hal itu membuat dia sakit hati.

Perempuan cantik itu membuka seleting tasnya, berharap bisa menemukan sisir yang sudah lebih dari 7 tahun tidak ia cuci. Banyak rambut nyangkut, berdebu, dan berbau tidak sedap. Dan seperti biasa, ia tidak menemukannya untuk kelima kalinya dalam hari ini, dia lupa membawa sisirnya, dan yang ia bawa adalah sabun cuci tangan berbentuk bunga. Entah bunga apa itu bentuknya. Dia melepas kuncir rambutnya, berusaha menyisir rambutnya dengan kukunya yang bentuknya tidak karuhan, sudah 3 jari yang ia gigiti kukunya hari ini, kemarin sudah 6 dan hal ini lah yang membuatnya tidak bisa naik berat badan, cacingan. Termasuk hobi, menggigit kuku dikala stress menghampiri. Rambutnya tetap berantakan, masih berbentuk bergelombang karena bekas dikuncir. Poninya tidak kalah hancur, sekarang bentuk poninya belah tiga, satu bagian menutupi mata sebelah kanan, satu bagian menutupi mata selebah kiri, dan satu bagian lagi menutupi tulang hidung. Tidak heran jika semua orang yang lewat melihat kearahnya. Karena penampilan nya yang sangat buruk masih bisa didukung dengan seragam batik biru yang sebenarnya bati SMPnya, sedangkan sekarang dia sudah SMA. Tidak banyak orang yang mengenalnya. Dia hanya mempunyai 1 teman yang baik hati menerimanya dilingkungan masyarakat. Tapi orang itu lebih mementingkan temannya yang lain dari pada dirinya. Sebenarnya banyak yang engenalnya, hanya saja dia dikenal dengan nama aneh yang sering disebut-sebut "GASET", dan dia tidak tahu menngapa dia dipanggil seperti itu.

Ia ingin cepat-cepat pulang, tapi bel pulang masih lama, dan ia tidak betah menunggu karena 2 jam pelajaran terakhir gurunya tidak ada. Kabarnya ayah dari guru tersebut meninggal dunia, dan dia adalah satu-satunya anak kelas IPA-3 yang tidak diundang untuk pergi ke acara pemakaman tersebut, alhasil, dari pelajaran pertama sampai terakhir dia bergabung belajar bersama IPA-4, dan semua murid di kelas IPA-4 mempersilahkannya duduk dilantai. Guru pun tidak peduli, karena bagi guru lebih penting uang karena mengajar dari pada muridnya yang sudah buang angin lebih dari 7 kali yang disebabkan masuk angin karena duduk dilantai selama berjam-jam. Perempuan itu menoleh kesebelah kanannya, terdapat masjid besar dan orang-orang berkumpul disana, sulit dipercaya hanya dialah satu-satunya murid yang beragama kristen diangkatannya. Melihat kearah tangan kiri, kearah jam tangan. "Masih satu jam lagi" bisiknya, dan saat ia berbisik, senior lewat dan melirik sinis kearahnya. Rasanya ia ngin masuk kedalam kelas IPA-3 agar mendapatkan kursi, sayangnya kelas tersebut dikunci. Jadi dia harus berpanas-panasan duduk dikursi tengah taman sekolah, karena tempat teduh lainnya sudah ditempati oleh murid-murid lainnya, semua tampak disengaja.

Sekarang ia berdiri, mengambil sepeda bututnya dan menggoesnya kearah luar sekolah. Rindu rumah, rindu bisa duduk ditempat nyaman. Dan ketika ia hendak keluar pagar, Pak Satpam membuka pagar lebar-lebar dan tertawa, semua anak di taman bertepuk tangan dan bersorak gembira karena perempuan itu pergi. Dan ketika sudah 10 meter ban sepedanya menjauh dari sekolah, air mata perempuan itu jatuh, beserta dengan kacamatanya. Pecah, patah, belum bisa membeli kacamata baru, airmata yang keluar semakin banyak dan pandangan semakin buram. Akhirnya ia tertabrak tiang lampu merah, jalanan sepi. Beruntung tidak malu dilihat banyak orang, sial karena tidak ada yang bisa menolong.

"Mungkin ini lah takdir anak perempuan miskin yang dilahirkan tanggal 13 bulan 4" bisiknya sambil merintih kesakitan, berusaha berdiri, dan melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki.





BERSAMBUNG


No comments:

Post a Comment