sebuah cerita tentang orang yang mencari keadilan

welcome = )

selamat datang untuk para pembaca. disini saya akan menceritakan suatu cerita fiktif yang mungkin dapat memberikan inspirasi untuk kalian semua. cerita2nya akan dibagi perbagian, maka jika tertarik, kalian semua bisa melihat cerita2 yang telah saya buat berikutnya dari blog archive yang saya punya. selamat membaca :)

dan buat yang baru pertama kali buka blog ini, bacanya dari prolog dulu ya hehe

sorry

maaf ya kalau suka telat posting abisan kan sibuk juga sekolah hehe maaf ya readolls, tp tetep follow sama tetep baca ya semuanyaaaaa thankyouuuu :)

Friday, August 28, 2009

part 2 (1.2)

“Saya tidur bukan berarti kalian semua bisa berisik! MENGERTI KALIAN?!” bentak guru fisika yang tadi baru masuk. “Hey kamu!” menunjuk kearah Hisa. “Kamu kira kalau saya tidur kamu juga bisa tidur?” sekarang guru tersebut membantik meja Michelle, tepat disebelah meja Hisa, dan membuat kuping Kiri Hisa setangh tuli. “Saya ingatkan kepada kalian, jangan pernah melecehkan guru yang sedang tidur!” protes guru fisika tersebut.

Keadaan kelas sekarang sangat sepi dan sunyi, hanya ada bunyi batuk sekali yang keluar dari mulut Frensy. Dan terdiam kembali. Sekarang tidak ada yang bicara, semua merasa bersalah. Sepertinya “lawakan” Devi tentang Bu Yella terdengar ke telinganya? Siapa Bu Yella? Bu Yella adalah guru yang sedang tidur tadi.

“Devi Anna Savitri.” Bu Yella memulai percakapan kembali. “Apa maksud perkataan kamu tadi?” Tanya Bu Yella dengan tegas.

“Yang, yang mana, Bu?” tanya Devi gemetar.

“Kamu salah satu anak yang masuk 3 besar kan? Nilai Sejarah IPSmu paling tinggi tapi tidak ingat apa yang baru saja kamu ucapkan?”

“Sebentar, Bu. Devi cuma bergurau, lebih baik dimaafkan saja, mungkin Devi sedang butuh hiburan, makanya dia bikin lawakan.” selak Hisa ditengah kesunyian, yang memperburuk suasana.

“Ah, Anastasya, jadi maksud kamu saya adalah objek terbaik untuk dibuat sebagai lelucon?” pandangan Bu Yella menjadi tajam. Penggaris besi didepan mata.

“Bodoh…” bisik Teyo yang duduk dibelakang Hisa.

“Banget!” bisik Tiyo yang duduk disebelah Teyo.

“Saya tidak bermaksud mebela Devi, Bu, tapi….”

-- tok, tok-- “Permisi, Bu, maaf saya telat. Saya baru selesai dipanggil buat nyambut tamu soalnya, hehe” tiba-tiba Michelle masuk dan menghangatkan suasana.

“Oooh, Michelle, putri dan maskot IPA-3 serta sekolah, silahkan duduk, Nak. Kita baru saja akan memulai pelajaran.” sambut Bu Yella. Murid-murid yang lain tersenyum lega akan kedatangan Michelle.

Pelajaran dimulai seperti biasa lagi. Teyo dan Tiyo memberi ucapan terima kasih kepada Michelle.

“Great job, Chelle! Untung lo dateng! Kalau nggak kelas IPA-3 bisa ancu gara-gara si GASET” Michelle tertawa kecil. Hisa mendengarnya, dan melanjutkan menulis catatan.


Sekarang mereka semua harus mengerjakan soal latihan diskusi hingga ganti jam pelajaran. Hisa ingin segera memutar balikan kepalannya dan memulai pelajaran baru. Karena selama berdiskusi dengan Teyo, Tiyo, dan Michelle, saran dan pendapatnya tidak pernah didengarkan sampai Michelle yang menyampaikannya. Hisa merasa bersyukur memiliki teman cantik dan baik seperti Michelle, karena setidaknya tidak semua orang mengabaikan pendapatnya. Disisi lain kalau Michelle tidak ada juga menjadi hal menyenangkan untuk Hisa. Jika Michelle tidak ada Teyo dan Tiyo tidak akan mau bekerja sama dengan Hisa, dan akan membuat nilai mereka berdua tidak akan lebih dari angka 6. Hisa mengangkat kepala dari arah buku, melihat kesampingnya, Michelle.

"Chelle, nanti aku minjem buku paket fisikanya ya, catatannya tadi belum lengkap." Hisa membuat Teyo dan Tiyo melirik kearah nya. Mereka berdua seakan berkata "Jangan pernah ajak bicara tuan putri kami."

"Oh, ini ambil aja, Sa. Aku nggak lagi butuh kok, ulangan masih lama ini, hehe." kata Michelle sambil mendorong buku paket fisikanya secara halus.

"Ya ampun, Chelle, lo baik banget ya... Orang dekil kayak dia aja mau lo pinjemin buku. Kalau gue sih takut buku gue pulang-pulang udah bau comberan" Teyo melawak membuat Tiyo tertawa terbahak-bahak.

Pembicaraan terhenti oleh buyni bel pergantian jam pelajaran. Michelle mengelus pundak Hisa, menyuruhnya untuk sabar.

"Beginilah Michelle." pikir Hisa. "Selalu membuat emosiku naik turun." lalu Hisa menganggukan kepala, dan mengambil buku biologi dari dalam tas nya.


Pelajaran biologi berlalu dengan lancar, sekarang waktunya istirahat. Hisa biasanya pergi ke kantin bersama Michelle, dan ditinggal dikatin oleh Michelle, biasanya Michelle diajak duduk bersama teman-temannya yang gaul dan ia tidak bisa menolak. Tapi sekarang Hisa tidak pergi ke kantin. Ia sudah berjanji untuk menyimpan uang yang diberikan ayahnya untuk membeli kacamata yang baru. Sekarang ia sendiri di kelas, tidak ada kerjaan. Ia mengambil 1 lembar kertas HVS yang lecek dari tasnya. Berusaha menggambar 2 perempuan cantik yang di ibaratkan adalah Michelle dan Hisa yang sedang duduk berdua. Hisa mengambil pensil 2B nya yang tumpul dan mulai menggambar. "Selama ini aku mempelajari materinya..." pikirnya sambil terus mmenggambar "kenapa aku jarang sekali mempraktekan nya?..." lalu ia menambahkan efek-efek cahaya pada gambarnya. "Ini sangat mudah dan menyenangkan..." kemudian ia menebalkan gambar yang ia buat dengan sepidol. "Menyenangkan dan, aku rasa meggambar bisa melepaskan semua emosi dikepalaku. Kenapa tidak pernah ada praktek menggambar ya?" pikirnya lagi. "Seharusnya ada praktek nya..." sekarang ia mengambil pensil warna dari tas Michelle, pikiran nya tak terkendali. "Mungkin ini alasan aku mendapatkan nilai C-, aku mengerti materi, tetapi tidak pernah tau cara mempraktekan nya. Mudah, menyenangkan, melepas emosi, tapi pergoresan ku buat tanpa emosi." sekarang Hisa benar-benar gila. "AKU HARUS MEMBUAT KLIPING YANG BARU!" Ia berteriak sambil menggenggam kertas yang baru saja ia coret dengan beberapa garis dan goresan, membuat 5 orang yang duduk dikelas melirik kearahnya, berpendapat Hisa memiliki dunia sendiri. Sekarang Hisa senyum-senyum, sendiri, membayangkan kemenangann nilai A++ ada didepan matanya setelah ia membuat kliping yang baru.


Bel masuk berbunyi, kelas mulai penuh, tapi tulang hidung Michelle belum terlihat. Hisa ingin segera minta maaf karena meminjam pensil warna nya tanpa ijin. Hisa mencantumkan beberapa kalimat di gambarnya, "Semoga persahabatan kami tidak pecah hanya karena manusia busuk." dan "Semoga gambar ini bisa menjadi berkah tuhan agar nilai seni rupaku menjadi bagus." setelah ia menulis, dia meninggalkan kertasnya dan pergi ke kamar mandi.

Beberapa langkah kaki ia meninggalkan kelas, terdengar suara guru seni rupa yang berteriak...


BERSAMBUNG

part 1 (2.2)

"Jadi sekarang gimana, Kak? Mau beli yang baru?" tanya Syma kepada kakaknya yang hampir menangis karena tidak bisa melihat apa-apa. Makanan yang hendak diambil selalu meleset dari sendok yang ia pegang. Kacamata yang kemarin pecah adalah kacamata satu-satunya yang Hisa punya. Ibunya membeli kacamata tersebut dengan harga tujuh puluh sembilan ribu. Dan bagi mereka, jumlah itu sangatlah besar.
"Mungkin bisa beli yang baru, tapi ditempat lain yang lebih murah. Tabungan kakak baru ada 45 ribu." kata Hisa dengan pasrah sambil mengelap mukanya dengan handuk basah. Berharap setelah ia mengelap muka dan matanya, semua pandangan yang dia lihat bisa kembali normal.
"Apa nanti kamu mau ayah kasih tambahan duit?" kata sang ayah yang tiba-tiba datang. Pintu rumah ternyata lupa dikunci dari kemarin malam, dan ayahnya baru pulang jam setengah 5 pagi. Berkeringat, derdebu, terlihat mengantuk, tetapi jam 6 sudah harus kembali berkerja. "Hari ini ayah mendapatkan bonus dari tetangga, dari 10 ribu menjadi 30 ribu. Lumayan kan?" lanjutnya.
"Tidak usah, Yah." jawab Hisa dengan cepat, masihmengunyah makanannya. "Kalau hari ini ayah memberiku uang jajan seperti biasa, aku masih bisa menabung." lalu Hisa menelan makanannya. Biasanya Hisa diberi uang jajan lima ribu perminggu dari ayahnya. "Aku berjanji aku tidak akan jajan sama sekali. Demi kacamata baru." lanjut Hisa.
Ia meminum setengah gelas air putihnya, lalu beranjak dari kursi dan pergi kekamar. Tidak ada kemungkinan ia bisa tertabrak tembok, karena jarak ruang makan, ruang TV, kamar mandi, dan kamar masing-masing seakan bisa dijangkau dengan 3 langkah kekanan atau kekiri. Hisa membuka pintu kamar dan duduk di kursi kayunya yang reot. Melihat kearah tumpukan buku di meja bambu yang sudah penuh dengan goresan. Mencari-cari buku catatan fisika, biologi, kimia, dan PKn. Lalu memasukan semua buku tersebut kedalam tas. Sekarang masih jam 5 pagi. Hisa pergi ke luar rumah dan duduk dikursi terasnya yang hampir patah. Mengepalkan kedua tangannya sambil berdoa. Lalu menangis.

Syma melihatnya melakukan kegiatan yang rutin setiap hari. Tanpa mengetahui apa alasan kakaknya bisa menangis saat berdoa. Mengapa setiap hari? Mengapa harus menangis? Mengapa tidak cerita kepadanya? Syma menganggap semua orang dikeluarganya gila. Tetapi disisi lain, tanpa keluarganya ia tidak akan bisa apa-apa. Dan sekarang Syma menganggap dirinya sendiri gila. Ia melihat kearah kakaknya lagi. Sudah berhenti menangis. Syma cepat-cepat masuk kedalam kamar kakaknya dan mengambil tas sekolahnya. Ketika Hisa masuk, Syma memberikan tasnya.
"Kakak pergi dulu ya, Dek. Takutnya terlambat. Tolong bangunin ayah, udah waktunya kerja nih. Bilang ke ayah uang lima ribunya udah kakak ambil ya. Pagi." kata Hisa sambil menggunakan tasnya dan pergi keluar rumah, tanpa sepeda, tanpa kacamata.
Sekarang Syma tahu kenapa kakaknya pergi secepat ini. Dia berjalan kaki menuju sekolah.

Hisa sampai tepat pada jam 7 pagi, penuh keringat, nafas tak teratur, muka merah, dan rambut berantakan. Pagar sekolah hampir ditutup, tetapi Hisa menahannya, lagi-lagi semuanya tampak disengaja. Seakan-akan Hisa tidak diterima dilingkungan sekolah itu. Tepat dibelakangnya turunn Michelle dengan mobil Alpardh nya. Terlihat cantik dengan pakaian muslim bebas dan rok abu-abu yang ia kenakan. Menyapa Pak Satpam dengan gigi-gigi rapih, putih, dan berbehel. Berbeda jauh dengan Hisa. Dan untuk sang artis, pagar sekolah dibuka dengan lebar, seakan-akan mobil yang Michelle punya akan ikut memasuki taman sekolah.

Michelle meraih tangan Hisa dan menariknya kedalam kelas. Terlihat semua orang melirik pandangannya ke arah mereka berdua, mulai berbisik, merubah ukuran mata, dan tertawa. Mereka berdua duduk dibarisan kursi dekat pintu.
"Percaya padaku kau lebih terlihat cantik jika tidak memakai kacamata!" Michelle mengucapkan kata-kata itu dan membuat Hisa terloncat dari tempat duduknya, kaget. "Matamu sudah sembuh? Berapa tadinya? Minus 3? Eh, 5 ya?" lanjut Michelle dengan muka girang. "Atau kamu pakai softlens? Cantik loh!" Michelle seperti cacing kepanasan yang tidak bisa berhenti minta tolong.
"Nggak, Chelle. Kacamataku patah kemarin pas kamu nggak masuk. Terus tadi kan aku nggak bisa liat apa-apa, makanya aku kesini jalan kaki." jawab Hisa membuat Michelle merasa bersalah.
"Oh... gitu ya? Hehe. Maaf ya, Sa. Sumpah aku kira kamu pake softlens. Emang kacamat..."
"Chelle, lo dipanggil sama Pak Solar tuh. Gatau mau ngapain tapi disuruh cepetan." kata Tiyo menyelak pembicaraan. "Mending lo pergi cepet-cepet dari pada deket-deket sama orang kumel" bisik nya dengan suara yang dikencangkan dengan sengaja.

Beberapa menit setelah Michelle pergi, guru IPA fisika datang dengan muka mengantuk. Guru itu tidur dimeja guru depan kelas, dan kelas IPA-3 mulai berisik. Ini kesempatan Hisa untuk menenangkan matanya. Ia tertidur dimeja


BERSAMBUNG KE PART 2

Part 1 (1.2)

Terdengar bunyi angklung dari arah meja makan. Hisa terbangun, sekarang baru jam 4 pagi dan ibunya sudah bangun. Seperti biasanya, ibunya bermain angklung selama 17 jam dalam sehari. Bukan karena tidak ada kerjaan, tapi ibu nya sudah seperti terkena hipnotis semenjak nenek pergi. Nenek adalah penjual angklung terlaris dikompleknya, komplek bututnya yang penuh dengan orang sombong, jorok, dan kampungan. sudah berkali-kali keluarga Hisa mencoba pindah rumah, disayangkan tidak punya biaya. Adik Hisa, Syma, tidak sekolah. Ia memilih membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Lagi pula adiknya tidak ingin menyusahkan orang tuanya yang tidak berkecukupan dengan pergi kesekolah. Beda dengan jalan pikiran Hisa, ia memaksa sekolah agar bisa membanggakan orang tuanya dikemudian hari. Sekolah Hisa memang bagus, tapi ia bisa masuk berkat beasiswa dari SMP. Beasiswa memang tidak dicabut, tapi kondisinya berubah semenjak ia menginjakan kaki di kursi SMA. Ia duduk dimeja makan dan berdoa dengan kushu, meminta pertolongan tuhan agar hari ini menjadi lebih baik daripada kemarin, lalu ia berdoa agar tuhan memberkahi makanan yang ada didepan matanya. Bukan nasi dengan telor, ataupun nasi denngan sosis, yang ada hanyalah kerupuk warna-warni, kecap, dan air putih yang diambil dari air keran. Ibunya berjualan tempe, tapi dagangannya kurang laku karena cita rasa yang berubah, maklum, sekarang yang bekerja adiknya. Sedangkan ayah, bekerja sebagai kuli di daerah sekitar rumahnya, digaji oleh tetangganya, dan upah yang diberikan hanya sepuluh ribu perhari. Tapi hal buruk yang menimpa orang tuanya tidak membuat Hisa jatuh. Ia tidak peduli dengan teman-temannya yang membawa bekal makan restaurant yang sering dia dengar dengan sebutan HokBen, atau yang disebut-sebut dengan AW. Ia hanya iri dengan teman sekelasnya yang berteman satu sama lain, karena ia tidak punya teman, kecuali teman sebangku nya, Michelle.


Michelle adalah perempuan yang tidak kalah cantik dengan Hisa. Memiliki keturunan arab dan Belanda, baik hati, pintar, kreatif, dan tidak sombong. Ia sering membantu Hisa disaat kesusahan, dan selalu membuat Hisa merasa lebih senang disaat Hisa sedang gembira, intinya, Michelle sudah seperti malaikat penyelamat bagi Hisa. Michelle adalah seorang model sekaligus artis disekolahnya. Jarang-jarang Michelle dan Hisa bisa bertemu, karena itu Hisa lebih sering sendiri dikelas, karena tidak ada yang mau berteman dengan Hisa. "Apa kalian tidak sadar dia sangatlah bau?" hal itu yang paling sering didengar oleh Hisa. "Bisakah kalian menemukan merek pada tas atau sepatu nya? Astaga aku lupa dia pakai sendal" hal ini yang sering didengar di kalangan Michelle. "Kamu kena santet sampai bisa berteman dengan orang seperi dia?" hal ini yang paling menyakiti hati Hisa, ia sering mendengar cerita terusebut dari Michelle. Tapi semua kata-kata busuk yang diucapkan teman-teman Michelle tidak membuat Michelle menjauh dari Hisa. MIchelle tidak membela, tidak memihak, ia ingin berteman dengan semua orang disekolahnya.


Hisa adalah anak pintar disekolahnya. Ia mendapat beasiswa dan diakui oleh kepala sekolah. Tapi yang tidak ia tahu, mengapa guru-guru tidak menganggapnya sebagai murid berprestasi ataupun murid teladan. Nilai rata-rata rapot Hisa selalu paling tinggi, tapi ia tidak pernah mendapat rengking 1 dikelasnya. Nilai matematikanya selalu perfect, dan ia memenangkan lomba hitung algoritma se-nasional dengan membawa nama sekolah. Ia juga memenangkan lomba baca puisi Bahasa Indonesia dan pidato Bahasa Inggris dengan membawa nama sekolah. Selain itu Hisa juga pernah menemukan penemuan baru yaitu sebuah boneka beruang yang dapat menghasilkan madu dari mulutnya. Bertumpuk-tupuk piagam, bertumpuk-tumpuk penghargaan, semua itu tidak dihargai oleh pihak sekolah. Iya, sekolah menyimpan piala. Iya, sekolah dipandang hebat oleh orang-orang luar, tetapi nama Hisa tidak pernah dicantumkan dalam perlombaan. Pembina atau guru yang mendampingi Hisa saat perlombaan menyuruh nya untuk mengganti namanya menjadi nama murid lain nya. Beruntung tidak terlihat kebohongan nya. Karena jur-juri perlombaan tidak pernah memperhatikan wajah Hisa, hanya mendengar atau melihat hasil karyannya, menilai, memberi score dan menetapkan menjadi juara, tanpa pernah mengingat mukanya, sebanyak apapun Hisa mengikuti lomba. Karena Hisa selalu memakai dan-danan orang yang super dekil saat mengikuti lomba. Dan kemenangan lombanya itu tidak pernah diumumkan disekolah. Selama 1,5 tahun Hisa bersekolah di SMA, selama 1,5 tahun juga ia merasa tidak adil, karena teman sekelas yang mendapat rengking 1 hanyalah anak-anak orang kaya. Entah apa tujuan nya.


Faktor iri pada hati Hisa lah yang membuatnya terus belajar lebih giat belajar. Dan lama-kelamaa wajahnya yang cantik tidak terlihat lagi, terlalu banyak kerutan didahinya saat membaca buku pelajaran. Terlalu membuat mual meja belajarnya yang penuh dengan snack dan cemilan sehat yang tidak pernah membuat nya gemuk. Terlalu suntuk melihat mata merah berair nya yang ditutupi kacamata, dan tidak ditutupi kacamata lagi semenjak kacamatanya pecah.......

BERSAMBUNG

prolog

* "Tapi kliping ini sudah saya buat dengan susah payah dan saya tidak mengcopy dari internet, Pak! Saya menggunakan otak saya sendiri dan hasil nya bisa mencapai 756 halaman!" terdengar suara dari ruang guru. Semua orang kenal suara tersebut, tidak lain itu adalah suara Hisa Anastasya, yang biasa dipanggil Hisa. Anak perempuan kelas 2 SMA yang terobsesi dengan pelajaran Seni Rupa. *


Perempuan itu berjalan ke taman sekolah. Membenci dirinya sendiri dan merasa dirinya penuh dengan kesalahan. Mukanya berubah merah menahan tangis, kini rambutnya yang dikepang mencuat-cuat, begitulah kondisi fisiknya jika sedang menahan tangis. Kacamatanya berembun, terkena udara panas yang dihembuskan lewat hidungnya. Dia tidak bisa berhenti membolak-balik halaman klipingnya. Dia rasa semuanya sudah lengkap, dia rasa semua syarat sudah terpenuhi, tapi dengan santai gurunya memberi dia nilai C- pada cover klipingnya, dan hal itu membuat dia sakit hati.

Perempuan cantik itu membuka seleting tasnya, berharap bisa menemukan sisir yang sudah lebih dari 7 tahun tidak ia cuci. Banyak rambut nyangkut, berdebu, dan berbau tidak sedap. Dan seperti biasa, ia tidak menemukannya untuk kelima kalinya dalam hari ini, dia lupa membawa sisirnya, dan yang ia bawa adalah sabun cuci tangan berbentuk bunga. Entah bunga apa itu bentuknya. Dia melepas kuncir rambutnya, berusaha menyisir rambutnya dengan kukunya yang bentuknya tidak karuhan, sudah 3 jari yang ia gigiti kukunya hari ini, kemarin sudah 6 dan hal ini lah yang membuatnya tidak bisa naik berat badan, cacingan. Termasuk hobi, menggigit kuku dikala stress menghampiri. Rambutnya tetap berantakan, masih berbentuk bergelombang karena bekas dikuncir. Poninya tidak kalah hancur, sekarang bentuk poninya belah tiga, satu bagian menutupi mata sebelah kanan, satu bagian menutupi mata selebah kiri, dan satu bagian lagi menutupi tulang hidung. Tidak heran jika semua orang yang lewat melihat kearahnya. Karena penampilan nya yang sangat buruk masih bisa didukung dengan seragam batik biru yang sebenarnya bati SMPnya, sedangkan sekarang dia sudah SMA. Tidak banyak orang yang mengenalnya. Dia hanya mempunyai 1 teman yang baik hati menerimanya dilingkungan masyarakat. Tapi orang itu lebih mementingkan temannya yang lain dari pada dirinya. Sebenarnya banyak yang engenalnya, hanya saja dia dikenal dengan nama aneh yang sering disebut-sebut "GASET", dan dia tidak tahu menngapa dia dipanggil seperti itu.

Ia ingin cepat-cepat pulang, tapi bel pulang masih lama, dan ia tidak betah menunggu karena 2 jam pelajaran terakhir gurunya tidak ada. Kabarnya ayah dari guru tersebut meninggal dunia, dan dia adalah satu-satunya anak kelas IPA-3 yang tidak diundang untuk pergi ke acara pemakaman tersebut, alhasil, dari pelajaran pertama sampai terakhir dia bergabung belajar bersama IPA-4, dan semua murid di kelas IPA-4 mempersilahkannya duduk dilantai. Guru pun tidak peduli, karena bagi guru lebih penting uang karena mengajar dari pada muridnya yang sudah buang angin lebih dari 7 kali yang disebabkan masuk angin karena duduk dilantai selama berjam-jam. Perempuan itu menoleh kesebelah kanannya, terdapat masjid besar dan orang-orang berkumpul disana, sulit dipercaya hanya dialah satu-satunya murid yang beragama kristen diangkatannya. Melihat kearah tangan kiri, kearah jam tangan. "Masih satu jam lagi" bisiknya, dan saat ia berbisik, senior lewat dan melirik sinis kearahnya. Rasanya ia ngin masuk kedalam kelas IPA-3 agar mendapatkan kursi, sayangnya kelas tersebut dikunci. Jadi dia harus berpanas-panasan duduk dikursi tengah taman sekolah, karena tempat teduh lainnya sudah ditempati oleh murid-murid lainnya, semua tampak disengaja.

Sekarang ia berdiri, mengambil sepeda bututnya dan menggoesnya kearah luar sekolah. Rindu rumah, rindu bisa duduk ditempat nyaman. Dan ketika ia hendak keluar pagar, Pak Satpam membuka pagar lebar-lebar dan tertawa, semua anak di taman bertepuk tangan dan bersorak gembira karena perempuan itu pergi. Dan ketika sudah 10 meter ban sepedanya menjauh dari sekolah, air mata perempuan itu jatuh, beserta dengan kacamatanya. Pecah, patah, belum bisa membeli kacamata baru, airmata yang keluar semakin banyak dan pandangan semakin buram. Akhirnya ia tertabrak tiang lampu merah, jalanan sepi. Beruntung tidak malu dilihat banyak orang, sial karena tidak ada yang bisa menolong.

"Mungkin ini lah takdir anak perempuan miskin yang dilahirkan tanggal 13 bulan 4" bisiknya sambil merintih kesakitan, berusaha berdiri, dan melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki.





BERSAMBUNG