Terlihat sesuatu yang menyinarkan mata. Gambar yang luar biasa sangat biasa itu Michelle sulap menjadi luar biasa cantik. Dari mana warna-warna yang ia gunakan itu? Menakjubkan. Bukan beruang hutan, bukan bayi beruang. Patung beruang mungkin iya. Warnannya merah ke-emasan. Rumput-rumputnya berwarna jingga, jingga kehijauan. Siapa yang pernah terlintas untuk membuat dan mencampurkan warna seaneh, selangka itu? Kecuali Michelle yang telak membuat Hisa iri stadium akhir.
Hisa membandingkan lukisannya dengan lukisan Michelle. Sama. Tapi Michelle melebihi Hisa –sedikit. Dari segi sketsa Hisa memang melebihi Michelle. Tapi dari segi warna, Hisa kalah, dan warna menentukan segalanya. Hisa merasa punya saingan. Sahabatnya sendiri.
“Michelleeeee curang aaaaah!” Hisa mengeluh dan hampir menangis.
“Nggak kok gacurang! Curang kenapa, Sa?” Michelle kebingungan.
“Lukisan kamu lebih baguuuus! Nanti kalau aku gadapet pendapatan kamu dapet kan akunya gimana? Ah Michelle curaaaang! Michelle kan udah kaya jadi....”
“Ah Hisaaaaa ini kan kalau sampai dapet uang juga bakalan aku kasih ke kamu, Sa.” Michelle menyelak pembicaraan. “Kamu kalau mau bisa ngewarnain kayak begini kamu banyak-banyak ngayal aja, Sa. Aku tadi ngebayangin kamu pake gaun merah sore-sore dipadang rumput, gitu. Ya aku kasih aja warna kayak begitu.”
“Kamu nggak bilang-bilang sih, Chelle. Hem...nanti-nanti kita bikin gambar bareng lagi ya hehe.” kata Hisa.
Tiba-tiba terdengar suara bel dari depan pagar rumah Michelle. Sekarang jam 6 sore. Berarti bukan ayah atau ibunya yang pulang. Tukang cat, ya tukang cat. Rumah bagian lantai 1 akan di cat ulang dibagian ruang makannya. Ruang makan dirumah Hisa ada 3 bagian, 1 untuk sarapan, 1 untuk makan siang, dan sisanya untuk makan malam. Kata Michelle, ruang makan untuk makan malamnya akan dicat seperti hasil foto kembang api yang diambil dari kamera SLR, tidak memakai wallpaper, asli cat tangan.
Michelle mengajak Hisa untuk mengawasi pewarnaan temboknya. Indah, mengagumkan. Membuat iri. “Kapan aku punya rumah seperti ini?” pikir Hisa dalam hati. “Asik ya jadi Michelle, hidupnya menyenangkan, penuh warna, rumahnya juga penuh warna, aku iri.”
“Sa, kenapa, Sa?” tanya Michelle agak kawatir.
Michelle melihat muka Hisa yang berubah menjadi merah muda, mulutnya terbuka 2cm, air liurnya menggenang diujung bibir, matanya melotot, dan..... 1 butir air liur jatuh dari bibirnya.
“HISA ANASTASYA!” Michelle teriakdikuping Hisa, kencang, mengagetkan, dan Hisa tersedak airliurnya yang ia telan sendiri. “Ih kamu kenapa, Sa? Kayak kesurupan deh.”
“Bukan, Chelle, bukan kesurupan. Aku cuma iri aja. Curang banget sih Tuhan pilih kasih. Masa cuma orang-orang cantik kayak kamu doang yang bisa punya rumah kayak begini. Aku kan juga mau.” jawab Hisa.
“Tergantung rejeki, Sa. Gaboleh bilang Tuhan pilih kasih, ya, lain kali!” Michelle mengingatkan Hisa.
“Hem....Chelle. Kapan ya aku bisa penuh warna kayak kamu gitu?” Hisa membuat pertanyaan aneh yang membingungkan.
“Aku penuh warna? Maksudnya?” tanya Michelle
BERSAMBUNG


